
Mega yang di dalam kamar bersama Elang tampak senang karena dia dimintai tolong oleh Elang untuk mengobati bekas gigitan wanita itu. Ups! Maksudnya gigitan serangga.
"Kamu mengadu saja pada manager hotel ini yang tidak bisa menjaga kebersihan sampai ada serangga masuk ke dalam kamar mandi."
"Tidak perlu seperti itu. Bagaimanapun mereka tidak bisa disalahkan karena tempat ini juga banyak ditumbuhi pepohonan dan tempatnya memang dekat dengan bukit serta ada pantainya."
"Iya, juga, tapi setidaknya mereka bisa lebih menjaga tempat ini agar tidak sampai ada lubang atau ventilasi yang bisa dimasuki hewan-hewan itu."
Elang memegang tangan Mega dan menatapnya lekat. "Terima kasih sudah sangat perhatian padaku."
"Tentu saja aku sangat perhatian padamu, Lang. Kamu adalah calon tunangannku dan bakal menjadi calon suamiku. Lang, aku harap kamu bisa menerimaku dan mencintaiku dengan tulus karena semua itu sedang aku lakukan agar dapat mencintaimu dan menerimamu dengan tulus." Tangan Mega mengusap lembut pipi Elang.
"Aku akan melakukannya karena kamu memang pantas mendapatkannya."
Mega mendekatkan bibirnya karena dia ingin sekali merasakan sekali lagi bibir pria yang sangat dia cintai itu.
"Aduh!"
"Ada apa, Lang?"
"Kenapa rasanya tiba-tiba perih begini?" Elang melihat samar pada Mega, dia sebenarnya sedang mencari alasan menghindar dari ciuman Mega.
"Apa kita ke dokter saja untuk memeriksakan gigitan serangga itu? Siapa tau itu digigit serangga yang bisa membuat lukanya meradang."
"Tidak perlu, mungkin ini hanya efek obat saja, kita tunggu saja siapa tau nanti sembuh."
"Oh ya sudah."
"Mega, aku sebenarnya senang sekali ditemani kamu di sini, tapi tidak enak jika kita berduaan di dalam kamar hotel seperti ini, takutnya nanti ada yang melihat kita dan berpikiran yang tidak-tidak."
"Benar apa yang kamu bilang, apa lagi kita di sini dengan masih membawa nama sekolah."
"Begini saja, kamu keluar dulu dan tunggu aku di depan pintu karena aku mau ke kamar mandi sebentar setelah itu kita akan kembali ke bawah bersama-sama."
"Okay, Lang."
Mega keluar dari kamar hotel Elang dan berdiri di depan pintu. "Aku sangat mencintaimu, Lang, dan aku bisa melakukan berbagai cara agar kamu hanya mengingatku dalam hati dan pikiranmu."
Tidak lama Elang dan Mega turun dengan bergandengan tangan. Tia dan Kiara yang dari tadi berada di lantai bawah tampak melihat dua orang yang tidak lama lagi akan melangsungkan pertunangan itu.
"Ara, lihat mereka berdua! Sebenarnya aku senang melihat dua orang itu, tapi entah kenapa saat mengingat Elang dulu pernah menjadi kekasihmu, dan kalian termasuk pasangan favoriteku, aku seperti ingin membenci mereka."
"Kenapa membenci mereka? Mega itu bukan mengkhianatiku. Elang dan Mega akan bertunangan setelah aku putus dengan Elang."
"Iya juga sih! Eh, Ara, bagaimana kalau kamu berpacaran saja sama kakaknya Mega. Pasti seru sekali nanti bertemunya, dan bisa jadi judul film. Kau Bersama Mantanku, Aku Bersama Kakakmu." Tia malah tertawa dengan senangnya.
"Ya ampun, Tia!" Kiara terseyum dengan aneh.
"Bagus Kiara."
"Kamu selalu memakai hati. Jujur saja, aku kira waktu Kak Arthur naik ke atas panggung dan memberimu bunga, aku langsung iri sama kamu, aku kira kalian sepasang kekasih, tapi ternyata bukan. Huft! Coba aku yang berada di posisimu, sudah aku nyatakan cinta duluan pada Kak Arthur." Wajah Tia terlihat seperti dia sedang mengkhayal sesuatu.
