
"Non Mega, tidak perlu, biar saya saja yang membantu Kiara."
"Tidak apa-apa, Bi, aku itu kan adik iparnya Kiara. Jadi, wajar kalau aku membantu Kiara." Mega tampak menunjukan senyum palsunya.
Bibi Yaya sebenarnya tidak ingin membiarkan Mega membantu Kiara, tapi dia tidak mau terlihat seolah dirinya tidak percaya pada Mega. Bibi Yaya membiarkan Mega membantu Kiara, tapi tetap mengawasinya dengan fokus.
"Aduh! Kamu berat juga ternyata Kiara."
"Berat badanku memang lagi naik karena aku kan hamil, Mega."
Kiano tiba-tiba mendekat dan dia menawarkan bantuan untuk menggendong Kiara ke dalam kamar mandi agar Kiara tidak sampai jatuh.
"Kiano, tidak perlu."
"Aku minta maaf jika menawarkan hal itu karena aku takut kamu malah jatuh, kamu kan sedang hamil, Kiara."
"Tapi tidak perlu menawarkan untuk menggendongnya. Kiara itu sudah punya suami dan kamu harus ingat akan hal itu," ucap Elang terdengar ketus.
"Tentu saja aku ingat jika Kiara sudah menikah, tadi aku bersikap baik dengan menawarkan bantuan saja." Tatap sengit Kiano.
Bibi Yaya melihat persaingan di antara dua pria di sana. Bibi Yaya sampai heran melihat dua orang itu, apa mereka tidak sadar jika Kiara ini istri Arthur.
"Non Mega, biar Bibi saja yang membantu Kiara ke kamar mandi."
"Iya, aku bantu juga, Bi," timpal Momo.
"Bi, biar aku ambilkan kursi roda saja agar lebih mudah."
Saat Elang hendak keluar, tiba-tiba pintu dibuka seseorang dari luar. "Elang?"
"Hai, Kak Arthur."
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Mas," panggil Kiara.
Arthur masuk ke dalam dan melihat ada beberapa orang di sana.
"Mas sudah pulang?"
"Dari mana kalian tau jika Kiara ada di sini?" lihat Arthur heran.
"Mas, nanti dulu tanyanya, aku mau ke belakang."
"Bi, biar aku saja."
Arthur berjalan mendekat ke arah Kiara dan dia segera menggendong istrinya ala bridal style. Kiara tampak tersenyum senang.
"Manis sekali," celetuk Momo melihat dua orang yang sekarang menjadi idolanya itu.
Elang dan Kiano pun melihat pada Kiara dan Arthur. Arthur masuk ke dalam kamar mandi menunggu istrinya.
Setelah itu mereka berdua keluar dan Arthur meletakkan Kiara di atas tempat tidurnya lagi. "Kak, kenapa tidak bilang padaku kalau Kiara pulang dari pesta mengalami masalah pada kandungannya sampai dia di rawat di sini?"
"Keadaan Kiara baik-baik saja, Mega. Dia seperti ini karena mengalami hal yang membuatnya terkejut." Arthur menatap datar pada adiknya.
Mega yang seolah tau jika Kakaknya itu seolah sedang menyalahkannya tampak pura-pura tidak tau.
"Tapi, kan Kakak harus memberitahu pada kita, bagaimanapun Kiara itu kan kakak iparku dan menantu keluarga Lukas."
"Aku tau, tapi masalah ini tidak perlu dibuat besar. Aku sengaja tidak memberitahu agar tidak membuat khawatir mama yang baru saja sembuh, lagi pula agar Kiara bisa lebih banyak beristirahat." Arthur mengecup kening istrinya.
Di tempatnya, tangan Elang mengepal erat melihat wanita yang sangat dia cintai itu malah dikecup orang lain.
"Kalian baru saja bersahabat kembali. Sudahlah, Mega, yang terpenting sekarang keadaan Kiara baik-baik saja. Oh ya! Bagaimana kamu bisa tau Kiara ada di sini?"
"Morgan yang mengatakan waktu aku menghubunginya, Kak Arthur, dan aku memberitahu Mega. Mega kemudian mengajak untuk menjenguk Kiara."
