
Arthur melempar mix dengan seenaknya dan berjalan turun dari atas panggung. Dari sudut ruangan itu tampak Tia dan dua orang temannya bertepuk tangan menyoraki apa yang Arthur baru saja sampaikan, dan sorakan bahagia Tia diikuti oleh teman-teman sekolah Kiara lainnya, bahkan para guru juga ikut ramai bertepuk tangan.
"Suami kamu keren sekali, Kiara." Tia memeluk Kiara yang berdiri menangis di sana. Kiara yang tadi awalnya berada di parkiran mobil kembali masuk ke dalam gedung acara karena dia khawatir jika suaminya akan melakukan sesuatu.
Namun, saat dia tau apa yang suaminya lakukan, dia menjadi terharu dan bangga pada suaminya yang begitu sangat membelanya.
"Mas." Kiara menangis dan memeluk kembali suaminya.
"Arthur, Kiara. Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya ayah Alan yang menghampiri mereka.
"Kiara baik-baik saja, Yah."
"Ayah Alan, aku mau izin pulang dulu." Kiara menghapus air matanya.
"Iya, kalian silakan pulang dan Arthur jaga istrimu baik-baik. Selalu kabari ayah jika ada apa-apa dengan kalian, dan kamu Kiara, jangan sungkan untuk meminta bantuan pada ayah ya, Nak." Tangan ayah Alan mengusap kepala Kiara.
"Yah, kami pulang dulu dan besok aku akan menghubungi ayah." Arthur menggendong Kiara ala bridal style.
"Hati-hati di jalan, Nak."
Alan seketika melihat pada Alexa istrinya dengan tatapan tajam. Alexa yang melihat tatapan suaminya seperti itu terlihat takut dan bingung karena dia merasa tidak melakukan apapun, tapi kenapa suaminya sekarang melihat marah padanya. Alan berjalan pergi dari sana dan diikuti oleh Alexa.
Tiga wanita yang tadi sudah berbuat buruk pada Kiara langsung menghubungi Kella karena mereka merasa ketakutan dengan ancaman yang tadi Arthur katakan di atas panggung.
"Kalian tidak perlu takut karena Arthur itu hanya menggertak saja."
"Kami takut, Tante. Arthur yang tadi berbicara tampak serius dan dia benar-benar bisa melakukan apa saja. Kalau Tante tidak mau membantu kami, maka aku akan menceritakan jika Tante Kella yang menyuruh kami melakukan hal itu pada Kiara."
"Kalian benar-benar penakut." Kella tampak berpikir dan dia sebenarnya juga takut jika para wanita itu mengatakan jika dia yang ada dibalik kejadian itu. Kella tau jika Arthur akan melakukan hal yang dia katakan, apa lagi ini menyangkut Kiara yang sangat Arthur cintai.
"Tante bagaimana?"
"Kalian hubungi Arthur dan datanglah untuk meminta maaf pada Kiara, tapi jangan mengatakan atau menyebut namaku di sana. Kalian bilang saja jika telah salah sudah melakukan hal itu karena kalian berpikir jika Kiara bukan gadis baik-baik yang hanya mengincar hartanya."
"Apa? Kami melakukan itu?"
"Iya! Hanya itu yang bisa kalian lakukan agar selamat dari amarah Arthur."
"Aku juga sangat bodoh! Mau-maunya melakukan hal ini yang akhirnya membuat hidupku diliputi rasa ketakutan."
"Sudah! Kamu lakukan saja dan nanti akan aku memberi uang untuk kamu dan teman-temanmu, tapi ingat! Jangan sampai menyebutkan namaku, atau kalian yang akan aku buat menderita," ancam Kella, kemudian dia menutup panggilan teleponnya.
Mobil Arthur sudah sampai di basement apartemennya. Arthur melepaskan sabuk pengaman istrinya dan sekali lagi menghapus air mata Kiara.
"Aku minta maaf jika keputusanku membawa kamu hadir di acara pertunangan Mega membuat kamu mendapat perlakuan buruk seperti ini."
