Be Mine

Be Mine
Belajar Bersama part 1



Arthur izin pergi dari sana setelah menurunkan Manda dan juga Dean. Manda tampak senang karena Arthur mau mengantarkan dia pulang.


"Dean, bagaimana menurutmu tentang Om Arthur?"


"Om Arthur sangat baik Mami, dia juga sangat perhatian dan aku sangat menyukainya."


"Apa kamu mau jika Om Arthur menjadi papimu?"


"Hah? Om Arthur menjadi papiku? Memangnya Om Arthur mau menjadi papiku?"


Manda tertawa kecil sembari mencubit hidung putranya "Tentu saja dia pasti mau, apa lagi jika dia memiliki anak sepintar dan semanis kamu."


"Dean sudah lama ingin memiliki papi, kalau Dean mempunyai papi seperti Om Arthur Dean pasti sangat senang."


"Semoga saja Mami bisa dekat dengan Om Arthur, sehingga Om Arthur bisa menjadi papi kamu. Dia memang baik." Manda sudah membayangkan wajah Arthur.


Di apartemen Arthur, Kiara ternyata tidak bisa tidur dengan nyenyak, dari tadi dia membuka tutup selimut dan beberapa kali melihat pada ponselnya.


"Aku ini kenapa, sih? Seharusnya aku bisa tidur nyenyak karena Arthur tidak ada di sini. Jadi, aku tidak perlu was-was kalau dia akan berbuat macam-macam padaku."


Kiara kembali menutup kepalanya dengan selimut, tapi beberapa detik kemudian dia membukanya lagi. "Apa lebih baik aku belajar saja, ya? Besok 'kan ulangan matematika dan pasti sangat sulit, lebih baik aku belajar saja daripada aku dari tadi tidak bisa tidur."


Kiara beranjak dari tempatnya dan mengambil tas sekolahnya, dia membuka buku catatan matematika miliknya yang akan dia gunakan belajar.


"Lebih baik aku belajar di bawah saja, di sini tidak nyaman." Kiara membawa buku dan tas sekolahnya turun ke bawah, di sana masih sepi karena memang Arthur belum pulang.


"Katanya sebentar, tapi dia dari tadi tidak pulang-pulang. Mungkin dia kencan sekalian dengan manajer barunya itu," gerutu Kiara sembari berjalan menuju ruangan di mana atur biasa bekerja. Siapa tahu di sana dia nanti menemukan buku yang juga bisa dibuat untuk belajar, bukankah Arthur dulu pernah bilang dia murid yang pintar dan sangat menyukai pelajaran matematik.


Di sana ada meja kerja Arthur dan ada kursi, juga meja seperti sebuah ruang tamu kecil. Terdapat juga dua rak buku besar yang berisi banyak sekali buku-buku. Kiara memilih duduk di karpet saja dengan mengerjakan bukunya di atas meja ruang tamu kecil di sana.


Kiara mulai belajar dan berkutat dengan buku-bukunya.


Arthur yang baru memasuki apartemennya langsung naik ke kamarnya untuk mengetahui keadaan Kiara dia takut jika kira demam lagi.


"Kemana Kiara? Kenapa dia tidak ada di sini?" Arthur segera berlari menuju walk in close-nya dia melihat ternyata baju Kiara masih ada di sana. Pikiran Arthur sudah negatif saja mengira Kiara akan pergi dari apartemennya.


Arthurmemanggil nama Kiara untuk mengetahui di mana gadis itu berada, tapi Kiara yang sedang asyik menghitung rumus matematika tidak mendengarkan panggilan Arthur.


"Aku hubungi saja ponselnya." Arthur mencoba kembali ke atas dan ternyata ponselnya ada di atas tempat tidur. Kiara ini ke mana? Apa dia pingsan? Tapi di kamar mandi juga tidak ada. Oh Tuhan di mana dia?" Arthur seketika panik.


Dia kembali mencari di seluruh ruangan Arthur juga sempat berpikir bahwa Tiara tidak mungkin keluar tanpa minta izin darinya, tapi Arthur tetap menanyakan kepada penjaga yang ada di bawah apartemen apa dia melihat seorang gadis yang fotonya sudah Arthur kirimkan padanya.


"Dari tadi tidak ada gadis yang keluar, Pak, hanya Pak artur saja tadi yang bolak-balik masuk ke sini, tidak ada yang keluar lagi."


