
Terlihat dua orang di dalam kamar hotel sedang berdiri saling berhadapan dengan wajah yang sama-sama tidak hangat.
"Alan, kenapa kamu terlihat marah padaku?"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada menantu kita?"
"Siapa maksud kamu?"
"Menantu kita hanya satu karena Elang belum menikah dengan Mega, dan kamu tau siapa yang aku maksud."
"Aku tidak pernah menganggap gadis miskin itu menjadi menantuku. Arthur pun tidak mengatakan pada kita saat dia menikahi Kiara."
"Arthur memang salah karena hal itu, tapi pilihannya untuk menikahi Kiara bagiku adalah pilihan yang tepat."
"Dia menikahi gadis miskin yang memiliki ayah yang mati karena bunuh diri, dan tidak hanya itu ayahnya mati bunuh diri karena sudah ketahuan mencuri uang perusahaan."
Alan tampak tidak percaya dengan apa yang istrinya ucapkan dengan nada membenci.
"Apa kamu sudah mencari kebenaran itu? Aku sudah mencari semuanya dan apa yang kamu katakan itu semua tidak benar, tapi meskipun hal itu benar pun kamu tidak boleh melakukan hal yang buruk pada Kiara karena semua yang terjadi pada keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan gadis malang itu."
"Ada, Alan! Hal itu bisa mempengaruhi reputasi keluarga Lukas di mana semua orang tau siapa keluarga kita."
"Oh God! Tetap saja itu yang kamu utamakan. Sekarang aku tau karena hal itu kamu sampai berbuat hal buruk padanya? Alexa, Kiara itu sedang hamil dan dia mengandung cucuku! Kalau sampai ada apa-apa sama dia dan bayinya, bukan hanya Arthur yang bisa berbuat di luar kendali, aku juga akan sangat membencimu!"
"Alan, aku tidak berbuat apapun pada Kiara! Aku sendiri tidak tau apa yang terjadi pada gadis itu sampai Arthur marah dan mencari orang-orang itu."
Alan berjalan mendekat ke arah istrinya. Sorot matanya pun terlihat tajam melihat wanita yang sudah lama menikah dengannya. "Apa kamu jujur dengan apa yang kamu katakan padaku?"
"Aku tidak berbohong sama kamu, Alan. Aku memang tidak suka dia datang ke sini, bahkan aku sudah mengancamnya untuk tidak datang ke sini, tapi ternyata dia berani datang dan tadi dia sukses membuat malu keluarga kita."
"Apa yang dilakukan Kiara sama sekali tidak membuat malu keluarga kita. Alexa, aku juga tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada calon cucuku."
"Anak gadis miskin itu bukan cucu kita, Alan! Aku tidak akan mengakuinya!"
"Terserah! Malam ini aku akan pergi ke Kanada dan aku akan kembali jika hati kamu sudah benar-benar bersih dari rasa benci pada menantumu." Pria pemilik wajah tegas itu berjalan keluar dari kamar hotel.
Alexa tampak tertegun karena dia tidak pernah melihat suaminya bersikap seperti itu padanya.
"Gadis itu benar-benar membuat keluargaku menjadi seperti ini, bahkan suamiku yang selalu bersikap manis padaku sampai marah seperti itu." Wajah Alexa tampak menahan marah.
Mega yang sebenarnya tadi mendengar pertengkaran kedua orang tuanya terlihat sedih. Dia tidak pernah melihat keributan kedua orang tuanya seperti itu.
"Kamu sudah mengambil hati Elang dan juga kakakku. Sekarang kamu mau mengambil hati ayahku. Kamu benar-benar tidak bisa dimaafkan Kiara!"
***
Pagi itu Kiara sudah berada di dapur untuk membuat sarapan. Arthur yang baru bangun sedikit kaget melihat tidak ada istrinya di sebelahnya.
"Dia itu kenapa tidak memberiku ciuman selamat pagi dulu?" Arthur beranjak dari tempat tidurnya dan memakai kaosnya.
