
Kiara dan Momo yang ada di kantin tampak melihat pada wajah Kiano yang masih terlihat marah, dan sepertinya Kiano tampak marah sekali.
"Kiano, wajahnya tolong dirubah jadi ganteng seperti biasanya. Jujur saja, aku melihat wajah kamu sekarang jadi tidak nafsu makan," celoteh Momo.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, Momo!"9
"Kak Kiano, tenangkan diri kamu, aku sudah tidak apa-apa, kamu tidak perlu cemas."
Pandangan mata lelaki yang dari tadi terlihat marah, terlihat datar menatap Kiara. Kiara pun jadi aneh saat dilihat oleh Kiano seperti itu.
"Kiano, kamu kenapa melihat Kiara seperti itu? Apa kamu benaran suka sama Kiara?" Momo tampak mendelik.
"Momo!"
"Aku tadi hanya membayangkan saja, jika pot bunga itu jatuh tepat di kepala kamu bagaimana? Oh Tuhan! Hal itu benar-benar menakutkan dan jujur saja aku tadi sangat takut."
Kiano tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi dari sana.
Kiara yang mendengar apa yang baru saja Kiano katakan tampak sedikit terkejut plus bingung.
"Kiara." Tangan Momo menepuk pundak Kiara dan sontak saja Kiara terkejut.
"Apa?"
"Kamu tenang saja, Kiano itu tidak mungkin menyukaimu karena dia lelaki yang tau etika dengan baik."
"Lagian, siapa yang menganggap kalau Kak Kiano itu suka sama aku?"
"Siapa tau kamu berpikiran seperti itu, sama seperti apa yang aku pikirkan, tapi aku hilangkan karena aku tau siapa Kiano."
Kiara tidak menjawab, dia segera menghabiskan jus alpukatnya dan mereka segera kembali ke kelas.
"Cepat sekali, kamu mau menyalin semalaman buku itu?"
"Iya, nanti malam aku aku mau menyalinnya langsung. Pokoknya hari ini harus selesai, jadi besok bisa aku kembali sama kamu."
"Rajin sekali. Bumil itu jangan terlalu bekerja keras, mikir keras juga tidak boleh, bawa santai saja semuanya."
"Aku itu paling tidak suka bersantai jika menyangkut pendidikan. Aku saja kalau dibolehin Mas Arthur ingin melanjutkan sampai S2, tapi kalau boleh, kalau tidak ya aku menurut saja."
"Haduh! S1 aja aku ogah-ogahan, apa lagi mikir S2. Ya sudah! Kamu dijemput mas Arthur kamu, kan! Kalau begitu aku pulang dulu. Bye, Kiara." Momo melambaikan tangannya dan keluar dari kelasnya.
Kiara yang sudah membereskan bukunya bersiap untuk keluar kelas, tapi saat dia akan melangkah keluar, suaminya sudah muncul di sana.
"Mas? Aku baru saja mau menemuimu di luar. Kenapa Mas malah masuk ke sini?"
"Kiara, apa benar tadi ada kejadian kamu dan Kiano berpelukan?" Kedua alis Arthur sampai hampir bertaut.
"Darimana Mas tau tentang hal itu?"
"Kejadian itu menjadi berita heboh di sini, dan jujur saja aku tidak suka mendengarnya."
Kiara agak terkejut mendengar apa yang Arthur katakan, apa lagi wajah Arthur tampak sangar.
"Mas, jangan marah dulu, aku bisa jelaskan tentang kejadian itu, tapi jujur saja aku tidak tau jika hal itu malah menjadi sangat heboh di sini."
Kiara memeluk lengan tangan suaminya. "Aku dengar Kiano menolong kamu saat ada pot bunga yang jatuh dan hampir mengenaimu. Kiara, mungkin hal itu sengaja Kiano lakukan agar menarik simpatimu."
"Mas, kenapa malah mencurigai Kiano berbuat hal seperti itu?" Kiara sekali lagi tampak kaget dengan ucapan suaminya.