Be Mine

Be Mine
Pernikahan Mba Tami part 1



Kehidupan Kiara kembali di apartemennya bersama dengan sang suami. Kiara pun kembali melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


"Mas, nanti malam kita datang ke pernikahan mba Tami lebih awal, ya?"


"Iya, nanti kita datang lebih awal." Arthur yang baru saja mengecup kening Kiara dan hendak berjalan keluar kembali berbalik dan melihat pada Kiara.


"Ada apa, Mas, apa ada yang lupa?"


"Sayang, aku lupa, mungkin nanti kita datang ke acara mba Tami sedikit telat, ya?"


"Memangnya ada apa, Mas, kamu hari ini ada meeting lainnya?"


"Nanti pulang dari kantor aku harus langsung ke restoran untuk memeriksa pekerjaan di sana. Sebenarnya aku sudah menyuruh Gio, tapi hari ini dia tidak bisa, dia baru bisanya besok dan aku butuh laporannya nanti agar bisa aku selesaikan jika ada yang salah."


"Ya sudah tidak apa-apa. Mas, aku titip salam pada Mba Manda dan juga Dean, aku ingin sebenarnya mengajak dia main ke apartemen kita."


"Iya nanti aku akan bilang pada Manda. Atau kalau perlu kita undang mereka makan malam bersama-sama."


"Ide yang bagus, Mas."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan berangkat ke kantor dulu, Sayang."


"Iya, hati-hati, Mas."


Setelah Arthur pergi Kiara mulai bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mba Tami karena dia ingin membantu persiapan di sana, dan Kiara sudah minta izin dengan suaminya.


Kiara ingin menghadiri proses akad nikah mba Tami. Arthur sudah meminta izin tidak bisa hadir karena dia memang ada rapat yang sangat penting pagi ini."


"Kiara!"


"Mba Tami! Uh, auranya sudah tercium wangi."


"Wangi? Memangnya aku bau kembang melati, ya? Menakutkan sekali."


Kiara malah terkekeh. "Bau wangi pengantin."


"Kamu juga bau pengantin, tapi bukan pengantin baru."


"Aku, kan memang sudah beberapa bulan menikah dengan Mas Arthur."


"Kalau begitu bau wangi ibu hamil." Wajah Kiara seketika terdiam. Mba Tami yang melihat hal itu merasa jika mungkin ucapannya ada yang salah. "Kamu kenapa? Apa ucapan Mba Tami ada yang salah?"


"Tidak ada sih, Mba, aku saja yang selalu terbawa perasaan saat ada yang mengatakan tentang kehamilan. Jujur saja aku ingin sekali hamil karena aku dan Mas Arthur ingin segera memiliki bayi, tapi sampai sekarang aku belum hamil juga."


Tangan Mba Tami mengusap lembut kepala Kiara. "Ucapan Mba tadi anggap saja doa untuk kamu. Aku yakin nanti pasti kamu dan suamimu diberi seorang bayi yang sangat lucu, yang wajahnya mirip kalian berdua." cubitan kecil pada hidung Kiara membuat Kiara langsung tersenyum lagi."


"Dia mirip Mas Arthur saja karena katanya, kalau bayi itu wajahnya lebih mirip ke ayahnya pasti ayahnya orang yang lebih dan paling sayang pada ibunya. Begitupun sebaliknya."


"Kalau dia mirip mas Arthur berarti yang lebih sayang diantara kalian berdua itu Mas Arthur?"


"Begitulah!"


"Huft! Memang ada teori seperti itu? Jadi, kalau begitu kamu tidak sayang Mas Arthur?"


"Sayang, tapi lebih banyak Mas Arthur yang sayang sama aku."


"Kiara ... Kiara, bisa saja." Mereka berdua kembali berpelukan.


Kiara berada di sana sampai acara akad nikah mba Tami selesai. Kiara melihat mba Tami tampil sangat cantik dan manis dengan balutan kebaya putih, walaupun sederhana, tapi aura mempesona Mba Tami sangat terlihat.


Kiara menangis saat mendengar ijab qobul yang mas Banni ucapkan, dia teringat akan pernikahannya yang sangat indah dengan suaminya.


