
Arthur menceritakan kenapa tiba-tiba Kiara padanya. Gio malah terkekeh mendengar cerita sahabatnya itu.
"Ada yang lucu? Aku ini sedang bingung dan cemas karena sikap istriku. Kamu pikir enak menjalani rumah tangga seperti ini?"
"Aku menertawakan kamu yang sama sekali tidak peka dengan apa yang sedang terjadi."
"Maksud kamu apa?"
"Fix, istri kamu itu cemburu sama Manda?"
"Cemburu? Apa itu benar?" Kedua mata Arthur tampak berbinar saat bertanya akan hal itu.
"Tentu saja itu benar. Bukannya kamu tadi bercerita kalau Ara baik-baik saja saat kalian mau ke sekolah, tapi saat Manda menghubungimu dia sikapnya langsung berubah. Dia itu cemburu."
"Cemburu?" Arthur seketika tersenyum sendirian.
"Oh God! Dia malah tersenyum sendirian." Gio memutar bola matanya jengah.
Di sekolah saat jam istirahat. Ara dan Meta yang sedang duduk di kantin tampak sangat senang. Ada rasa lega di wajah kedua gadis itu.
"Akhirnya ujian ini berakhir juga. Aku sekarang bisa bernapas dengan lega," ucap Mega dengan kedua tangan di rentangkan.
"Iya, aku juga sangat lega dan rasanya salah satu bebanku berkurang. Sekarang kita hanya menunggu nilai rapot keluar saja."
"Kalau aku tidak peduli dengan nilaiku, asalkan lulus dan aku bisa melanjutkan untuk kuliah." Wajah Mega tersenyum dengan menyeruput jus jambunya.
"Kuliah?" Wajah Kiara seketika berubah sedih mendengar kalimat kuliah.
Melanjutkan sampai kuliah adalah hal yang sangat ingin dia capai, tapi dia sadar jika hal itu tidak akan pernah bisa dia lakukan karena terkendala biaya. Dia mungkin bisa kuliah jika meminta pada Arthur, tapi itu bukan sifat Kiara.
"Ara! Kamu melamun apa sih?"
"Aku tidak melamun apa-apa." Kiara ingin menyembunyikan kesedihannya di balik senyumannya.
"Jangan bohong, kamu pasti memikirkan tentang bisa melanjutkan ke tingkat kuliah apa tidak. Iya, Kan?"
"Aku sudah memutuskan akan mencari pekerjaan saja. Nanti aku bisa menabung untuk biaya kuliahku sendiri."
Mega menatap sedih pada sahabatnya. "Kamu mau kerja apa dengan hanya menggunakan ijazah lulusan SMA?"
"Kerja apa saja yang penting baik dan tidak menyalahi aturan."
"Kiara, kenapa tidak coba meneruskan toko kue? Kamu bisa membuat kue dengan kreasimu sendiri."
Kiara menggeleng. "Tidak semudah itu, Mega. aku butuh banyak biaya buat renovasi dan uang produksi, dan itu semua biayanya sangat banyak. Aku pernah bercerita sama kamu, kan?"
"Iya, juga sih! Eh, apa mau aku pinjami uang tabunganku untuk merenovasi toko kamu?"
"Tidak mau. Aku tidak mau menyusahkan kamu lagi karena aku sudah banyak merepotkan kamu."
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Kamu kalau mau, aku akan meminjamkan uangku, kamu kembalikan kalau sudah punya. Mamaku juga tidak akan mengetahui hal ini."
Kiara sekarang agak merasa takut dengan mama Mega. Dia merasa jika mama dari sahabat baiknya itu tidak menyukainya. Jadi, Kiara harus bersikap berhati-hati jangan sampai dia dikira memanfaatkan Mega yang notabenenya adalah anak orang kaya.
"Terima kasih, Mega, tapi aku akan mencari sendiri saja biayanya."
"Dasar keras kepala, tapi memang aku tau kamu itu gadis yang tangguh dan tidak mudah menyerah."
Pulang sekolah Mega mengatakan tidak dapat mengajak Kiara untuk pulang bersama karena dia nanti akan dijemput oleh mamanya.
"Tidak apa-apa, Mega, aku bisa pulang naik angkutan umum seperti biasanya."