Kiara menggelengkan kepalanya. "Ini semua bukan salah Mas Arthur. Mas Arthur juga tidak bisa menebak akan terjadi hal seperti ini."
"Orang-orang itu akan mendapat hukuman atas apa yang sudah mereka lakukan sama kamu jika mereka tidak mau datang untuk meminta maaf."
"Kenapa kamu sangat baik, Kiara? Anakku pasti akan sangat bangga memiliki ibu yang hatinya seperti berlian seperti kamu." Tangan Arthur mengusap lembut pipi Kiara dan sebuah kecupan hangat mendarat pada dahi Kiara.
"Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi karena akan ada malaikat kecil yang nanti akan mencontoh apa yang diperbuat oleh orang tuanya, dan aku ingin menjadi contoh pertama yang baik untuknya."
"Tapi kebaikan kamu jangan sampai dimanfaatkan orang lain, seperti Elang yang tadi memelukmu." Wajah Arthur seketika cemberut.
"Jadi, Mas sudah tau hal itu? Apa Tia yang mengatakannya? Padahal aku sendiri nanti yang mau bercerita sama Mas Arthur."
"Bukan Tia yang mengatakannya, tapi Selena."
"Apa? Selena? Kenapa dia yang malah mengatakan pada Mas Arthur?"
Arthur turun dari mobil dan membuka pintu mobil Kiara, Arthur menggendong Kiara serta membawanya masuk ke dalam lift.
"Mas, aku sedang bertanya sama kamu! Kenapa kamu bisa tau dari Selena?" Gantian sekarang wajah Kiara yang terlihat cemburu.
"Tadi Selena menghampiriku dan mencoba merayuku, tapi karena aku tidak memperdulikannya, dia menunjukan foto kamu saat berpelukan dengan Elang dan jujur saja darahku seketika mendidih saya melihat hal itu."
"Selena menghampiri kamu? Dia tidak melakukan apapun sama kamu kan, Mas? Kalian tidak berpelukan, kan?"
"Kenapa sekarang malah aku yang dicurigai? Aku ini cemburu sama kamu dan Elang yang jelas-jelas ada buktinya berpelukan."
"Kalau Mas percaya sama Selena, itu artinya cinta Mas sudah mulai luntur sama aku." Kiara melirik sebal sama suaminya.
"Aku bukannya percaya, hanya saja aku penasaran kenapa kamu bisa berpelukan sama Elang, tapi saat mencarimu dan Tia mengatakan kamu sedang mengambil minuman. Lalu, aku bertanya pada Tia apa Elang baru saja menemuimu dan Tia menjelaskan semuanya."
"Sekarang sudah tau kenapa aku dan Elang berpelukan, kan? Mas, aku hanya ingin bisa berteman dengan Elang dan tidak memiliki musuh."
"Hanya berteman, Kan?"
"Iya, Mas! Lagi pula kita juga akan menjadi satu keluarga."
Arthur mendudukkan Kiara di atas sofa panjang di ruang tamu. "Kalau begitu aku juga boleh berteman dengan Selena."
"Tidak boleh!" Kiara menarik tangan suaminya.
Arthur duduk mendekat bahkan sangat dekat dengan wajah Kiara. "Kenapa? Apa kamu cemburu?" tanya Arthur berbisik pada telinga Kiara.
"Tentu saja aku cemburu, bahkan sangat cemburu. Apa lagi dia memiliki niat untuk merayu suamiku."
"Kalau begitu aku juga cemburu walaupun kamu hanya berteman dengan Elang karena aku tidak tau apa Elang benar-benar sudah melupakan kamu atau dia hanya berpura-pura."
Kiara terdiam sejenak memandang wajah suaminya yang sangat dekat dengannya. Kiara mencoba mengerti dan memahami apa yang Arthur katakan.
"Aku hanya bersikap baik saja dengan apa yang Elang coba katakan. Aku juga akan tetap menjaga jarak dengannya karena aku juga memikirkan perasaan Mega, Mas." Kiara mendaratkan ciumannya yang lembut pada bibir Arthur.