Be Mine

Be Mine
Waktu Itu



"Bye Baby."


"Hati-hati, Lang."


Mobil Elang menjauh dari rumah Kiara setelah mengantar Kiara pulang. Wajah Kiara tampak merasa bersalah karena saat tadi Elang yang ingin menciumnya, tapi Kiara sekali lagi menolak dengan alasan dia ingin Elang mendapatkan dia seutuhnya saat mereka nanti menikah. Kiara saat itu tidak tau jika kedua orang tua Elang tidak menyetujui hubungan mereka.


Langit tampak semakin gelap, hujan pun akhirnya turun dengan sangat derasnya. Mobil Elang melaju sedikit lambat karena kaca depannya mulai sedikit buram akibat guyuran air hujan.


"Itu seperti Mega." Mobil Elang perlahan menepi dan dia turun dengan membawa payung.


"Elang, kamu kenapa ada di sini?"


"Mobil kamu kenapa?"


"Aku tidak tau, tiba-tiba bannya kempis."


"Kalau begitu aku antar saja kamu pulang, sekalian aku juga mau pulang."


Mega terdiam sejenak. "Ya sudah aku mau, lagi pula hari juga sudah sore."


Mega masuk ke dalam payung Elang dan menutup payungnya. Dia juga memberitahu pada supirnya jika dia pulang dengan temannya.


Elang menjalankan mobilnya, tapi tidak lama mobilnya berhenti karena ternyata di depan terjadi kemacetan.


"Hacing!"


"Kamu flu?"


"Aku kalau terkena air hujan selalu begini. Hidungku rasanya gatal sekali. Maaf, ya."


"Baju kamu basah, Mega."


"Iya, tadi anginnya sangat kencang dan hampir saja menerbangkan payungku."


"Sebaiknya kamu berganti baju saja daripada kamu nanti sakit."


Mega agak tercengang mendengar apa yang Elang katakan. "Tapi aku tidak membawa baju ganti?"


Elang menengok ke arah bangku belakang mobilnya dan mengambil sesuatu di sana. "Kamu pakai seragam baseball aku saja. Setidaknya kamu tidak akan memakai baju basah dan menjadi sakit."


Mega terdiam melihat baju berwarna merah dipadu dengan gold. "Lalu, aku harus berganti baju di sini?"


"Em ...." Elang tampak bingung sekarang. "Iya, kamu berganti baju di sini saja, dan jangan khawatir karena kaca mobilku tidak akan terlihat dari luar."


"Dan kamu?"


Sekali lagi Elang terdiam. Elang tampak sedang berpikir. "Aku juga tidak akan melihat kamu karena aku akan menutup wajahku dengan jaketku ini."


Elang seketika menutup kepalanya dengan jaket yang dari tadi dia pakai. Mega bukannya langsung berganti, tapi dia malah tertawa melihat Elang.


Elang sekali lagi membuka jaketnya dan melihat bingung pada Mega. "Kenapa kamu malah tertawa?"


"Habisnya kamu lucu sekali, Lang."


"Hm! Lucu dari mana? Sekarang kamu segera berganti baju." Elang kembali menutup kepalanya dengan jaket.


Mega segera memakai baju seragam baseball Elang. "Sudah, Lang."


Elang membuka jaketnya dan melihat Mega sedang mengibaskan rambutnya yang basah. Ada sesuatu yang tiba-tiba menjalar pada tubuh Elang.


"Lang, aku bisa minta tolong! Tolong seragam kamu sepertinya menyangkut pada anting-antingku."


"Oh iya!" Elang yang tersadar dari lamunannya seketika mendekat ke arah Mega, dia mencoba membantu Mega melepaskan benang yang menyangkut pada anting Mega.


"Lang, kamu ternyata sangat tampan jika dilihat sangat dekat." Kedua mata Mega menatap lekat pada Elang.


"Kamu juga cantik sekali saat rambutmu digerai seperti itu." Tangan Elang terangkat dan mengusap lembut pipi Mega.


Mega mendekat dan perlahan mengecup bibir Elang. Elang yang memang dari tadi merasakan sengatan yang aneh, dengan cepat membalas ciuman Mega, bahkan tangannya menarik tengkuk Mega agar ciumannya semakin dalam.