"Sudah, Tia! Kamu jangan membayangkan kekasih orang lagi karena hal itu tidak baik."
"Kenapa kamu jadi seolah-olah seperti kekasihnya Kak Arthur?"
"Memangnya salah kalau aku mengingatkan agar jangan membayangkan dengan kekasih orang? Hal itu memang tidak baik, bisa keterusan nanti bisa-bisa membayangkan dengan suami orang lain. Tidak boleh Tia."
"Iya juga sih!" Tia malah tertawa dengan senangnya sembari memeluk Kiara.
"Kita harus menjaga hati dan pikiran agar tidak terlena akan suatu hal, apa lagi hal semacam ini. Mas Arthur sudah punya calon istri."
"Iya, Emak Ara! Lagi pula aku juga gak mau sampai membayangkan menikah dengan dia. Serem! Mamanya Mega sombong sekali, selalu melihat orang dari status sosial, aku yang hanya anak orang biasa bisa-bisa dijadikan bahan olokan kalau sampai menikah dengan salah satu anaknya."
Kiara seketika terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Tia. Ara teringat dengan hinaan yang pernah mamanya Mega lontarkan padanya.
"Kiara, kamu melamun apa? Pasti sedang membayangkan menjadi menantu mamanya Mega. Eh, jangan dibayangkan, Ara, serem loh. Jauhi saja Mas Arthur."
"Siapa yang membayangkan? Sudahlah! Kenapa kita malah membicarakan masalah ini."
Mereka kembali mengikuti kegiatan hari ini. Semua murid tampak senang karena di acara perpisahan sekolah yang terakhir ini semua murid diberi kesempatan untuk mengeluarkan semua unek-unek selama sekolah di sekolah mereka. Mulai hal yang ingin di sampaikan untuk guru tertentu di sana, sampai pada teman-teman juga dan mereka akhirnya saling meminta maaf dan saling mendoakan semoga selepas dari seragam putih abu-abu ini mereka bisa menjadi orang baik yang sukses.
***
"Anak-anak! Ayo cepat naik busnya," suara teriakan guru mereka menyuruh para muridnya segera menempati tempat duduknya di bus.
Semua sudah masuk, dan Kiara berjalan paling belakang dengan menenteng sebuah goodie bag berukuran sedang.
"Pak, ini tolong diberikan untuk anak Bapak yang paling kecil."
"Apa ini, Kiara?" Kiara sedang berbicara dengan wali kelasnya yang saat ini berdiri di depan pintu bus untuk mengabsen para muridnya agar tidak ada yang ketinggalan masuk ke dalam bus.
"Hanya hadiah kecil, Pak, tapi semoga putra kecil Bapak suka dengan pemberianku."
"Terima kasih, Kiara." Pria paruh baya itu menerima pemberian dari muridnya. "Oh ya, Kiara! Bapak mau mengatakan jika pria pilihan kamu itu cocok sekali sama kamu. Bapak sedikit banyak tau tentang kekasihmu, dan kamu tepat memilihnya menjadi pacar kamu."
Kiara ini agak bingung dengan apa yang wali kelasnya katakan. "Maaf, Pak, maksud Bapak apa ya? Kiara benar-benar masih bingung."
"Kamu itu! Bapak pernah melihat kamu berpelukan dengan kekasihmu di hotel ini."
"A-apa?"
"Kekasihmu pria yang baik dan sepertinya dia sangat mencintaimu sampai dia rela datang ke sini untuk mengikuti kamu. Jangan kamu sampai lepaskan pria seperti itu karena akan sangat susah menemukan lagi yang lebih baik darinya." Tangan pria yang usianya bisa dibilang sepantaran mendiang ayah Kiara itu mengusap lembut pucuk kepala Kiara.
"Jadi, Bapak sudah tau kalau aku sama Mas Arthur memiliki hubungan?"
"Iya, dan kalian sangat cocok. Semoga bisa sampai ke jenjang pernikahan, ya."