
Kiara tampak sibuk di depan cermin dia sibuk menutupi tanda merah yang Arthur ciptakan. Mega sudah memberinya krim untuk menyamarkan tanda itu agar tidak terlihat.
"Kiara, ayo cepat nanti kita ditinggal loh sama mereka."
"Sebentar lagi, Mega ini belum tersamar nodanya. Aku tidak mau mereka melihat apalagi guru kita bisa-bisa aku nanti dimarahi."
"Salah sendiri kenapa model pacarannya sampai sejauh itu? Aku kira kamu dulu juga putus dari Elang tidak akan memiliki pacar, ternyata kamu memiliki kasih dan gaya pacar pacaran kalian malah lebih dari saat dengan Elang."
"Aku akan segera menikah dengan dia, Mega."
Mega yang sedang minum seketika mendadak terbatuk mendengar apa yang Kiara katakan.
"Me-menikah? Kamu benar-benar yakin dengan kekasihmu itu, Kiara?Atau jangan-jangan kamu dan dia sudah melakukan hal yang lebih, ya?" Kedua mata Mega mendelik melihat pada sahabatnya itu.
Kiara sekarang jadi bingung, dia mau jujur atau berbohong pada Mega?
"Tentu saja tidak, tapi kekasihku itu pria sudah mapan dan dia serius denganku, Mega. Jadi, aku mau menikah dengannya, lagi pula dia juga sangat mencintaiku."
"Tapi berita kamu akan menikah dengan dia itu benar-benar sangat mengejutkan, Kiara. Kamu, kan juga belum lama kenal sama dia, kok sudah berani memutuskan menikah."
"Itu karena aku yakin dengannya, lagi pula kamu juga akan menikah dengan Elang, jadi apa salahnya kalau aku juga menikah dengan kekasihku?" Kiara tersenyum manis pada Mega.
"Iya juga sih, dan hal itu akan lebih baik, jadi Elang tidak akan berharap lagi bisa bersama kamu, Kiara."
Kiara yang sudah bersiap turun bersama Mega, dua sahabat itu saling bergandeng tangan dan tampak saling melemparkan senyuman.
"Pokoknya kalau nanti kamu menika, jangan sembunyi-sembunyi kayak kamu pacaran dengan Mas Radit itu, ya? Kamu harus mengundangku di acara pernikahanmu."
"Kamu tenang saja, kamu pasti aku undang karena kamu adalah sahabat baikku dan aku pasti akan berbagi kebahagiaan denganmu."
Mereka berdua sudah sampai di lantai bawah dan di sana juga sudah banyak teman-teman Kiara.
"Mega! Sini!" suara panggilan dari teman sekelas Kiara dan Mega
Kiara dan Mega pun tampak bingung karena di depan ada kerumunan. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, mereka berdua berjalan mendekat ke arah teman yang memanggil.
"Ada apa sih, Tia? Kenapa rame sekali?" tanya Kiara heran.
"Kamu tanya saja pada sahabat kamu si Mega itu."
"Kok aku? Memangnya aku berbuat apa? Aku baru saja turun sama Kiara dari kamar." Mega sekarang yang tampak bingung.
"Kamu kenapa menyuruh kakakmu datang ke sini? Apalagi kakakmu tampannya benar-benar mengalahkan artis yang aku kagumi di televisi, anak-anak lainnya juga pada mencoba akrab dengan kakak kamu. Itu lihat saja di sana."
"Hah? Kakakku? " Mega dan Kiara yang terlihat kaget langsung berjalan menuju kerumunan teman-temannya dan benar saja di sana ada kakaknya yang sedang diajak kenalan oleh beberapa teman sekolah Mega.
"Kak Arthur? Kakak kenapa ada di sini?"
Kiara mendelik melihat ada suaminya di sana. Arthur pun melihat sekilas pada Kiara.
"Hai, Mega! Aku sedang ada pekerjaan di sini dan kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini jadi aku menginap sekalian di hotel ini."
"Kak Arthur serius?"
"Tentu saja kakak serius, aku juga ingin menghubungimu, tapi aku pikir lebih baik langsung menemuimu saja di sini." Sekarang pandangan Arthur teralihkan melihat pada Kiara. "Hai, Kiara, apa kabar?"
