Be Mine

Be Mine
KebahagIan Kecil Mereka



Kiara masuk ke dalam kamar mandi, dan pria bernama Arthur itu menatap tajam pada seragam milik Kiara.


Dia ingin sekali membakar seragam itu, tapi sekali lagi dia berpikir jika di seragam itu ada kenang-kenangan tulisan dari teman-teman Kiara bahkan dari adiknya, apa hanya karena kata-kata yang dituliskan mantan kekasih Kiara dia harus membuang kenangan terakhir dari teman-teman istrinya?


Arthur memegang baju seragam itu. Jika dibilang Arthur tidak terganggu, dia sebenarnya terganggu, tapi tetap sekali lagi dia berpikir tentang ada hal lain di seragam itu.


Arthur menghubungi seseorang agar datang ke lantai apartemennya. Kiara yang keluar dari kamar mandi melihat ada seragamnya yang sedang dipegang oleh Arthur.


"Mas, kamu kenapa memegang seragamku?" tanya Kiara sembari mengeringkan rambutnya.


Arthur menutup panggilannya, dia mendekat pada istrinya. "Aku akan menghilangkan tulisan yang dibuat oleh Elang."


"Apa kamu mau membuang bajuku?"


Arthur tersenyum miring. "Tidak, kamu tenang saja. Gantilah baju, aku tunggu di bawah." Arthur mengecup pipi Kiara dan dia turun dengan membawa seragam Kiara.


"Apa yang mau dia lakukan? Tadi katanya tidak masalah. Dia sangat mencintaiku, dan pasti tulisan Elang itu sangat mengganggunya. Sok kuat dan tidak peduli, padahal dia sangat pencemburu, tapi aku sangat menyukai sifatnya itu." Kiara malah tersenyum senang sendiri.


Setelah berganti baju, Kiara turun untuk makan siang dengan suaminya, dia melihat dari anak tangga, suaminya baru saja bicara dengan seorang pria dengan seragam biru dan topi hitamnya. Pria itu pergi dengan membawa sesuatu.


"Mas, dia siapa?"


"Yang akan mengurus seragam sekolahmu."


Kiara perlahan turun dan berjalan mendekat pada suaminya. "Kamu tidak membuang seragamku, kan?"


Arthur memberikan senyum miringnya. "Aku tidak sekejam itu, aku hanya menghilangkan apa yang tidak aku sukai di sana, tidak akan lama seragam kamu akan selesai."


"Cemburu sekali jadi suami. Katanya tadi tidak peduli, tapi ternyata hati kamu menyimpan dendam, ya sama tulisan itu?" Jemari Kiara mencubit perut Arthur.


"Jangan menggoda karena hasilnya tidak akan baik."


"Oh ya?"


Kiara malah mencubit lagi perut rata suaminya. "Bilang saja dari tadi kalau tulisan yang Elang tulis itu sangat mengganggumu, kamu cemburu dengan anak yang masih memakai baju putih abu-abu itu."


"Hentikan, Kiara, itu tidak lucu."


"Kenapa? Hati kamu masih sebal dengan bocah kecil itu, Arthur?"


"Jangan memanggilku hanya nama saja, Kiara."


"Arthur," ucap Kiara sekali lagi ingin menggoda suaminya."


"Kamu akan menjadi makan pembuka untuk makan siangku, Sayang." Arthur mencoba menangkap tangan Kiara, tapi Kiara berhasil lari dan sekarang mereka malah menjadi berkejaran di sana.


Kiara tampak senang bisa sedikit membuat wajah kesal suaminya menghilang. Arthur pun tidak menyangka di usianya yang memang tidak bisa disebut muda malah bersikap seperti seorang remaja dengan berkejaran bersama istrinya, tapi dia sangat menyukainya.


"Sekarang kamu mau ke mana?"


Arthur berhasil mengunci Kiara pada tembok yang bersebelahan dengan ruang tengah. Kiara masuk dalam kungkungan lengan kekar Arthur.


"Mas, kita makan dulu, aku lapar."


"Jangan mencoba mengalihkan aku, Sayang." Arthur dengan cepat menggendong Kiara ala karung beras sembari memukul pantat Kiara dan membawanya pada sofa panjang yang ada di ruang tengah.


"Nanti saja karena aku harus memberi hukuman untuk istri yang suka sekali menggoda suaminya."


