Be Mine

Be Mine
Hinaan Lagi



Mereka bertiga sudah sampai di depan rumah besar yang tampak megah. "Mega, aku mau kembali ke kantor karena pekerjaanku belum selesai."


"Iya, Kak. Aku keluar dulu ya! Aku kebelet." Mega dengan cepat keluar dari dalam mobil dan berlari menuju pintu masuk utama.


Kiara memandangi Arthur yang wajahnya tampak terdiam. Dia tau jika mungkin Arthur sedang marah padanya saat ini karena ucapan Kiara tadi.


"Terima kasih sudah membelaku dan seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti tadi."


"Tidak apa-apa karena aku sudah terbiasa dengan sikapmu itu."


"Arthur, aku hanya tidak mau kamu terlibat dengan masalah seperti ini, apa lagi mama kamu dan mamanya Elang kenal baik. Aku pasti bisa menyelesaikannya sendiri."


"Aku tidak peduli walaupun mamaku kenal baik dengan mamanya Elang. Siapa pun yang berani menghina istriku, aku tidak akan tinggal diam."


Kiara sekali lagi menatap pria yang ada di depannya itu. "Arthur, aku mau masuk dulu." Kiara menarik tangan Arthur dan dia mengecup punggung tangan suaminya.


Kiara turun dari dalam mobil dan menyisahkan senyum di bibir Arthur. Arthur pergi dari sana untuk kembali ke kantornya, sedangkan Kiara masuk ke dalam rumah menyusul ke kamar Mega.


"Arthur sudah pergi?"


"Iya, dia tadi langsung pergi karena urusan pekerjaannya belum selesai." Kiara mengambil baju gantinya yang dia letakkan pada dalam lemari Mega.


"ini foto siapa, Mega?" Kiara melihat ada foto tanpa bingkai terlihat di laci yang tidak tertutup dengan baik.


"Foto?" Mega segera berlari kecil ke arah lemari, mengambil foto itu.


"Tampan sekali dia, apa dia Arthur?"


"Dia bukan kakakku, dia temanku waktu kecil dulu dan dia pernah menyelamatkan aku dari anak-anak nakal yang pernah menggangguku." Mega bercerita dengan tatapan tidak lepas dari foto yang dia pegang.


"Kamu suka sama dia, ya? Fotonya masih kamu simpan. Kalian masih berkomunikasi?"


Mega menggeleng. "Kita sudah lama lost kontak dan aku tidak tau di mana dia sekarang."


"Kenapa kamu tidak berusaha mencarinya?"


"Hem ... aku ini seorang gadis dan dia laki-laki, masak aku yang mencarinya duluan." Mega memasukkan foto itu ke dalam lacinya lagi.


"Iya juga sih! Dia pasti juga sudah memiliki pacar dan takutnya dia juga lupa sama kamu."


"Makannya aku untuk apa mencarinya. Kalau dia memang jodohku, pasti nanti ketemu."


Mega dan Kiara tidur terlentang di atas tempat tidur sembari menatap langit-langit. "Pintar."


"Tapi aku berharap dia jodohku, sih Kiara. Aku sebenarnya jatuh cinta sama dia dari kecil karena kebaikannya itu, tapi sangat menyakitkan jika mencintai seseorang, tapi tidak berbalas."


"Bukannya tidak berbalas. Dia tidak tau kamu menyukainya, apa lagi kalian waktu itu masih kecil. Memangnya dia pindah sekolah sampai kalian berpisah?"


"Dia tidak pindah, hanya saja kita berdua beda sekolah ternyata dan aku tidak tau dia sekolah mana. Kita dulu satu sekolah waktu masih SD, sekarang tidak tau di mana."


"Teman-teman kamu lainnya tidak ada yang tau?"


Mega menggeleng. "Aku ini anaknya pendiam. Jadi, jarang bergaul. Sudahlah! Jangan dibahas lagi karena aku tidak mau malah mengingatnya dan membuat hatiku sedih."


Kiara menengok ke samping dan memeluk sahabatnya itu. "Jangan sedih. Kamu cantik, baik, dan sangat sempurna bagiku. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan seseorang yang sangat menyayangimu dan bisa membahagiakanmu."


"Dan semoga itu dia." Mega terkekeh.


"Memang, nama dia siapa?"


"Aku memanggilnya Nio. Bagiku panggilan itu sangat manis untuknya."


"So sweet sekali." Mereka berdua berpelukan dengan erat.


Di dalam sebuah mobil mewah berwarna merah tampak seorang wanita yang duduk di bangku belakang tampak serius sedang mendengarkan seseorang yang sedang bicara di telepon dengannya.


