
Kiara melihat Arthur dengan tatapan sinis sembari memegangi kemeja milik Arthur.
"Ada apa, Kiara? Oh bajuku itu, biar nanti bibi Yaya yang mencucinya. Aku akan membawanya pulang."
"Bibi Yaya? Bilang saja istri barumu yang mencucinya. Kalau kamu sudah memiliki wanita lain, kenapa tidak melepaskan aku saja?" Kiara melempar kemeja yang dipegangnya ke arah Arthur dengan wajah kesal.
"Kamu ini kenapa, Kiara? Wanita lain siapa?" Arthur tampak bingung.
"Lihat saja kemeja kamu itu. Ada bekas lipstik dan bau parfum dan itu bukan parfum milikmu karena walaupun kita tidak begitu dekat, tapi aku bisa membedakan bau parfum yang biasa kamu pakai."
Arthur mengambil kemejanya dan dia melihat memang ada bekas lipstik dan bau parfum lain di sana.
"Oh ini," ucap Arthur santai. "Kamu cemburu?"
"Aku tidak peduli, Arthur. Aku sama sekali tidak peduli kamu memiliki wanita lain, bahkan kamu berpelukan ataupun bercinta dengannya aku tidak peduli. Malahan aku senang dan berharap kamu menceraikan aku."
Kiara berjalan menuju pintu kamarnya, tapi saat pintu sudah terbuka separuh, tangan Arthur menahannya, sehingga pintu itu tertutup lagi.
"Aku mau ke kamar ibuku, Arthur!"
"Tadi Selena datang ke kantorku, dia memelukku dan ingin mengajakku pergi."
Kiara terdiam sejenak. "Aku tidak mau tau." Kiara mendorong tubuh Arthur kemudian dia keluar dengan wajah kesal menuju kamar ibunya.
Arthur tampak menarik senyumnya. "Dia cemburu, tapi dia keras kepala sekali."
Kiara di dalam kamar ibunya memandangi foto wanita cantik yang sekarang sudah tenang di surga.
"Ibu kenapa harus menyuruh pria seperti Arthur menjadi suamiku? Lihat saja, Bu, dia pria tidak setia, dan ibu tau kalau aku sangat membenci orang yang tidak setia pada pasangannya." Kiara berbaring sembari memeluk gulingnya.
Pagi itu Kiara yang sudah bangun, agak kaget melihat ada Arthur yang berada di dapurnya dan sedang memasak.
"Kamu memasak?"
"Iya, tapi aku hanya membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Makanlah."
Kiara melihat dua piring yang sudah tersedia di atas meja. "Aku tidak lapar, kalau mau makan, kamu makan saja sendiri."
"Aku ingin makan pagi sama kamu. Dari semalam aku belum makan, dan aku lapar sekali."
"Kalau kamu lapar, makan saja masakan kamu. Aku tidak ingin makan."
Arthur memegang tangan Kiara dan menatapnya lekat. "Kamu marah padaku karena noda lipstik itu?"
"Aku tidak peduli akan hal itu, Arthur!" Kiara mencoba melepaskan tangan Arthur.
"Selena datang ke kantorku, tapi aku tidak menanggapi ajakannya keluar karena aku tau batasanku. Dia sudah menikah dan aku juga sudah memiliki seorang istri."
"Dengar ya, Arthur, aku sudah katakan jika aku tidak peduli kamu dengan siapapun, yang membuat aku marah karena kamu tidak mau menceraikan aku, tapi bersenang-senang dengan wanita lain."
"Aku tidak bersenang-senang dengan wanita manapun Kiara! Aku bukan pria brengsek seperti yang kamu pikirkan."
"Aku tidak tau apa yang kamu lakukan di luaran sana. Semoga saja apa yang Mega katakan tentang kakaknya yang baik ini benar karena kasihan kalau sampai wanita yang benar-benar tulus mencintaimu kamu permainkan!"
Kiara berjalan pergi dari sana. Arthur tampak duduk diam melihat pada dua piring nasi goreng yang ada di atas meja.
