Be Mine

Be Mine
Pagi Yang Indah



Kiara sudah berbaring di samping Arthur. Mereka berdua tampak terlentang dan sama-sama melihat ke atas langit-langit kamar tidur.


"Apa kamu merasa nyaman, Ara?"


Kiara menggeleng perlahan. "Begini malah terasa semakin aneh." Kiara perlahan mendekat pada suaminya dan memeluk perut rata Arthur. Dia pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


"Ini nyaman."


Arthur tampak tersenyum dengan apa yang Kiara lakukan dia pun merentangkan tangannya, kemudian mendekap erat Kiara. "Sekarang tidurlah." Kiara sekali lagi mengangguk dan dia memejamkan kedua matanya.


"Apa benar kamu baik-baik saja?" Arthur bertanya kembali guna memastikan keadaan Kiara.


"Iya, Mas Arthur. Sekarang kita tidur saja karena besok aku harus masuk pagi, dan kamu juga harus ke kantor pagi, kan?"


"Iya, tapi kalau kamu tidak nyaman, jangan memaksa."


Arthur tidak mendapat jawaban dari Ara, dan ternyata Kiara sudah tidur rupanya.


Keesokan harinya, Kiara yang bangun karena sinar matahari tampak sedikit kaget melihat ada tangan yang melingkar di perutnya.


"Oh Tuhan!" Kiara menutup mulutnya kemudian. Dia menyadarkan dirinya jika dia sendiri yang semalam menyuruh suaminya tidur di sampingnya. "Kenapa aku ini? Kiara, dia suami kamu dan dia berhak tidur sama kamu." Kiara meyakinkan dirinya sendiri.


Kiara bangun perlahan dengan memindahkan tangan suaminya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi agar dapat menyiapkan sarapan pagi.


"Mas Arthur?" Kiara kaget saat akan keluar kamar mandi melihat ada suaminya di depan pintu.


"Kamu sudah selesai mandinya?"


"Aku lupa belum mengambil baju gantiku. Apa kamu mau mandi?"


"Iya, kalau kamu belum mandi, aku nanti saja menunggu kamu selesai."


Kiara mengangguk dan berjalan menuju lemari bajunya untuk mengambil seragam sekolahnya.


Dia melewati Arthur kembali masuk ke dalam kamar mandi. Kiara tampak bersandar di daun pintu kamar mandi dengan perasaan yang dia sendiri tidak tau apa itu?


Arthur pun tampak masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan salah satu tangan menapak pada daun pintu. Arthur terdiam di sana.


Sekali lagi pintu terbuka dan Kiara tampak melihat pada suaminya yang agak kaget melihat Kiara keluar lagi dari kamar mandi.


"Ada apa Kiara? Apa ada yang kamu butuhkan lagi?"


"Mas mau mandi juga, kan?"


"Iya, tapi aku akan menunggu kamu selesai mandi dulu."


Kiara tampak menggigit bibir bawahnya. "Apa kamu keberatan jika kita mandi bersama agar tidak terlambat kamu ke kantornya."


"Apa?" Arthur tampak kaget mendengar apa yang Kiara katakan.


"Kamu bisa mandi memakai shower dan aku di dalam bathub."


"Kamu serius, Ara?"


"Tentu saja." Kiara membuka lebar pintu kamar mandinya agar Arthur dapat masuk juga ke dalam kamar mandi.


Mereka berdua akhirnya ada di dalam kamar mandi. Rasa canggung di antara keduanya pun tercipta.


"Kita mandi sekarang saja. Aku akan ke sana." Arthur menuju tempat shower yang hanya terhalang oleh kaca besar dan tentu saja Kiara dapat melihat tubuh polos suaminya.


Kiara segera membuang muka, tangannya menyentuh pada dadanya yang sekarang terasa jantungnya berdetak sangat kencang. Kiara masuk melepas satu persatu baju yang dia kenakan, dan hal itu tentu saja tidak luput dari penglihatan Arthur.


Kiara masuk ke dalam bathub, merendam dirinya, tapi pikirannya tidak merasakan ketenangan di dalam sana.


Dia sesekali melirik ke arah suaminya yang masih sibuk mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower.


"Mas."


