
Arthur setelah memberikan bunga itu dia mengajak Kiara turun dan mereka bicara sebentar. Tentu saja Alexa yang melihatnya tampak semakin marah.
Arthur melakukan hal itu sebagai bentuk dia ingin perlahan-lahan menjelaskan pada semua orang jika dia dan Kiara ada sesuatu.
"Kiara, aku permisi dulu karena mamaku menghubungiku."
"Iya, Mas Arthur." Perasaan Kiara sudah tidak enak saja mendengar hal itu.
Kiara kembali berkumpul dengan teman-temannya dan dia sekarang malah digoda oleh teman-temannya karena bunga pemberian Arthur.
"Aku iri sama kamu, Kiara. Ada pria yang sangat tampan dan sexy bagiku. Dia naik ke atas panggung untuk memberimu setangkai bunga. So Sweet sekali."
"Itu kakaknya Mega, kan? Kamu sengaja mendekati kakaknya Mega karena kesal Elang dan Mega bertunangan ya, Kiara?" tanya Morgan.
"Siapa yang mendekati Kakaknya Mega? Aku saja tidak mengira dia bakalan naik ke atas panggung dan memberiku bunga, lagi pula itu bunga hanya ungkapan dia menyukai suaraku, kamu jangan langsung berasumsi lainnya, Morgan." Kiara mencoba membuat agar Morgan tidak curiga padanya.
"Kiara, apa pria itu yang pernah aku lihat mengantar kamu ke sekolah?" Morgan melihat penasaran.
"Aku memang pernah diantar Arthur ke sekolah dan itu karena diminta Mega."
"Bukan yang waktu di sekolah, tapi aku melihat kamu berhenti agak jauh dari sekolah saat turun dari mobil seseorang dan sayangnya aku tidak mengenali mobilnya."
"Kamu itu memata-mataiku, ya Morgan? Di suruh Elang?"
"Enak saja! Aku tidak sebaik itu sama Elang. Aku hanya penasaran saja saat melihatmu. Kalau kamu tidak ada hubungan dengan kakaknya Mega, aku 'kan, bisa mendekatimu." Alis Morgan naik turun.
"Huft! Aku tidak tertarik menjadi kekasih si raja playboy."
"Cowok playboy itu bisa tobat jika mendapatkan pasangan yang tepat, Kiara."
"Sayangnya, aku bukan gadis yang tepat buat kamu." Tangan Kiara menepuk tepuk pundak Morgan seolah membersihkan debu di baju Morgan.
"Kan lebih baik kamu sama aku, Kiara. Usia kita sepantaran, daripada kamu nanti didekati oleh kakaknya Mega yang sudah seperti om-om itu."
"Denger ya, Mao-mao, meskipun kakaknya Mega itu usianya jauh di atas kita, tapi dia masih terlihat sangat tampan dan mempesona. Aku saja senang sekali setiap melihat dia ke sekolah. Kamu aja lewat," terang salah satu teman Kiara.
Kiara hanya tersenyum dengan menahan menggunakan telapak tangannya. Ini coba Arthur mendengar apa yang Morgan katakan, sudah ditonjok itu wajah Morgan.
"Benar apa yang kamu katakan. Aku permisi dulu mau ke kamar mandi dulu, ya."
Kiara berjalan pergi dari teman-temannya dan dia agak sedikit berlari menuju kamar mandi karena dia sudah tidak tahan.
"Sudah mau jam sebelas malam. Sebaiknya aku menghubungi Mas Arthur dan mengajaknya pulang, besok dia harus berangkat pagi." Kiara berjalan keluar dari kamar mandi.
"Kiara, bisa kita bicara sebentar?"
Kiara yang mau menelepon suaminya seketika mematikan panggilannya dan dia melihat siapa yang ada di depannya.
"Tante Alexa, Tante mau bicara apa?"
"Maaf, maksud Tante apa?"
"Kamu jangan berharap bisa dekat dengan putraku dan akhirnya membuatnya jatuh cinta sama kamu, Kiara. Kamu dan putraku sangat jauh berbeda."
