Be Mine

Be Mine
Ulang Tahun Mega part 1



Arthur naik ke lantai atas karena dia akan bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun adiknya.


Saat membuka pintu kamar, Arthur melihat Kiara sedang berusaha menaikkan resleting gaun yang diberikan oleh Arthur. Ya! Kiara ternyata mau memakai gaun dari Arthur, dan entah apa yang nanti dia akan katakan jika ditanyai dari mana dia bisa membeli gaun semewah itu?


"Dia membelikan gaun, kenapa susah sekali aku memakainya," gerutu Kiara. Namun, beberapa detik kemudian, Kiara terdiam saat sentuhan lembut dan terasa dingin menyentuh kulit punggungnya.


Kedua mata Kiara membulat sempurna tatkala dia melihat pada pantulan cermin di depannya. Arthur suaminya itulah yang tengah menatapnya dengan tatapan yang Kiara takuti, tapi dia menyukainya.


"Cantik sekali," Arthur membisikkan lembut tepat pada telinga Kiara, dan dia sudah merasakan resleting yang berada tepat di punggungnya sudah tertutup dengan sempurna.


"Arthur, aku memakai gaun ini karena bajuku ternyata sudah tidak kuat lagi denganku, dan tidak ada lagi waktu jika aku harus mencari baju untuk dipakai ke acara ulang tahun Mega."


Arthur tidak menjawab, tapi dia kemudian melingkarkan kedua tangannya pada perut Kiara. Dan lagi-lagi kedua mata Kiara mendelik.


"Aku tidak peduli dengan alasan yang kamu katakan. Kiara, aku hanya ingin bilang kalau kamu cantik sekali memakai gaun itu.


Tidak hanya memeluk, tapi Arthur juga mendaratkan kecupan lembut pada pipi Kiara yang lagi-lagi membuat gadis itu terkejut, tapi tidak memberontak.


"Arthur, kamu segera berganti baju karena aku tidak mau terlambat datang ke sana."


"Iya, kamu tunggulah dulu." Arthur melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Huft!" Kiara seketika bernapas lega melihat pria itu masuk ke dalam kamar mandi. "Jantungku rasanya tidak karuan. Dia itu manusia atau manusia yang memiliki sengatan listrik, sih? Kenapa saat dia bersikap seperti itu, ada yang menjalar aneh di sekujur tubuhku?"


Kiara tampak bingung sendiri. Dia sekarang duduk di atas tempat tidur untuk mencoba memakai sepatu yang dibelikan oleh Arthur.


"Sepatu ini pas sekali di kakiku. Dia kenapa bisa tau juga ukuran sepatuku?" gerutu Kiara.


Tidak lama Arthur keluar dari kamar mandi dan dia masuk ke lemari besar miliknya. Kiara hanya melihati pria itu. Sampai akhirnya Arthur keluar sudah dengan penampilan rapinya.


Kiara melihat suaminya dari atas sampai bahwa dan dia menyadari jika suaminya terlihat sangat tampan malam ini.


"Jangan melihatku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta denganku," celetuk Arthur sembari memakai jam tangannya.


"Hah! Siapa yang melihatimu?" Kiara langsung pura-pura menundukkan kepalanya memakai sepatu, padahal sepatunya sudah terpasang dengan baik di kakinya.


Arthur memang tampil sangat gagah dan tampak tampan dengan setelah kemeja hitamnya yang beberapa kancing atasnya terbuka.


"Apa kamu sudah siap?"


"Aku sudah siap, tapi apa kita akan datang ke sana berdua?"


"Huft!" Arthur seolah malas memikirkan harus kucing-kucingan terus seperti ini. "Nanti aku turunkan kamu di tempat yang agak jauh dari hotel itu dan kamu bisa berjalan menuju hotelnya. Bagaimana?"


"Em ... bagaimana kalau aku naik mobil online saja sampai ke sana?"


"Apa? Tidak boleh!"


"Tapi Arthur."


"Kalau begitu tidak perlu datang ke sana," ucapnya tegas.


Kiara seketika terdiam dan akhirnya dia menurut saja, walaupun hatinya terasa dongkol.


Arthur dan Kiara berada di dalam mobil. Kiara tampak senang melihat kado yang sudah dia persiapkan untuk sahabatnya itu.


