
"Nanti aku jemput kamu," ucap Arthur cepat yang melihat Kiara akan turun dari dalam mobilnya.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri, Arthur."
"Pulang dengan Elang? Apa perlu aku bicara empat mata dengannya?"
Kiara tidak tau harus berkata apa-apa. "Nanti kalau menjemput jangan di sini, tapi di tempat biasanya saja. Aku tidak mau Mega atau teman-temanku mengira aku jalan sama Om-om setelah putus dengan Elang."
"Bilang saja kamu takut kalau aku nanti ada yang menyukai."
"Hal itu yang memang aku harapkan, agar kamu bisa melepaskan aku."
"Kamu harus berusaha lebih keras lagi, Kiara." Tangan Arthur lali menjulur ke arah gadis yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam. "Cium tangan dulu istriku kalau mau berangkat sekolah."
Kiara tidak mau berdebat lebih lama dengan pria di depannya itu. Dia segera mencium punggung tangan Arthur dan berjalan keluar dari mobil Arthur.
"Kiara!" Sebuah suara seseorang dari arah belakang Kiara.
Arthur yang mengetahui jika Mega memanggil Kiara, dia segera turun dari mobil. "Hai, Mega," sapanya sembari memeluk adiknya itu.
"Kakak? Kenapa Kiara bisa ikut di dalam mobilmu dan kamu mengantarnya ke sekolah?" Tatap Mega bingung.
Begitupun dengan Kiara yang juga kaget mendengar pertanyaan Mega, bukannya tadi Arthur bilang jika Mega yang menyuruh menjemputnya, tapi sekarang kenapa Mega malah bingung mengetahui Arthur datang dengan Kiara?
"Tadi aku kebetulan ada meeting pagi di kantor. Jadi, aku berangkat lebih pagi dan rumahku 'kan melewati rumah Kiara. Aku tawari saja dia sekalian untuk ikut."
"Oh iya, benar juga. Kalau begitu mulai hari ini kamu jemput saja Kiara di rumahnya dan antarkan dia ke sekolah, Kak. Motornya itu sering rusak, dan daripada naik angkutan umum atau menyusahkan Mba Tami, lebih baik susahkan saja Arthur." Mega malah terkekeh.
Kiara sekarang tau jika tadi ucapan Arthur berbohong padanya. "Aku bisa berangkat sekolah sendiri Mega, lagi pula motorku sebentar lagi pasti sudah selesai diperbaiki." Kiara melihat ke arah Arthur.
"Mega, kalau begitu aku pergi dulu karena aku harus segera pergi ke kantor." Arthur memeluk sekali lagi adiknya dan dia melihat pada Kiara. "Kiara, belajarlah yang rajin agar bisa segera lulus dan mendapat nilai yang baik." Tangan Arthur menelapak pada kepala Kiara.
"Terima kasih, Arthur." Kiara melirik kesal pada Arthur. Inginnya dia menyingkirkan tangan Arthur tadi dari atas kepalanya.
Kiara dan Mega naik ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran hari ini. Saat pelajaran dimulai, mereka semua tampak fokus mengerjakan latihan soal-soal untuk ujian.
"Kiara, kamu baik-baik saja 'kan?"
"Aku tidak apa-apa, Mega." Kiara menyedot es jeruknya. Mereka ini sedang jam istirahat dan berada di kantin sekolah.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa wajah kamu seperti itu? Apa kamu merindukan ibumu? Atau memikirkan masalah dengan Elang?"
"Keduanya, Mega, dan aku juga harus memikirkan nasib toko kue itu bagaimana nanti jadinya? Bahkan tentang kehidupanku."
Kiara sebenarnya tau jika Arthur pasti akan mengurusi tentang masa depannya, tapi bagi Kiara, selama dia mampu berdiri dengan kakinya, dia tidak akan meminta bantuan siapapun. Apa lagi Arthur, Kiara tidak akan mau begitu saja menerima bantuan darinya.
