
Acara pertunangan di mulai. Mega terlihat bahagia saat Elang menyematkan cincin di jari manisnya. Elang pun mencium kening Mega dengan lembut.
Semua tamu undangan, bahkan Kiara sendiri tampak bertepuk tangan dan terlihat bahagia.
"Apa kamu baik-baik saja melihat ini semua, Kiara?" tanya Arthur.
"Aku sedih, Mas. Seharusnya aku yang ada di posisi itu," celetuk Kiara.
Arthur seketika melihat ke arah istrinya. "Kiara." Wajah Arthur pun seketika terlihat terkejut.
Tangan Kiara dengan cepat mencubit pinggang suaminya. "Aku hanya bercanda, Mas! Salah sendiri kenapa malah bertanya seperti itu? Mas mengesalkan!"
"Aku, kan cuma memastikan saja, apa kamu benar-benar sudah melupakan mantan kamu itu?"
"Kalau aku belum lupa, Mas mau apa?"
Arthur mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara. "Aku akan membuat kamu melupakannya," bisiknya terdengar manja.
Kiara tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya. "Bagaimana caranya?" balas Kiara lirih.
"Setelah berkonsultasi dengan Tante Maura." Kiara langsung tersipu malu.
Keromantisan mereka dilihat oleh beberapa mata yang sama sekali tidak menyukai Kiara. Alexa tampak terlihat marah melihat wajah bahagia Kiara.
Elang pun samar melihat hal itu, sampai salah satu tangannya mengepal erat.
"Lang, Kiara kelihatannya bahagia bersama dengan Kakakku, Ya?"
"Iya, dan aku senang bisa melihat hal itu."
"Senang? Kamu serius senang melihat mereka?"
"Tentu saja. Memangnya kamu tidak senang melihat kakak kamu dan sahabatmu bahagia seperti itu?"
Mega tampak bingung. Jujur saja dia tidak senang karena dia tidak mau Kiara menjadi kakak iparnya. "Aku sebenarnya marah pada Kiara karena menyembunyikan kebohongan tentang dia yang sudah menikah dengan kakakku."
"Aku sudah tidak peduli padanya karena aku sudah punya kamu, Mega. Sebentar lagi kita juga akan memiliki keluarga yang bahagia." Elang mengecup tangan Mega.
Mega terlihat sangat bahagia mendengar apa yang Elang katakan. "Aku juga bahagia akhirnya bisa bersama dengan pria yang sebenarnya dari kecil aku mencintainya."
Kella berjalan mendekati Alexa yang wajahnya benar-benar terlihat marah. "Kenapa dia datang ke sini, Alexa? Apa kamu tidak memberitahunya agar tidak hadir di pertunangan anak kita?"
"Aku sudah menghubunginya, tapi wanita itu memang sepertinya ingin menunjukan siapa dia sekarang. Aku kesal sekali jika nanti orang-orang bertanya siapa wanita yang dibawa oleh putraku."
"Lebih baik kamu menghindari saja pertanyaan seperti itu karena kalau mereka tau siapa yang datang bersama Arthur, reputasi keluarga kamu akan buruk."
Alexa melihat Kella dengan wajah masih dibalut kekesalan. Dia nanti akan bicara pada Arthur.
Sekarang orang-orang saling mengucapkan selamat pada Mega dan Elang, dan terakhir Kiara yang berdiri di depan Mega tampak merasa canggung.
"Mega, selamat atas pertunangan kamu dan Elang. Aku sangat bahagia."
Kiara memeluk Mega, tapi Mega menanggapinya dengan dingin dan Kiara tau jika sahabatnya itu tidak sehangat dulu.
"Aku kira kamu tidak akan datang ke sini," ucapnya datar saat Kiara melepaskan pelukannya.
"Tentu saja dia harus datang karena Kiara adalah kakak iparmu, Mega."
"Jujur saja aku tidak ingin memiliki kakak ipar seorang pembohong," ujarnya ketus.
"Mega, aku minta maaf sama kamu, aku ingin sekali bicara banyak sama kamu."
"Tidak perlu, semua sudah jelas sekarang. Jadi, tidak perlu menjelaskan apapun."
"Selamat malam semuanya," suara seseorang yang baru datang menyapa keluarga Arthur.
