
Mba Tami berdoa semoga Kiara dan Arthur bisa menemukan kebahagiaan mereka. Kiara tidak menjawab apa yang didoakan oleh Mba Tami.
Malam itu Kiara di rumah sendirian sedang menyiapkan beberapa barangnya yang nanti akan dia bawa ke apartemen Arthur. Dia sengaja sehari ini tidur di rumahnya untuk memberitahu para tetangganya jika dia akan pergi dan tinggal di rumah saudara ibunya.
"Aku tidak tau apa yang aku lakukan ini salah atau benar, tapi setidaknya aku tinggal dengan orang yang memiliki hubungan denganku, bukan berbuat di luar hal yang salah." Kiara memasukkan bajunya kemudian dia berbaring di atas tempat tidurnya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pada pintu rumah Kiara. Dia beranjak dan melihat dari balik jendela.
"Malam Kiara."
"Arthur, ada apa malam-malam ke sini? Bukannya aku besok akan tinggal ke tempat kamu?"
"Aku mau membawakan kamu makanan. Apa kamu sudah makan?"
Kiara menggeleng perlahan. "Masuklah."
"Aku hanya mengantar ini, lagi pula ini sudah sangat malam dan pasti tidak enak kalau nanti ada tetangga kamu yang melihat kita."
Arthur mendekatkan dirinya dan mengecup kening Kiara lembut. Kiara hanya diam saja mendapat kecupan yang entah kenapa sekarang ini dia menyukainya.
"Setelah makan langsung tidur. Aku mau langsung pulang dan juga beristirahat."
Kiara mengangguk perlahan. "Hati-hati, Arthur."
Arthur tersenyum kecil dan dia berjalan pergi dari sana. Kiara segera menutup pintunya dan membawa makanan yang dibelikan oleh Arthur ke dalam kamarnya.
"Aku ini kenapa?" Kiara tersenyum sendiri. "Mungkin ini hanya perasaan sekadar membalas kebaikan dia saja, tapi dia tau sekali kalau aku lapar dan belum makan." Kiara membuka makanan dari Arthur dan itu adalah makanan kesukaannya.
Di luar rumah Kiara ternyata Arthur masih ada di sana dan dia sepertinya menunggu seseorang.
"Tuan Arthur saya sudah datang." Seorang pria dengan baju serba hitamnya dan topi turun dari motornya.
"Kamu malam ini berjaga di sini. Awasi rumah yang ada di sana." Arthur menunjuk rumah kecil dan sederhana milik Kiara.
"Dia kekasih Anda, Tuan?"
"Dia tidak hanya kekasihku, tapi segalanya untukku. Pastikan dia aman malam ini."
"Baik, Tuan, Tuan Arthur bisa percaya pada saya."
"Aku tau. Ya sudah! Kalau begitu aku pergi dulu."
Mobil Arthur berjalan pergi dari sana. Bagaimanapun Kiara tinggal di rumah itu sendirian, dan Arthur tidak tenang jika tidak ada yang menjaga Kiara.
Kiara hari ini berangkat sekolah bersama dengan Arthur. Dia juga membawa serta tas berisi baju dan sedikit barang keperluannya.
"Nanti pulang sekolah aku jemput di sini dan kita langsung ke apartemenku. Aku hari ini akan menemanimu karena kemarin aku sudah menyelesaikan pekerjaanku."
"Iya, aku juga sudah membawa tasku. Aku boleh minta tolong untuk titip sementara tas bawaanku."
Arthur tersenyum kecil. "Sudah aku bilang tidak perlu membawa barang-barangmu, nanti akan aku belikan segala keperluanmu di sana."
"Tidak mau, aku tidak mau menghabiskan uangmu."
"Capek aku menjelaskan sama kamu. Baiklah! Aku akan membawa tas kamu ke apartemenku dulu karena ada dokumen milikku yang tertinggal di sana karena semalam aku tidur di sana."
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk ke sekolah dulu." Kiara mengecup punggung tangan Arthur kemudian pergi menuju gedung sekolahnya.
Arthur kembali ke apartemennya dengan membawa tas milik Kiara. Sesampai di sana dia mencari dokumen yang dia butuhkan.