"Apa lebih baik aku berpisah saja dengannya? Oh God!" Arthur menjambak rambutnya sendiri dengan marah.
"Nanti tidak perlu menjemputku karena aku langsung pulang ke rumah Mega." Kiara tidak mengecup punggung tangan Arthur dan dia langsung keluar dari mobil pria itu.
Arthur melihat dari dalam mobil sampai istri kecilnya itu menghilang dari tembok sekolahnya.
***
Kiara dan Mega sudah berada di rumah Mega. Mega menyuruh Kiara duduk bersantai sembari menunggu minuman dingin mereka dibawakan oleh salah satu pelayan di sana.
"Kiara, bagaimana dengan ujian tadi?"
"Aku bisa mengerjakannya semua, dan banyak yang aku pelajari kemarin keluar semua tadi. Jadi, aku tidak kesulitan mengerjakannya."
"Kamu itu meskipun tidak belajar, ujian buat kamu itu sama dengan makanan sehari-hari, tinggal hap-hap selesai. Lah, aku harus berjuang semangat empat puluh lima dulu baru bisa mengerjakan."
Kiara hanya tersenyum menanggapi apa yang sahabatnya itu omelkan. "Kamu itu juga pintar sebenarnya, hanya rada malas mikir saja."
"Iya, capek aku mikirin pelajaran terus, mau nikah saja, Ra," celetuk Mega.
"Apa? Menikah? Aku saja masih ingin tetep belajar. Menikah itu tidak enak, Ra."
Mega seketika beranjak dari posisi bersandarnya. "Memangnya kamu pernah merasakan menikah dengan seseorang? Sok tau kalau menikah itu tidak enak."
"Em ... maksud aku--." Kiara tampak bingung. Dia kan memang sudah menikah dan menganggap pernikahannya dengan Arthur itu sangat tidak enak.
"Sudahlah tidak perlu kamu pikir. Nanti kalau kamu sudah menikah dan merasakan apa itu pernikahan, baru bisa beritahu aku. Eh, atau aku duluan nanti yang menikah, aku akan memberitahu sama kamu rasanya."
Mega tersenyum lepas sembari meneguk segelas minumannya. Di sana Kiara hanya menanggapi dengan senyuman kecil.
Menikah memang menyenangkan, jika bersama dengan orang yang dicintai, tapi bagi Kiara menikah dengan Arthur adalah mimpi buruk.
"Kiara, mau berenang tidak?"
"Apa? Berenang?"
"Iya. Di atas lantai rumahku ada kolam renang 'kan. Kita berenang saja sambil merefreshkan otakku yang panas karena menghadapi ujian dua hari ini."
"Tapi aku tidak membawa baju renang. Lagi pula aku malu, Mega."
"Yeah! Malu siapa? Lagi pula di rumah ini hanya ada kita berdua dan para pelayanku. Mereka semua wanita, dan hanya supirku yang laki-laki, tapi dia tidak akan naik ke lantai atas."
"Tapi bajunya?"
"Pakai baju renangku, Ara. Kamu bisa pilih mana yang mau kamu pakai."
Mega mengajak Kiara naik ke lantai paling atas rumahnya. Kiara di suruh memilih baju renang milik Mega yang berjejer rapi dan indah di sebuah lemari kaca besar di sana.
"Baju kamu banyak sekali, tapi kenapa modelnya two piece semua?"
"Memangnya kenapa kalau two piece? Ini bagus dan sexy Kiara." Mega menunjukkan muka genitnya.
Kiara meringis aneh pada Mega. "Ayo pilih! Malah senyumnya aneh begitu. Aku mau pakai ini saja. Baju renang favoritku." Mega mengambil baju renang berwarna biru.
Kiara masih bingung memilih mana baju renang yang akan dia pakai. Kiara tidak suka modelnya. Dia saja di rumah punya satu baju renang model jumpsuit dengan celana pendek dan lengan pendek juga.
"Aku pakai yang mana ini? Aduh! Kalau tau Mega akan mengajakku berenang, pasti aku akan membawa baju renangku sendiri.