"Ya ampun! Selena kenapa baru datang?" Alexa memeluk dengan senang saat melihat Selena ada di sana.
"Tante, aku minta maaf karena tadi ada pemotretan mendadak dan aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Setelah selesai melakukan pemotretan, aku langsung datang ke sini.
"Pantas sekali, hari ini kamu sangat cantik dan terlihat sangat menawan," puji Alexa yang memang sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir Kiara.
"Terima kasih, Tante juga sangat cantik. Mega, selamat atas pertunangan kamu." Selena mengecup pipi kanan dan kiri Mega.
"Terima kasih, Selena."
Selena sekarang melihat ke arah Arthur dan dia berjalan mendekat pada pria yang hanya melihatnya datar, bahkan lebih terkesan dingin.
"Hai, Arthur. Aku senang melihat kamu di sini." Selena yang mau memeluk Arthur, tapi dengan cepat tangan pria itu menahan tubuh Selena sehingga membuat jarak di antara mereka. "Ada apa, Arthur?"
"Jaga sikap kamu. Mulai sekarang tidak perlu memelukku karena aku tidak mau ada salah paham."
Wajah Selena seketika terlihat kesal, dia melihat Kiara yang berdiri di samping Arthur.
"Halo, Selena. Sudah lama aku tidak melihatmu," sapa Alan dengan ramah.
"Halo, Om Alan. Kita memang sudah lama tidak bertemu. Om terlihat semakin tampan saja."
"Terima kasih, kamu juga terlihat sangat cantik, tapi masih cantik menantuku apa lagi dia sedang mengandung cucuku. Oh ya! Apa kamu sudah tau kalau Arthur sudah menikah dan dia akan menjadi seorang ayah." Tangan Alan menepuk pundak putranya.
"Aku baru saja mengetahui hal itu, dan aku sangat terkejut." Selena melihat ke arah Arthur.
"Kamu sendiri bukannya juga sudah menikah? Mana suami kamu?"
Selena sekarang menjatuhkan pandangannya pada ayahnya Arthur. "Aku sudah berpisah dengan suamiku karena ternyata dia bukan pria yang baik dan bisa aku andalkan."
"Oh ... aku minta maaf akan hal itu, Selena."
"Tidak apa-apa, Om. Aku seharusnya memang memilih pria yang sangat mencintaiku dan dihatinya hanya ingin membahagiakan aku." Selena kembali lagi melihat Arthur. Selena seolah ingin mengingatkan Arthur dengan kata-katanya yang dulu. Jika dia menikah dengan Selena, di hatinya hanya ada keinginan untuk membahagiakan Selena.
"Suatu hari nanti kamu akan menemukan orang seperti yang kamu inginkan. Seperti putraku yang sudah menemukan wanita yang membuatnya bahagia."
"Om, apa Om tau siapa wanita yang dinikahi oleh Arthur?" Selena memperlihatkan senyum miringnya. "Kiara itu hanya wanita miskin yang ayahnya meninggal bunuh diri karena ketahuan mencuri uang perusahaan di mana dia berkerja."
"Itu tidak benar!" seru Kiara marah. Arthur segera memegang tangan istrinya dan berdiri berhadapan dengan Kiara.
"Sayang, tenanglah." Arthur mengusap lembut pipi Kiara.
"Aku tau karena putraku selalu mengatakan semuanya padaku. Tidak ada yang disembunyikan oleh Arthur dariku dan aku sangat menerima Kiara menjadi menantuku," terang Alan.
"Aku permisi dulu, aku mau mengambilkan sesuatu untuk istriku. Sayang, ayo!"
Arthur menggandeng tangan Kiara dan mengajaknya pergi dari sana karena dia tidak mau sampai emosi dan membuat acara pertunangan adiknya berantakan.
"Selena, aku mengenal Kiara dengan sangat baik karena aku percaya dengan semua keputusan putraku, dan aku sangat mendukung saat dia memilih Kiara. Oh ya! Satu lagi. Aku juga tau saat kamu mengkhianati putraku dan menikah dengan orang lain. Jujur saja aku bersyukur kamu tidak jadi menantuku." Alan tersenyum sangat elegan sampai rasanya menusuk hati Selena.