Arthur yang akan keluar dari kamarnya, terhenti karena mendengar suara ponselnya. Kedua alis tebalnya hampir bertaut melihat tidak ada nama pada layar ponselnya.
"Siapa ini? Halo."
"Selamat pagi, Sayang."
"Ada apa kamu menghubungiku?"
"Arthur, aku sudah berada di apartemen kamu, tapi penjaga di sini tidak membiarkan aku masuk ke dalam."
"Sayang, aku hanya ingin bertemu denganmu dan mengantarkan makanan kesukaanmu saja."
"Kamu tidak perlu bersusah payah mengantarkan aku makanan karena istrinya sudah menyiapkannya dan dia membuatkannya sendiri."
"Arthur, kamu benar-benar berlaku kejam padaku."
"Selena, aku sama sekali tidak berlaku kejam sama kamu, tapi jika kamu memiliki niat buruk pada keluargaku, aku sudah bilang tidak akan diam saja. Lebih baik kamu menata hidupmu dan jangan menggangguku dan Kiara." Arthur langsung menutup panggilannya dan melempar ponselnya di atas tempat tidur.
Dia turun ke lantai bawah dan melihat Kiara sedang berkutat di dapur dengan Bi Yaya. Arthur berjalan menghampiri Kiara dan memberikan kecupan lembut pada dahi wanita itu.
"Pagi, Mas."
"Pagi. Kamu kenapa memakai masker? Apa kamu flu?"
"Aku tidak tahan bau masakan yang aku buat. Rasanya mau muntah saja."
"Kalau tidak tahan, kenapa malah memasak? Biar bibi Yaya saja yang membuat makanan."
"Tapi aku ingin membuat makanan pagi untuk kamu, Mas. Ini nasi goreng yang katanya mendiang ibu kamu sering membuatkan untukmu dan tadi aku minta ajari Bibi Yaya."
"Istrimu ternyata pandai memasak juga Arthur," puji Bibi Yaya.
"Terima kasih, Bi." Kiara memeluk bibi Yaya.
Arthur tersenyum senang melihat istrinya yang begitu mencintainya. "Tadi Selena menghubungiku dan dia ada di lantai bawah apartemen kita."
"Apa?" Kiara seketika menghentikan menggorengnya. "Dia mau apa ke sini?"
"Katanya mau mengirimkan makanan kesukaanku yang baru saja dia beli." Wajah Kiara seketika cemberut. "Jangan begitu wajahnya, dia tidak akan bisa masuk ke sini karena penjaga di bawah sudah aku beritahu agar tidak membicarakan wanita bernama Selena masuk ke dalam apartemen ini dan aku sudah memberikan fotonya juga."
"Kamu masih menyimpan fotonya?"
"Sayang, kalau aku tidak memberikan fotonya, bagaimana penjaga itu bisa mengenalinya. Aku juga mengambil dari medis sosialnya karena aku sudah tidak menyimpan fotonya sama sekali."
"Benaran tidak menyimpan?"
"Kalau mau kamu bisa cek ponsel aku. Kenapa jadi muncul lagi sifat sensitifnya?"
Kiara tampak terdiam sejenak dan dia kemudian memberikan spatulanya pada Bibi Yaya. Kiara melepaskan maskernya dan mengambil segelas air untuk dia minum sampai habis.
"Mas, aku mau turun dulu. Kamu dan Bibi Yaya tidak perlu ikut turun."
"Sayang, kamu apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Selena."
"Kiara, kamu tidak perlu menemuinya. Dia tidak akan mengganggu kita lagi, aku nanti akan mengurusnya."
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu percaya saja sama aku." Kiara mengecup bibir Arthur dan dia berjalan menuju pintu keluar.
"Kiara ... Kiara!" panggilan Arthur sama sekali tidak di dengar oleh Kiara.
Tangan bibi Yaya menahan tangan Arthur yang hendak mengejar Kiara. "Biarkan Kiara bicara dengan Selena. Bibi yakin istrimu akan bisa mengajak Selena bicara baik-baik."
"Aku hanya takut Selena akan menyakiti hati Kiara dengan ucapannya." Arthur tampak gusar.