"Kella, ayolah! Arthur putraku itu seorang pengusaha muda yang sangat terkenal karena kesuksesan bisnisnya. Dia seorang direktur utama di sebuah perusahaan besar miliknya, tidak mungkin dia menyukai gadis muda dan oh ... No." Wajah wanita itu tampak malas membayangkan sesuatu. "Kiara teman Mega itu sama sekali bukan tipenya."


"Tapi dia membela sekali gadis itu saat aku menyalahakannya atas apa yang terjadi antara Elang dan Arthur."


"Kamu tidak mengenal putraku itu. Dia memang memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap orang-orang yang tidak mampu dan itu semua dari DNA mendiang ibunya. Jadi, kamu jangan kaget jika Arthur akan bersikap membela Kiara, apa lagi putramu sudah dengan tidak sopan memeluk Kiara."


"Putraku dipancing oleh gadis itu. Dia gadis yang pintar merayu para pria kata agar dekat dengannya. Aku menghubungimu agar kamu tau dan jangan sampai putramu itu terkena rayuan Kiara."


"Kamu tenang saja karena Kiara itu sama sekali bukan tipe Arthur. Lagi pula, Arthur nanti kalau dia tidak bisa menemukan jodohku atau wanita yang pantas menjadi istri keluarga Lucas, aku akan menjodohkannya dengan putri dari temanku yang sekarang CEO di perusahaan besar yang ada di London."


"Wah! Wanita seperti itu memang pantas untuk menjadi menantumu, Alexa."


"Tentu saja, menantu keluarga Lucas harus setara. Ya sudah, nanti aku hubungi lagi karena aku mau menghubungi suamiku dulu. Bye Kella."


"Bye Alexa."


Wanita cantik bernama Alexa itu duduk dengan memikirkan sesuatu. "Mega sangat baik selama ini dengan Kiara, dan aku harap gadis itu tidak memanfaatkan kebaikan putriku."


Sore itu Kiara dan Mega sedang berada di halaman rumah yang sangat luas. Mereka berdua sedang menyiram bunga dan bermain air bersama.


"Kiara, aku jadi basah semua!"


"Aku itu yang harus menyalahkan kamu, bukannya kamu duluan yang menyemprotkan air itu sama aku."


"Ya sudah kalau begitu kamu terima ini." Mega malah mengambil tanah dan mengeluarkan pada baju Kiara.


"Mega! Awas, Ya." Kiara yang ingin membalas, tapi Mega malah lebih cepat mengoleskan pada pipi Kiara.


"Wajahmu jelek sekali, Kiara." Mega tertawa dengan senangnya.


"Aku balas, kamu!"


Mereka berdua tampak berkejaran seperti dua anak kecil yang bahagia dan tanpa beban.


"Terima ini, Kiara." Mega melempar segenggam tanah ke arah Kiara, tapi kali ini Kiara bisa menghindarinya.


"Tidak kena! Sekarang aku akan membalasmu, Mega."


Sebuah lemparan kecil yang Kiara arahkan pada Mega, tapi Mega berhasil menghindar dengan cara menunduk.


"Oh Tuhan!" seru Kiara dengan kedua mata mendelik.


"O ... Oh My God!"


Mega menoleh dan dia terkejut karena ternyata lemparan tanah itu mengenai pada baju seorang wanita yang tak lainnya adalah mamanya Mega.


"Mama? Kenapa Mama bisa ada di sini? Bukannya Mama masih di luar negeri?"


"Mega, Kiara! Kalian ini sedang bermain apa?" Wajah wanita itu tampak marah.


Kiara yang merasa bersalah langsung mendekati Mega dan mamanya. "Tante, saya minta maaf, tadi saya ingin melempar tanah itu ke arah Mega, tapi tidak tau jika tiba-tiba Tante datang ke sini."


Tatapan kedua mata Alexa sangat tajam pada Kiara. Wajah Kiara benar-benar merasa sedih dan bersalah.


"Mama, Kiara tidak sengaja melempar tanah itu ke Mama. Kami tadi sedang bermain melempar tanah liat, tapi tidak tau jika Mama tiba-tiba datang ke sini."


"Mega, sejak kapan kamu bermain dengan hal-hal kotor dan menjijikan seperti ini? Apa tidak ada hal lain yang lebih baik dan berguna bisa kamu lakukan daripada melakukan hal seperti ini? Baju mama sangat mahal, dan apakah Kiara nanti dapat menggantinya?"