Arthur kaget merasakan ada telapak tangan menyentuh pada punggungnya, dan mendengar suara Kiara di belakangnya.


"Kiara, ada apa?" Arthur segera mematikan kran airnya.


"Apa kamu siap jika kita memiliki seorang anak?" tanya Kiara dengan ragu-ragu.


Sekali lagi Arthur dibuat terkaget dengan pertanyaan Kiara. "Tentu saja aku aku ingin memiliki seorang baby denganmu." Tangan Arthur menelusup pada pipi Kiara.


"Pasti menyenangkan jika kita memiliki seorang bayi."


"Apa itu artinya kamu siap jika melakukan tugasmu sebagai seorang istri?" Arthur pun ragu bertanya pada Kiara.


Kiara sebenarnya masih bimbang dengan keputusannya, dia takut jika nanti akan mengecewakan suaminya lagi, tapi jika dia tidak melawan rasa takutnya itu, mau sampai kapan dia akan bersikap seperti ini? Dia tidak mau kalau sampai suaminya akan mencari kebutuhan batinnya pada wanita lain, apa lagi suaminya itu pasti banyak sekali yang ingin mendekatinya.


"Aku ingin menjadi yang selalu bisa membahagiakan kamu, Mas." Jemari Kiara menelusuri perlahan perut six pack suaminya, dan tentu saja hal itu membuat Arthur merasakan sesuatu yang menggelitik. Dia mendekat dan perlahan mencium bibir Kiara.


Kiara pun mencoba untuk menyambut apa yang Arthur inginkan karena dia juga ingin hal itu.


Arthur mulai terbawa suasana dan dia memainkan telapak tangannya mengusap sejengkal demi sejengkal tubuh Kiara.


Kiara yang tampak sedang berperang batin mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang menyentuhnya kali ini bukan pria yang sudah dengan kasar merenggut kehormatannya, tapi pria ini adalah suami yang sekarang dia cintai.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu." Kiara terus mengucapkan hal itu dengan Arthur yang sudah mulai liar gerakannya karena dia pun sudah menahan hasratnya cukup lama.


Arthur pun akhirnya mendapatkan apa yang menjadi haknya, dan Kiara tampak tersenyum dengan lelehan air mata bahagia karena dia sudah bisa melawan rasa traumanya padan kejadian buruk yang telah menimpanya dulu.


"Sekali lagi, Ara. Kita lakukan di atas tempat tidur. Apa kamu mau?" tanya Arthur saat melepaskan kecupannya pada bibir Kiara. Kiara hanya bisa mengangguk pasrah dan Kini tubuhnya digendong oleh Arthur keluar dari kamar mandi. Dia membawa Kiara ke atas tempat tidur, dan sekali lagi menuntaskan keinginannya yang belum terpuaskan.


Beberapa menit kemudian, Arthur tampak tersenyum di atas tubuh istrinya. Kiara pun tersenyum kecil pada Arthur.


"Sudah, ya, aku capek. Apa kamu tidak capek?" tanya Kiara polos.


Arthur menggeleng perlahan. "Hari ini tidak perlu masuk sekolah. Aku juga tidak akan ke kantor, biar sekretarisku yang mengurus pekerjaanku."


"Tidak mau, Mas. Hari ini adalah hari terakhir aku bisa bertukar kado dan saling tukar tanda tangan di seragam sekolahku. Bagaimanapun juga aku ingin merasakan hal itu."


Arthur tidak menjawab, dia malah menundukkan kepalanya pada ceruk leher Kiara.


"Tapi aku masih ingin, katanya mau memiliki bayi denganku."


"Nanti malam juga bisa, besok juga bisa. Mas! Aku mau ke sekolah."


Arthur menarik kepalanya perlahan dan sekali lagi melihat pada istrinya. "Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan menagih janjimu."


"Janji? Aku tidak berjanji. Aku hanya bilang hal itu bisa kita lakukan nanti malam atau besok."


"Tapi aku mendengarnya itu seperti janji."


"Jangan membuatku terpojok, Mas. Sudah, aku mau mandi." Kiara mendorong pelan tubuh suaminya agar minggir dari atas tubuhnya


"Kalau begitu kita mandi bersama saja."