"Siapa yang tidak senang, Kiara, melihat pria setampan dan sematang kakaknya Mega," celetuk Tia.
"Jangan menggoda kakakku, Tia."
"Aku tidak menggodanya, tapi ini kenyataan, bahkan Bu Dita saja tadi juga mengajak kakak kamu berbincang," bisik gadis yang dipanggil Tia itu.
"Kalian semua mau ke mana?"
"Kami mau pergi ke daerah perbukitan untuk melihat pemandangan indah di sana, Kak. Apa kamu mau ikut atau Kakak ada pekerjaan hari ini?"
"Aku ada sedikit pekerjaan. Jadi mungkin nanti aku akan menyusul saja ke sana."
"Ya sudah kalau begitu, aku dan teman-temanku ke sana dulu, ya Kak. Oh ya! Kakak menginap di kamar nomor berapa?"
"Aku menginap di kamar paling atas, nanti aku akan mengajak kamu ke sana. Ya, sudah kalau begitu. Kalian berangkat saja."
Guru mereka memanggil semua untuk berkumpul dan naik ke atas bus. Wali kelas mereka mengabsen semua agar tidak ada yang tertinggal.
"Kakak Mega keren ya, dia bahkan sampai menyusul ke sini lho dan aku tahu itu semua karena dia sangat mencintai Kiara." Tangan Morgan yang sedang memeluk pundak Elang menepuk beberapa kali pundak Elang, tapi hal itu malah membuat Elang terlihat marah, apalagi Morgan malah memuji rivalnya itu.
Elang menepis tangan Morgan sampai membuat Morgan terkejut, tapi bukannya marah, Morgan malah terkekeh menertawakan sikap Elang.
"Dia itu yang jatuh cinta pada Kiara, tapi aku yakin jika Kiara hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Kiara masih mencintaiku."
"Kamu benar-benar tidak mau menerima kenyataan yang ada, dan sekali lagi aku ingatkan, kalau kamu jangan suka menjelekkan mantan kekasihmu itu. Kamu kan dulu lama berpacaran sama dia, masak tidak tau sifat Kiara." Morgan berjalan pergi dari sana naik ke dalam busnya.
Elang masih menatap tajam ke arah Arthur. Tangannya pun mengepal erat menahan marah.
Bus yang para murid tumpangi itu tiba di tempat perbukitan dengan selamat. Semua anak-anak turun dan mereka semua tampak sangat bahagia melihat pemandangan indah di sana.
"Di sini benar-benar indah dan sejuk, ya Mega? Aku tidak menyangka apa yang dikatakan orang-orang itu benar tentang tempat ini."
"Iya, di sini bagus, tapi masih bagus saat aku pergi ke luar negeri dengan kedua orang tuaku. Nanti kalau aku sudah menikah dengan Elang, aku mau berbulan madu ke sana." Mega tersenyum pada Kiara. Pun dengan Kiara membalasnya dengan senyuman kecil.
"Mega, bagiku tempat ini juga tidak kalau bagus dari luar negeri, walaupun aku belum pernah ke luar negeri." Kiara langsung tersenyum.
Kiara dan temannya serta Mega yang sudah berjanji ingin naik ke atas bukit itu segera meluncur ke sana. Mereka berlima tampak saling membantu dengan saling berpegangan tangan untuk naik ke atas.
"Kamu sudah membawa banner sekolah kita, kan?" tanya Mega pada temannya Tia.
"Sudah, kamu tenang saja."
Mereka melanjutkan naik ke atas bukit dan saat sampai di atas mereka berlima tampak senang sekali dan membuka banner sekolah mereka. Mereka berlima foto Selfi bersama.
"Kalau dilihat dari sini pemandangan di bawah benar-benar sangat indah."
"Iya, sangat indah, tapi tidak lebih indah dari kakak kamu, Mega," celetuk Tia.
"Ya ampun, Tia! Kamu masih membahas soal kakak aku saja."
"Kakak kamu terlihat berbeda saat memakai baju santai seperti tadi." Kiara dan Mega tersenyum dan saling melihat.