Pada saat itu di seberang mobil mereka, maju perlahan mobil yang di dalamnya ada Morgan, dan Morgan melihat jika Elang sedang berciuman, tapi tidak bisa melihat siapa gadis yang sedang berciuman dengan Elang, apa lagi keburu mobilnya harus segera berjalan karena di posisinya tidak terlalu macet


Elang melepas ciumannya saat ponselnya berdering dan itu dari Kiara. Elang tidak menjawab panggilan dari Kiara karena dia merasa sudah mengkhianati kekasihnya itu.


"Mega, aku minta maaf." Elang tampak mengalihkan pandangannya pada kemudi.


"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya kita berciuman seperti ini. Lang, bagaimana kalau sampai Kiara tau hal ini?"


"Apa?" Elang melihat kaget pada Mega. "Mega, kamu mau bilang pada Kiara tentang apa yang kita lakukan tadi?"


"Aku tidak mungkin bilang pada sahabatku sendiri. Aku hanya takut jika hal ini sampai diketahui Kiara saja."


"Selama kita tutup mulut dan melupakan kejadian ini, Kiara tidak akan pernah tau. Oh ya, Mega, tolong kamu lupakan kejadian ini dan anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.


Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat hati Mega seolah dicubit dengan keras.


***


Malam ini semua para siswa yang tadi pagi baru saja mengikuti acara wisuda tampil cantik dengan menggunakan gaun terbaik mereka, dan malam ini Kiara memakai gaun dengan panjang selutut berwarna hitam dan ada pita berwarna merah melingkari pinggangnya.


"Nanti kita berdansa di sana, Istriku." Arthur yang juga memakai kemeja hitam dengan dasi panjang berwarna merah tampak berpikir gagah di depan Kiara.


"Hm! Kamu jangan membuat kehebohan di sana, Mas. Lagi pula aku tidak bisa berdansa, apa kamu lupa kalau kita pernah memenangkan lomba dansa terburuk." Kiara terkekeh mengingat hal itu.


"Nanti aku akan mengajari kamu perlahan-lahan. Kalau soal orang-orang di sana, kita biasa saja tidak perlu memperdulikan mereka."


Kiara juga mungkin tidak memperdulikan orang lain, tapi Kiara tidak mungkin seolah-olah tidak peduli dengan mamanya Arthur yang adalah mertuanya. Apa lagi Kiara merasa mamanya Arthur tidak menyukainya.


"Kita berangkat saja sekarang dan tadi aku sudah menghubungi mamaku, dia sudah sampai dari tadi di tempat acara. Jadi, aku bisa menurunkan kamu di sana tanpa takut diketahui oleh mamaku.".


"Tapi 'kan, ada yang lainnya, Mas."


"Biarkan saja, Kiara."


Arthur menggendong Kiara ala bridal style. "Mas, kenapa malam menggendongku? Turunkan aku, nanti kemeja kamu jadi kusut."


"Aku tidak peduli dengan kemejanya, aku mau menggendong putri Cinderellaku sampai ke dalam mobil."


"Baiklah pangeran tampanku."


Arthur mengecup lembut bibir Kiara dan kedua tangan Kiara yang menggelayut pada leher Arthur semakin di eratkan.


Mereka menuju ke acara pesta kelulusan itu dan benar saja jika Arthur dengan santainya menurunkan Kiara tepat di parkiran gedung megah itu, bahkan Arthur membukakan pintu mobilnya sendiri.


"Mas, sepertinya teman-temanku melihat ke arahku."


"Biarkan saja. Kita masuk saja sekarang." Arthur menggandeng tangan Kiara dan masuk ke dalam tempat acara yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.


Kiara melihat kedua orang tua Arthur berdiri agak jauh dari tempatnya.


Kiara melepas pegangan tangan Arthur dan mengatakan sebaiknya mereka terlihat seolah tidak datang bersama.


"Kamu mau ke mana?"


"Kamu temui dulu keluargamu, Mas karena aku mau mengambil minuman dulu. Jujur saja aku sangat tegang sebenarnya."