Arthur yang akan berjalan keluar menuju pintu apartemennya, langkahnya tertahan karena dia tiba-tiba penasaran saja dengan tas Kiara.
Arthur meletakkan dokumennya dan membuka tas milik Kiara. Dia menata baju-baju Kiara di atas tempat tidur sampai akhirnya, kedua matanya menatap benda indah milik Kiara.
"Cantik sekali." Arthur tersenyum malu sendiri. "Meskipun dia terlihat biasa dan sederhana, ternyata dia memiliki selera yang bagus. Ingatkan aku untuk membelikan dia pakaian dalam yang banyak."
Arthur tampak jijik dan sungkan dia menata baju milik Kiara di dalam walk in closetnya. Dia juga menaruh beberapa pembersih muka dan make up yang hanya ada bedak serta lipstik dengan warna lembut di meja kecil dekat cermin.
"Dia memang gadis yang sederhana, tapi aura cantiknya bisa terlihat jelas."
Arthur mengambil dokumennya dan pergi dari apartemen karena dia ada janji bertemu dengan Gio di restoran memiliknya dengan Gio.
"Gio, apa aku terlambat?"
"Tentu saja tidak. Hei! Ada apa ini? Kenapa aku melihat ada aura kebahagiaan dari wajah kamu? Apa kamu memenangkan sebuah tender yang besar?"
Arthur duduk santai sembari tersenyum kecil pada Gio. "Jangan senyum seperti itu padaku, aku geli melihatnya."
"Aku memiliki berita yang sangat bahagia dan kebahagiaan ini lebih dari sebuah memenangkan tender yang besar."
"Ada apa? Ceritakan padaku, Bro. Jangan membuat aku penasaran." Gio terlihat tidak sabar mendengar cerita Arthur.
"Mana orang yang ingin kamu perkenalkan padaku, yang kamu bilang dia sangat pandai dalam pekerjaan ini?"
"Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan, aku mau mendengar dulu tentang ceritamu. Lagi pula dia belum datang karena dia bilang masih mengantar anaknya ke rumah sakit dulu. Anaknya semalam demam."
"Oh ... jadi dia sudah berkeluarga?".
"Dia seorang janda yang memiliki seorang anak perempuan yang masih berusia lima tahun. Dia ditinggal suaminya menikah lagi. Kasihan sekali dia, tapi dia wanita yang kuat dan pintar, dan aku yakin dia akan bisa menjadi manager di restoran kita ini."
"Aku percaya padamu. Oleh karena itu aku serahkan tugas ini sama kamu."
"Tentu saja. Oh ya, kamu belum ceritakan apa yang membuat kamu senang?"
"Kiara akan tinggal di apartemenku mulai hari ini."
"Apa? Kamu serius? Jadi, soal perjanjian itu akan berjalan mulai sekarang?"
"Sebentar sudah berjalan sejak aku mengajaknya untuk membuat kesepakatan itu."
"Semoga kamu dan Kiara segera menemukan apa itu cinta, sehingga kalian berdua bisa hidup bahagia."
Arthur tidak menjawab dia hanya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tidak lama seorang wanita dengan kacamata hitamnya dan tas mahal yang dia bawa berjalan menuju ke arah meja Arthur. Jika dilihat dari penampilannya, wanita itu sepantaran dengan Arthur.
"Selamat pagi semua," sapanya lembut.
"Halo, Manda, kamu sudah datang." Gio berdiri dan mengajak wanita itu berjabatan tangan.
"Halo, Pak Gio, maaf kalau saya datang terlambat."
"Tidak apa-apa. Oh ya! Bagaimana kabar anak kamu, apa dia baik-baik saja?"
"Anak saya baik-baik saja, dia hanya demam biasa, tapi sudah dirawat oleh pengasuh di rumah."
"Oh ya! Kenalkan ini Arthur, dia orang yang aku ceritakan sama kamu waktu itu. Dia pemilik saham terbesar di restoran ini."
Arthur berdiri dari tempatnya dan mengajak wanita bernama Manda itu untuk berjabat tangan.