Arthur membaringkan Kiara di atas sofa panjang dan dia sekarang tepat berada di atas tubuh Kiara. "Kamu mau apa?"


"Mau kamu."


"Tidak mau, nanti malam saja, aku lapar dan capek, Mas."


"Aku tau apa yang kamu katakan tidak sesuai dengan hati kamu, Sayang. Kamu menginginkanku, kan?"


Kiara menggeleng pelan, dia kemudian menutup mulutnya dengan tangannya karena tau Arthur akan menciumnya. Arthur malah lebih bersemangat dengan apa yang dilakukan oleh Istrinya.


Kedua tangan Kiara sekarang sudah berpindah menjadi satu di atas kepalanya karena Arthur menahannya di sana. Dia mendaratkan bibirnya pada bibir Kiara. Tangan satunya dia gunakan untuk menjelang setiap inci tubuh istrinya yang membuat Kiara kegelian, tapi dia menyukai hal itu. Makan siang mereka yang ada di atas meja sepertinya akan menjadi dingin karena apa yang sedang mereka lakukan.


Kedua wajah mereka tampak saling menikmati hal itu sampai Kiara entah kenapa kelopak mata indahnya meneteskan air matanya. Arthur yang sudah selesai dengan keinginannya tampak mengecup kecil hidung istrinya. "Kenapa menangis?"


Kiara menggeleng pelan sembari mengusap lembut wajah suaminya. "Apa aku menyakitimu?" Arthur takut jika Kiara teringat lagi akan kejadian buruk itu, walaupun ini bukan pertama kalinya.


"Aku tidak tau bagaimana hidupku jika tidak bertemu denganmu, Mas?" Kiara menghapus air matanya.


Arthur sekali lagi memberikan kecupan menenangkan pada kening Kiara. "Aku yang tidak tau bagaimana diriku jika tidak bertemu sama kamu, walaupun aku tidak menginginkan dipertemukan melalui kejadian buruk itu." Tangan Kiara memeluk langsung leher suaminya dengan erat.


Tok... Tok... Tok.


Terdengar suara ketukan pada pintu apartemen dan Kiara segera melepaskan pelukannya. Arthur menyuruh Kiara merapikan dirinya dan membiarkan Arthur membuka pintunya.


Orang yang membawa seragam Kiara menyerahkan seragam karena dia sudah melakukan apa yang diminta oleh Arthur.


"Wow! Hilang tulisan Elang." Kiara tampak terkejut melihat hal itu.


"Begini lebih baik. Sebenarnya aku mau membakarnya, tapi aku tidak ingin terlalu kejam."


"Enak saja dibakar, aku tidak punya kenang-kenangan dengan teman-temanku. Bagaimanapun aku ingin merasakan masa putih abu-buku sebelum nanti aku sibuk mengurusi kamu dan bayi kita."


"Bayi. Aku ingin sekali kita segera memiliki bayi yang lucu. Ayahku pasti akan senang jika suatu saat kita memiliki seorang bayi."


"Apa ayahmu akan mau menerimaku jika mengetahui aku adalah menantunya?"


"Ayahku bukan tipe orang yang suka ikut campur dengan urusanku. Dia akan menerima dan mendukung semua yang aku lakukan selama ini, Kiara, dan kamu tau? Waktu di pesta ulang tahun Mega, ayahku terlihat sangat menyukaimu."


"Benarkah?" Kiara tampak senang.


"Iya, dia malah berharap aku bisa mendekatiku karena ayahku melihat kamu gadis yang baik dan pantas menjadi seorang istri Arthur Maxian Lucas."


Kiara sangat senang mendengarnya. "Aku juga sangat menyukai ayahmu karena dia pria yang baik, aku melihatnya dia mirip sekali sama kamu dari wajah dan sifat."


"Dia juga adalah segalanya bagiku, Kiara." Arthur memeluk suaminya. "Kiara, apa aku boleh menuliskan sesuatu di seragam sekolahmu?"


"Kamu? Untuk apa? Bukannya kamu bukan teman sekolahku."


"Memangnya kenapa kalau aku bukan teman sekolahmu?" Arthur membawa seragam Kiara di atas meja makan dan Kiara duduk di sebelahnya memperhatikan apa yang ingin ditulis oleh Arthur pada seragam sekolahnya.