Rasanya ada batu yang menghantam keras pada dada Kiara mendengar hal itu, walaupun Kiara pernah dihina sebelumnya oleh mamanya Elang, tapi entah kenapa ini lebih sakit? Rasanya Kiara akan dipisahkan dari sesuatu yang sudah menyatu dengan dirinya.
"Apa ini tentang tadi yang dilakukan oleh Mas Arthur di atas panggung?" tanya Kiara dengan perasaan menahan sedih.
"Mas Arthur? Sejak kapan kamu memanggil putraku dengan sebutan seperti itu?"
"Ibuku pernah mengajarkan agar aku bisa memanggil dengan lebih hormat seseorang yang usianya di atasku."
"Sudahlah! Aku tidak mau membahas masalah panggilan itu, aku di sini hanya mengingatkan kamu agar tidak mencoba mendekati putraku atau bahkan merayunya karena aku juga akan segera mengenalkan dia dengan wanita yang sepadan dengannya dan keluarga Lucas."
"Kalau mas Arthur mencintaiku, bagaimana?"
Langkah kaki Alexa seketika berhenti saat dia mendengar apa yang baru saja Kiara tanyakan. Dia kembali memutar tubuhnya dan melihat Kiara dari atas sampai bawah.
"Apa kamu bilang? Arthur mencintaimu? Oh ayolah, Gadis pemimpi!Kamu tau siapa putraku itu? Dia seorang direktur utama di perusahaan terbesar di kota ini dan banyak sekali bisnisnya di luar negeri. Dia keluarga dari Alan Lucas dan kamu seenaknya bilang bagaimana jika Arthur mencintaimu? Tentu saja putraku tidak akan mencintaimu. Apa kamu tidak sadar siapa kamu?"
"Aku sadar siapa aku, Tante."
"Bagus kalau kamu sadar. Kiara, mungkin jika Elang yang jatuh cinta sama kamu itu wajar karena kalian seumuran dan satu sekolah, tapi Arthur bukan anak sekolah yang usianya pantas untuk berpacaran. Dia pria matang yang sepantasnya memiliki keluarga kecil yang bahagia dan dengan wanita yang pantas mendampinginya. Wanita mandiri dan pastinya setara dengannya dari segi manapun, aku yakin kamu pasti paham akan yang aku katakan ini."
"Aku mengerti apa yang Tante Alexa maksud."
"Kalau kamu mengerti, jadi mulai sekarang jangan mencoba merayu putraku kalau kamu tidak mau disebut sebagai gadis murahan yang mendekati Om-Om kaya karena ingin mengincar hartanya seperti apa yang Jhon waktu itu katakan. Oh ya Kiara, tapi kalau kamu memang gadis seperti itu, silakan mencari mangsa lainnya karena aku sebagai mamanya Arthur akan melindungi putraku dari gadis pengincar harga seperti kamu."
Alexa berjalan pergi dari sana dengan wajah marahnya. Air mata Kiara seketika menetes mendengar semua apa yang mamanya suaminya secara tidak langsung menghina dirinya.
"Tante Alexa tidak tau betapa aku sangat mencintai Mas Arthur, bahkan aku dan dia sudah menikah. Aku tidak akan pernah meninggalkannya."
Kiara berjalan pergi dari sana, dia mengirim pesan pada suaminya dan mengatakan dia akan menggunakan mobil online untuk pulang ke apartemen.
" Kiara, kamu di mana sekarang?"
Setelah mendapatkan pesan dari Kiara, Arthur segera menghubungi istrinya itu.
"Aku ada tidak jauh dari gedung acara, Mas. Mas, kita bertemu di apartemen saja."
"Kiara, ada apa?" tanya Arthur yang sepertinya curiga istrinya ada suatu masalah yang disembunyikan.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Mas, aku melakukan ini agar tidak ada yang tau kita pulang bersama, apa lagi temanku Morgan sepertinya sedang mengawasi aku karena dia penasaran apa aku dan kamu ada hubungan."
"Setelah Elang, sekarang dia. Menyebalkan sekali!" seru Arthur kesal. Kenapa orang-orang ini seperti sibuk mengurusi urusan orang lain?