"Supir kamu sudah kenal baik ya sama kamu."
"Hah? Supir?"
"Iya, supir angkutan umum yang biasa kamu tumpangi."
Kiara seketika tersenyum aneh. Seorang Arthur dikatai adiknya sendiri seorang supir angkutan umum.
"Iya, aku pasti datang karena aku tidak akan mungkin melewatkan hari ulang tahun sahabatku."
"Mega, ayo pulang! Kamu lambat sekali, apa kamu tidak tau di sini panas sekali?" panggil Mamanya Mega.
"Siang, Tante."
"Siang," balasnya dingin.
Kiara melihat mama Mega yang masih menggunakan kacamata hitamnya tampak tidak menunjukan sedikit senyuman pada Kiara.
Mega dan mamanya pergi dari sana dan Kiara pergi ke tempat di mana dia selalu di jemput oleh Arthur.
"Tumben sekali dia belum datang? Apa dia masih sibuk dengan pekerjaannya?" Kiara mengedarkan pandangannya melihat sekitar tempat itu.
Hampir satu jam Kiara menunggu di sana. Dia sekarang tampak cemas karena seketika terbesit di dalam pikirannya jika Arthur bisa saja tidak menghubunginya sebab terjadi apa-apa dengan Arthur.
Kiara mengambil ponselnya dan segera menghubungi Arthur. "Halo, Arthur."
"Kiara, aku baru saja mau menghubungimu. Apa kamu sudah pulang?"
"Tentu saja aku sudah pulang, ini jam berapa Arthur?"
"Iya, aku minta maaf. Kiara, aku sedang berada di rumah sakit untuk mengantarkan Manda yang mengalami insiden di restoran. Kiara, apa kamu bisa menungguku sebentar lagi?"
"Manda? Oh manager kamu itu."
"Iya. Kamu tunggu sebentar lagi, aku sudah akan mengantar dia pulang terus menjemput kamu."
"Tidak perlu! Aku masih ingat jalan pulangnya." Kiara mematikan panggilan teleponnya. "Seharusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan dia tadi," gerutu Kiara.
Arthur hanya dapat menghela napasnya pelan. Dia sekarang antara senang dan cemas Senang karena Kiara sepertinya benaran cemburu dan cemas karena sekarang Kiara marah dengannya.
"Pak Arthur, saya minta maaf karena sekali lagi sudah menyusahkan Pak Arthur."
"Tidak apa-apa, tapi lain kali kamu harus berhati-hati."
"Iya, Pak. Saya akan lebih berhati-hati lagi."
"Ya sudah, sekarang aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumah."
Manda berjalan dengan memakai kursi roda dan Arthur mendorongnya. Dia mengantar Manda sampai ke rumahnya.
"Kamu bisa berjalan?"
"Saya coba ya, Pak." Manda keluar dari dalam mobil dan saat dia hampir jatuh, Arthur dengan cepat menangkapnya.
Kedua mata Manda menatap lekat pada manik mata Arthur. "Aku akan menggendongmu masuk ke dalam rumah, dan nanti akan ada orang suruhanku yang mengantarkan kruk yang bisa kamu gunakan untuk berjalan.
"Iya, Pak, sekali lagi terima kasih."
Arthur menggendong Manda masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja hati Manda sangat berbunga saat ini.
"Manda, kamu tidak apa-apa, kan aku tinggal sendiri di sini."
"Tidak apa-apa, Pak. Nanti sebentar lagi pengasuh Dean akan datang dan dia akan membantu saya. Pak Arthur hati-hati kalau kembali ke kantor."
"Aku tidak kembali ke kantor, tapi aku mau menjemput istriku karena dia dari tadi sudah menungguku."
"Istri?" Manda agak terkejut mendengar apa yang Arthur katakan.
"Iya, aku sudah menikah, Manda, tapi tidak banyak yang mengetahuinya."
"Pak Arthur sudah memiliki anak?"
Arthur terdiam sejenak, kemudian dia menggeleng dengan diiringi senyuman. "Aku dan istriku masih menikmati masa berpacaran setelah menikah."
Arthur ingin menunjukkan dia bahagia dengan pernikahannya.