"Lalu, apa rencanamu? Apa kamu meneruskan toko kue itu? Bukannya mba Tami dan kamu sendiri bisa membuat kue yang biasa dijual oleh ibumu. Teruskan saja toko kue itu."
"Iya, ya. Sekarang banyak sekali saingan orang berjualan kue dan aku minta maaf, ya Kiara. Mereka memiliki toko kue dengan desain unik dan bagus-bagus. Kadang mereka rubah seperti sebuah cafe yang banyak anak-anak seumuran kita datangi."
Kiara mengangguk perlahan mengiyakan ucapan sahabatnya. "Oleh karena itu aku menjadi bingung. Apa nanti setelah lulus aku mencari pekerjaan saja? Uangnya nanti bisa aku gunakan untuk memperbaiki pelan-pelan toko kue itu."
"Hem! Kamu mau kerja apa? Lulusan SMA itu masih sulit untuk mencari pekerjaan, Kiara."
"Apa saja, asal bukan pekerjaan yang tidak baik."
Mega juga bingung kalau begini. Dia setelah lulus sekolah langsung kuliah, tapi tidak dengan Kiara. Kiara bingung, apa lagi dia sudah ditinggal kedua orang tuanya.
"Eh, Ara, itu ada Elang jalan ke arah kita," bisik Mega perlahan.
"Biarkan saja Mega, atau kita pergi saja dari sini dan pura-pura tidak melihatnya.".
"Jahat sekali kamu. Ra, jangan seperti itu, apa kamu tidak kasihan dengannya? Bagaimanapun juga kalian dulu adalah pasangan yang sangat ideal. Kalian putus juga bukan karena keinginan kalian sendiri, tapi karena mamanya Elang."
"Lebih baik aku hindari atau berbuat tega sama dia karena dengan hal itu Elang akan membenciku dan bahkan akan melupakanku."
Kiara berjalan pergi dari sana. Elang yang melihat hal itu dengan cepat memacu kaki dan tongkatnya mengejar Kiara. "Kiara, tunggu!"
Namun, Kiara tidak memperdulikannya, hingga akhirnya Elang terjatuh karena terlalu terburu-buru.
"Elang, kamu tidak apa-apa?" Mega membantu Elang berdiri dari tempatnya.
"Kiara kenapa bersikap seperti itu padaku? Aku sudah mengatakan akan memperjuangkannya walaupun mamaku tidak menyetujui hubungan kami."
"Kiara tidak mau kamu menjadi anak durhaka pada kedua orang tua, Lang. Lang, kamu berusahalah untuk melupakan Kiara karena Kiara sudah mengambil keputusan yang bulat." Tangan Mega menepuk pundak Elang.
"Aku tidak bisa melupakan Kiara begitu saja, Mega." Elang bangkit dan berjalan pergi dari sana dengan tongkatnya.
Mega yang melihat hal itu merasa kasihan sekali padanya. Mega ingat mamanya Elang pernah berpesan waktu itu pada Mega agar menjauhkan Elang dari Kiara, tapi Mega tidak mungkin melakukan hal itu karena di satu sisi Kiara adalah sahabatnya, tapi di sisi lain mamanya Elang adalah sahabat mamanya Mega.
"Pacaran itu kenapa serumit ini," dialognya sendiri.
Pelajaran kembali dimulai, dan anak-anak kembali fokus pada mata pelajaran yang diberikan oleh wali kelas mereka.
Wali kelas Kiara dan Mega memberitahu jika ujian nasional akan dilaksanakan Minggu depan. Jadi, mereka semua harus giat belajar dan tetap tidak lupa berdoa.
"Kiara, kamu harus tetap semangat untuk menghadapi ujian ini. Ibumu pasti bangga jika kamu nanti mendapatkan nilai yang terbaik di sekolah.
"Iya, Pak."
Bel pulang dibunyikan. Semua anak-anak keluar dari kelasnya masing-masing, dan sebelum Mega bertanya Kiara pulang dengan siapa, Kiara mengatakan akan pergi ke suatu tempat untuk membeli sesuatu yang akan dibutuhkan di acara doa untuk ibunya.