Be Mine

Be Mine
Kiara Marah Part 2



Arthur mengatakan pada Bibi Yaya jika dia akan mencari di mana Kiara dan jika Kiara sudah pulang, Bibi Yaya dimintai tolong menghubunginya.


"Stevi, I'm sorry because I have to go first. Hope you can understand."


"Okay! I hope your problem with your wife is well soon."


Arthur segera pergi dari kantornya untuk menyusul istrinya. Dia di dalam mobil mencoba sekali lagi menghubungi Kiara, tapi kali ini ponsel Kiara sudah dimatikan. Jadi, Arthur tidak bisa menghubungi Kiara lagi.


"Oh Tuhan, Ara! Kamu ini kenapa langsung marah seperti ini? Kenapa tidak bicara langsung padaku?" Arthur tampak gelisah dan sekali lagi dia mengedarkan pandangannya mencari di setiap jalan yang mungkin dilalui oleh Kiara.


Arthur juga tidak lupa menghubungi Mba Tami dan bertanya apa Kiara ada di sana, tapi ternyata Kiara tidak ada di sana.


Arthur mendatangai toko kue milik mendiang ibu Kiara, tapi di sana juga tidak ada. "Di mana dia?" Arthur kembali menghubungi Bibi Yaya, tapi Kiara juga belum pulang.


"Sebenarnya ada apa ini, Arthur?"


"Aku sendiri tidak tau, Bi. Dia mematikan ponselnya. Jadi, aku juga tidak tau di mana dia berada."


"Kiara itu juga seperti kamu, dia mudah sekali posesif dan moodnya mudah berubah. Cari dia sampai ketemu, Arthur. Bibi jadi khawatir kalau begini."


"Iya, aku akan mencarinya sampai ketemu, Bi. Aku juga khawatir sama dia. Kiara tidak pernah seperti ini kalau marah."


Arthur kembali menyusuri jalanan itu, tapi hampir satu jam dia tidak menemukan di mana istrinya itu. Arthur menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mencari di mana istrinya berada.


"Kiara, kamu ada di sini?"


"Hai, Momo." Kiara dengan segera memeluk Momo.


Momo yang dipeluk seperti itu oleh Kiara tampak sedikit kaget. "Kiara, kamu kenapa? Dan kenapa ada di sini, bukannya kamu tidak masuk kuliah sampai nanti kegiatan belajar mengajar normal?"


"Kamu sudah pulang kuliah, kan? Kita makan bakso. Aku yang traktir."


"Iya, tapi kenapa kamu ada di sini, dan aku lihat wajah kamu sepertinya sedang sedih. Apa ada masalah dengan suamimu?"


Kiara menggeleng. "Tidak ada, aku hanya bosan saja di tempatku. Biasanya aku pergi kuliah, tapi ini malah di kamar saja. Sudah yuk! Kita makan saja, tapi bakso yang di sana saja. Jangan di dalam kantin."


"Ya sudah kalau begitu. Momo ini sebenarnya melihat ada sesuatu yang ditutupi oleh Kiara, tapi kalau Kiara tidak mau menceritakan, dia tidak mau memaksanya karena itu hak Kiara.


Mereka berdua makan bakso di stand orang jualan bakso yang ada di dekat kampus mereka.


"Halo, Kiano."


"Iya, ada apa? Aku masih ada rapat, kamu kalau mau pulang bisa pulang duluan."


"Enggak, aku mau menunggu kamu saja. Lagi pula aku sedang makan bakso di depan kampus dengan Kiara. Kalau kamu sudah selesai, kamu bisa menghubungiku atau menyusul aku ke sini."


"Kamu bilang makan bakso dengan Kiara?"


"Iya, aku sedang bersama Kiara. Eh, Kiano! Jangan bilang-bilang kalau Kiara ada di dekat kampus kita, terutama sama si nenek lampir itu, nanti Kiara malah diejek. Aku tau sifat si judes itu."


Kiara yang mendengarnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu." Kiano menutup panggilan teleponnya.