"Semoga pernikahan mereka bahagia." Kiara mengusap air matanya.


Setelah acara akad selesai, Kiara menemui mba Tami untuk mengucapkan selamat. Mereka berdua saling berpelukan.


"Andai ibu kamu masih ada di sini, aku pasti akan sangat senang ditemani oleh ibumu. Kalian sudah seperti keluarga sendiri bagiku, Kiara."


"Ibuku sedang melihat mba Tami dan Mas Banni menikah sekarang. Ibu pasti juga bahagia melihat kebahagiaan anak angkatnya."


Tepat tiga sore, Kiara izin untuk pulang karena dia harus bersiap-siap juga nanti malam hadir di acara resepsi pernikahan mba Tami.


Kiara naik mobil online menuju apartemennya. Saat melewati sebuah sekolah ternama dan Kiara tau jika sekolah itu adalah sekolah di mana Dean bersekolah. Kiara melihat ada suaminya yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan bocah kecil yang tak lain adalah Dean.


"Itukan Mas Arthur? Kenapa dia bisa berada di sekolah Dean?"


Kiara mau berhenti, tapi percuma saja karena Arthur sudah masuk ke dalam mobil bersama Dean.


Kiara mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. "Halo, Kiara."


"Mas, kamu di mana?"


"Aku sedang di jalan bersama dengan Dean?"


"Dean? Kenapa Dean bisa bersama dengan Mas Arthur?"


"Tadi aku mau ke restoran dan Manda menghubungiku jika dia mau menjemput Dean ke sekolahnya karena hari ini pengasuh Dean izin pulang ke kampung halamannya. Dean pulang sore karena ada ekskul berenang karena arahnya sama. Jadi, aku yang meminta izin untuk menjemput Dean saja, dan membawanya ke restoran."


"Oh begitu."


"Kamu masih di rumah Mba Tami?"


"Aku sedang perjalanan ke apartemen."


Dean tiba-tiba bertanya pada Arthur, apa yang sedang bicara dengan Arthur itu adalah Kiara dan Arthur menganggukkan kepalanya.


"Sayang, Dean ingin bicara sama kamu."


"Iya, Mas."


"Halo, Tante Kiara!"


"Hai! Apa kabar Dean?"


"Aku baik, Tante sendiri bagaimana kabarnya?"


"Baik juga, Dean. Oh ya, Dean! Dean mau tidak kalau Tante undang makan malam di Apartemen Tante besok malam?"


"Makan di Apartemen Tante?"


"Iya, kamu dan Mamimu, Tante undang datang ke apartemen Tante besok malam. Dean suka makanan apa? Nanti Tante akan buatkan."


"Wah ...! Benar ya, Tante?"


"Iya, Sayang."


"Aku suka ayam bakar madu dan sup asparagus, Tante."


"Bisa. Tante bisa membuatkannya. Baiklah kalau begitu nanti biar Om Arthur yang mengundang mami kamu agar datang ke apartemen besok malam."


"Okay, Tante! Terima kasih."


"Sama-sama." Dean memberikan ponselnya pada Arthur. "Mas, kamu nanti bilang sama Mba Manda agar besok datang ke apartemen kita, ya?"


"Iya, Sayang. Aku nanti agak terlambat ya datangnya. Ini juga tadi Dean ingin membeli ice cream dulu. Aku tidak bisa menolaknya, apa lagi melihat wajah lugunya itu."


"Belikan saja dia ice cream, Mas, tapi pastikan dia sudah makan dulu, Mas."


'Memangnya kenapa kalau belum makan?"


"Setahu aku, nanti perutnya takutnya tidak kuat. Jadi, harus makan dulu baru nanti bisa makan ice cream."


Arthur akhirnya bertanya pada Dean dan Dean bilang dia sudah makan siang dari bekal yang Maminya bawakan.


"Dia sudah makan, Kiara. Mungkin sebaiknya aku harus menambahkan menu ice cream pada menu yang ada di restoranku. Jadi, jika bocah tampan ini menemui maminya di restoran, dia bisa menikmati ice creamnya." Arthur tersenyum melihat pada Dean