Arthur melihat ke arah Elang. "Aku lupa mengingatkan Morgan agar lain kali tidak memberitahu siapapun tentang hal yang terjadi pada istriku karena jujur saja aku tidak suka."
"Tapi Kiara juga akan menjadi satu keluarga denganku, Kak Arthur."
"Walaupun kita akan jadi satu keluarga, tapi tidak semua hal harus kalian ketahui."
Kiara ini sangat heran dengan suami, kenapa dia berubah seolah dingin seperti ini pada Mega dan Elang? Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya?"
"Kakak ini kenapa sih? Kenapa sikapnya seolah tidak suka aku dan Elang mengetahui keadaan Kiara?"
"Aku hanya menjaga agar istriku tetap baik-baik saja, Mega." Arthur sekarang melihat datar kembali pada Mega.
"Apa Kakak menuduhku ingin menyakiti Kiara?"
"Aku tidak mengatakan hal itu, tapi aku lebih suka Kiara hidup denganku seperti dulu, terlepas kamu dan mama sudah menerimanya atau tidak."
Mega tidak meneruskan kata-katanya, dia melihat kakaknya ini terlihat tidak suka padanya.
Momo melihat seolah ada masalah antara Arthur dan gadis yang dia baru ketahui adalah adiknya Arthur.
"Kiara, dan Mas Arthur, aku dan Kiano mau izin pulang dulu."
"Aku juga mau pulang. Kiara, aku dan Elang pamit dulu." Mega berjalan pergi dari sana dan diikuti oleh Elang setelah berpamitan.
Kiara tampak tidak enak melihat sikap Mega yang sepertinya keluar dengan marah. "Kiara, aku dan Kiano pulang dulu ya." Momo memeluk Kiara dan Kiano pun meminta izin pulang.
Momo tampak berjalan dengan Kiano menuju tempat parkir motornya. "Kiano, kamu ada sesuatu tidak pada gadis bernama Mega dan Mas Arthur itu? Sepertinya ada hal yang membuat Arthur tidak suka pada adiknya itu."
"Kita tidak perlu mengurusi urusan keluarga mereka, Mo."
"Memang aku tidak mau mengurusi. Jujur saja, ya Kiano, aku tidak suka sama gadis bernama Mega itu, dia seperti terlihat palsu."
"Palsu? Apa maksud kamu dengan palsu? Dia itu benar-benar manusia, sama seperti kita."
"Memangnya aku bilang dia alien! Kamu itu selalu ngeselin."
"Sudah, tidak perlu mengurusi urusan orang lain."
"Bukan mengurusi, tapi Kiara itu harus hati-hati kalau berteman dengan orang yang banyak kepalsuan, bagaimana pun aku pernah punya teman seperti itu, dan yang ada aku malah dihancurkan dari belakang." Momo tampak terdiam sembari tetap berjalan.
"Sudahlah, tidak perlu diingat kejadian kamu dan temanmu dulu. Kamu harus bersyukur sudah dijauhkan dari teman seperti itu." Tangan Kiano merangkul pundak Momo.
"Iya, aku sangat bersyukur dia sudah jauh dari kehidupanku bahkan kehidupan ayahku. Eh iy, Kiano! Kamu juga lihat lelaki bernama Elang tadi tidak?"
"Iya, kenapa memangnya sama dia?"
"Aku dari tadi melihat ke arahnya, dia aku lihat dari tadi memperhatikan Kiara terus loh!"
Kiano menghentikan langkahnya dan melihat serius pada Momo. "Dia bukannya tadi dikenalkan sebagai calon suami dari adiknya Arthur."
"Iya, tapi dia melihat terus pada Kiara dan aku melihat, dia memandang Kiara dengan tatapan yang bukan tatapan biasa. Jangan-jangan dia suka sama Kiara, apa lagi tadi Mega bilang jika mereka bertiga bersahabat sejak SMA."
Kiano tampak terdiam sejenak. "Kiara memang pantas disukai, dia gadis yang istimewa dan menenangkan jika melihat wajahnya."
Momo mengkerutkan kedua alisnya melihat Kiano yang tampak sedang membayangkan sesuatu saat membicarakan tentang Kiara.
"Salah satunya kamu, ya? Ingat, dia sudah menikah dan akan memiliki bayi." Tangan Kiano ditarik oleh Momo. "Sudah, yuk pulang!"