"Mending tidak perlu tau karena aku malas melihat mukanya apa lagi mendengar suaranya berbicara. Lebih baik kita bicarakan saja tentang calon bayimu itu. Bagaimana rasanya mengandung itu, Kiara?"


"Sangat menyenangkan dan bahkan tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata." Kiara mengusap perlahan perutnya.


"Pasti menyenangkan sekali menjadi kamu. Di usia muda sudah menikah dan mendapat suaminya yang sangat tepat."


"Iya, aku bahagia dengan pernikahanku walaupun terbilang aku menikah di usia yang masih muda."


"Hem! Jujur aku masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi sama kamu. Masih muda, sudah menikah dan akan menjadi seorang ibu. Wow! Amazing! Kamu jujur ya, Kiara. Apa kamu sudah siap menjadi seorang ibu?"


"Sangat siap, hanya saja satu yang menjadi hal yang selalu aku pikirkan."


"Apa itu?"


"Nanti saat melahirkan, aku takut," ucapnya polos.


"Takut kenapa?"


"Takut karena kata orang-orang saat melahirkan itu di mana waktunya seorang ibu berjuang antara hidup dan mati. Aku takut jika nanti meninggal tanpa bisa melihat wajah bayiku."


"Jangan bicara begitu, Kiara!" Tangan Momo langsung menggenggam tangan Kiara. "Walaupun aku baru mengenal kamu, tapi entah kenapa aku senang sekali menjadi teman kamu."


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja, Momo."


"Kamu akan baik-baik saja dan juga bayimu." Kiara mengangguk dan mereka melanjutkan makan baksonya. Kiara merasa sedikit bisa melupakan rasa sakit hatinya dengan berbincang dengan Momo, walaupun dia tidak menceritakan tentang masalahnya pada Momo.


"Eh, kamu Kiara yang hamil itukan? Karena hal itu kamu tidak ikut OSPEK. Sayang sekali, masih muda sudah hamil. Makannya, kalau berpacaran jangan terlalu bebas."


Kiara tampak sedih mendengar tuduhan yang dia dengar dari salah satu pengunjung di stand itu dan sepertinya dia juga mahasiswa di kampus Kiara kuliah.


"Hei! Kiara itu hamil bukan karena pergaulan bebas, tapi dia hamil setelah menikah beberapa bulan! Lagi pula kamu yang tidak tau apa-apa lebih baik diem, deh! Cowok kok mulutnya mengalahkan netizen yang suka julid." Wajah Momo tampak kesal.


"Mana ada yang percaya kalau dia hamil bukan karena pergaulan bebas? Dia masih muda, dan jiwanya masih membara panas, tapi sayang, dia cewek yang tidak bisa menjaga kehormatannya."


"Cukup, ya!" bentak Kiara marah sembari menggebrak meja. "Aku hamil karena aku sudah menikah beberapa bulan dengan suamiku, dan kenapa aku menikah muda ini karena permintaan mendiang ibuku yang ingin sebelum meninggal melihat aku menikah dengan pria yang aku cintai."


"Alasan yang pintar," jawab seorang gadis yang adalah teman dari laki-laki yang pertama kali mengolok Kiara.


"Terserah kamu mau bilang apa." Kiara yang tidak mau berdebat terlalu lama memilih diam dan kembali duduk di kursinya.


"Biarkan saja, Kiara. Jangan dengarkan dia, nanti malah kasihan bayi dalam perutmu kalau ibunya marah-marah."


"Kalau jadi kamu, aku tidak akan berani tetap kuliah. Pasti akan sangat memalukan," ujar gadis berambut hitam sebahu itu.


"Sudah selesai menghinanya?" suara seseorang dari arah belakang gadis yang menghina Kiara itu.


Kiara dan Momo menoleh dan melihat ada Kiano berdiri di sana.


"Kak Kiano, aku hanya mengatakan hal yang bisa dijadikan contoh buat generasi muda seperti kita agar jangan sampai terlibat pergaulan bebas."


"Dih! Sok motivator, padahal kamu tadi isinya cuma menghina Kiara!" seru Momo kesal.