"Mega pasti senang mendapat kado itu."


"Iya, dan aku selalu berharap, walaupun nantinya kami bukan satu sekolah lagi, dia tidak akan pernah melupakan aku sebagai sahabatnya."


"Tentu saja kalian bisa selalu dekat. Bukannya dia adalah adik iparmu."


Kiara hanya terdiam, dan mobil berjalan menuju hotel mewah di mana ulang tahun Mega dirayakan.


Kiara berjalan dari tempat Arthur menurunkannya. Arthur ingin memastikan Kiara masuk ke dalam hotel dengan aman, tapi Kiara menyuruh langsung ke hotel saja agar tidak ada yang tau mereka datang bersama.


"Kakak ...!" Mega langsung memeluk kakaknya itu.


"Selamat ulang tahun, Mega."


"Terima kasih, Kak. Aku juga mau mengucapkan terima kasih sekali atas kado yang Kakak Arthur berikan, aku benar-benar menyukainya."


"Aku senang jika kamu menyukainya."


Tidak lama Mega melihat ke arah pintu di mana sahabatnya berjalan menuju ke tempatnya.


"Kiara?" Mega mendelik melihat penampilan sahabatnya yang malam ini terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Selamat ulang tahun, Mega."


"Kiara? Kamu ini benaran Kiara?" Mega tidak percaya jika gadis di depannya ini adalah sahabatnya.


"Iya, aku Kiara, Mega. Memangnya ada apa?"


"Oh Tuhan! Kamu cantik sekali dengan gaun ini." Mega melihat Kiara dari atas sampai bawah.


"Terima kasih, tapi di sini kamu yang paling cantik, Mega."


"Gaun yang indah dan pasti ini sangat mahal harganya." Kedua mata Alexa menatap curiga pada Kiara.


"Iya, ini pasti mahal harganya, Kiara."


"Siapa yang membelikan kamu gaun seindah dan semahal ini, Kiara? Apa uang simpan ibumu kamu belikan gaun ini?"


"Gaun ini tidak mahal, Tante. Ibuku pernah menabung untuk menjahitkan baju ini agar bisa aku pakai saat acara pesta kelulusan sekolah nantinya."


"Wow! Mendiang ibu kamu keren sekali!" pujian Mega.


"Jadi ini ibu yang sudah memberikannya?"


Kiara hanya asal ceplos saja dengan kebohongannya, dan semoga keluarga Mega percaya dengan apa yang Kiara katakan.


"Sudahlah, Ma. Kenapa kita jadi membahas gaun yang Kiara pakai? Kiara, di tangan kamu itu apa? Kado untuk Mega?" Arthur sengaja mengalihkan pembicaraan tentang gaun Kiara.


"Iya, ini kado untuk kamu, Mega. Maaf jika kadoku tidak semahal kado yang kamu terima."


"Kado untukku?" Kedua mata Mega membulat senang. Kiara memberikannya dan dengan cepat Mega membuka kado itu. "Wah! Ini bagus sekali! Kamu yang membuatnya sendiri?"


"Iya, aku yang membuatnya sendiri dan ini ada kalung yang ingin aku berikan untuk kamu."


Mega melihat kalung dari emas putih yang sangat cantik. "Ini bagus sekali, Ara.Terima kasih!" Mega memeluk Kiara dengan erat.


"Aku senang kamu menyukainya."


"Tapi kenapa kamu membelikan ini, pasti ini harganya mahal."


"Tidak apa-apa, aku memang sudah menabung agar bisa membelikan kamu kalung ini. Apa kamu mau memakainya?"


"Tentu saja!"


Mega yang ingin memakai kalung itu dihentikan tangannya oleh mamanya. "Mega! Nanti saja kamu pakai. Kamu itu sudah memakai kalung pemberian mama yang sangat mahal."


Kiara seketika wajahnya tampak agak kaget dengan sikap mamanya Mega.


"Kamu simpan saja dulu, Mega."


"Pasti aku akan menyimpan dan nanti memakainya, Kiara."


Kiara juga dikenalkan oleh ayah Mega yang Kiara sendiri baru kali ini melihat langsung sosoknya.