"Ya sudah kalau begitu terima kasih atas informasinya." Arthur mematikan panggilan teleponnya.


Tidak lama dia mendengar suara bunyi benda jatuh dari ruang kerjanya. Arthur seketika berlari ke arah ruang kerjanya dan saat dia membuka pintunya, dia melihat gadis yang dari tadi membuatnya kelimpungan mencarinya sedang naik tangga kecil untuk mengambil buku di rak atas tapi buku-buku itu malah terjatuh.


"Oh Tuhan, Kiara! Apa yang kamu lakukan?" Perasaan hati Arthur saat ini sangat bahagia dicampur lagi senang bisa melihat gadis itu baik-baik saja.


"Arthur, tolong aku! Jangan hanya melihat di sana, kepalaku sakit kejatuhan bukumu yang besar ini."


"Mau mengambil buku apa? Ada yang kamu butuhkan?"


"Aku melihat ada buku besar di sana dengan tulisan pintar belajar matematika. Aku mau mengambilnya, tapi malah kejatuhan buku lainnya, kepalaku sakit sekali."


"Ya sudah kalau begitu, biar aku ambilkan. Sekarang kamu turun dulu." Gadis itu turun dan Arthur mengusap-usap kepala Kiara yang sepertinya tertimpa buku besar barusan


"Kenapa tidak meminta bantuanku saja kalau mau ambil buku? Kenapa melakukannya sendiri?"


"Memangnya kamu ada di sini? Kamu saja pergi tidak pulang-pulang dari tadi, katanya sebentar, sebentar dari mana ?" Kiara dengan kesal mendorong dada Arthur menjauh darinya, dan Dia berjalan menuju buku pelajaran miliknya.


"Dia marah atau cemburu ya?" tanya atur pada dirinya sendiri.


"Aku minta maaf jika aku lama karena tadi memang urusannya agak sedikit rumit. Apa kamu dari tadi tidak tidur, Kiara?"


"Apa? Aku tidur dari tadi dan saat bangun aku tidak melihat kamu." Kiara berbohong pada Arthur. Dia tidak mau jika pria itu mengetahui jika dari tadi dia tidak dapat memejamkan kedua matanya karena memikirkan Arthur yang pergi untuk menemui manajer barunya.


Arthur melepaskan beberapa kancing kemejanya dan menggulung kedua lengan kemejanya, dia ikut duduk di karpet tepat di sebelah.


"Kamu sedang belajar apa? Serius sekali. Padahal aku dari tadi teriak memanggil namamu karena aku tidak melihatmu di tempat tidur."


"Jadi kamu sudah datang dari tadi?"


"Tentu saja aku datang dari tadi, dan aku mencarimu mengitari seluruh ruangan apartemen ini sampai aku bertanya pada penjaga di bawah apa melihat seorang gadis yang ada foto yang aku kirim padanya keluar dari apartemen ini? Tapi dia mengatakan tidak melihat siapa-siapa yang keluar selain aku. Aku takut kamu kenapa Kiara."


Kiara terdiam sejenak menatap wajah Arthur dia tidak tahu jika pria di depannya ini mencarinya dan terlihat khawatir.


"Aku sedang memikirkan untuk mengerjakan soal matematika ini, makanya aku tidak mendengar Kamu memanggilku aku minta maaf, Arthur."


"Tidak apa-apa, sekarang biar aku yang akan mengajari kamu untuk mengerjakan soal matematika. Mana yang sulit tunjukkan padaku?"


"Ini lihat saja bukuku. Di sana ada latihan soal dan ada tiga puluh soal, dan aku baru mengerjakan 3 soal, yang lainnya masih berpikir "


Arthur memeriksa buku istrinya itu dan dia membaca satu persatu membaca soal itu dengan fokus. "Ini mudah, Kiara, kenapa soal seperti ini saja tidak bisa?"


"Kalau mudah kamu kerjakan saja, tapi tunjukkan bagaimana cara kamu mendapatkan jawabannya karena aku tidak mau mendapatkan jawaban dengan instan."


"Kalau aku mau bantu mengerjakan soal-soal ini, aku dapat apa?"


Kiara seketika melirik dengan menyipitkan kedua matanya melihat ke arah Arthur


"Kalau mau membantu itu harus ikhlas tidak perlu mengharapkan imbalan apapun, apa lagi sama istri sendiri."


"Justru dengan istri sendiri itu harus meminta imbalan."


"Kamu mau apa dariku? Hidupku pun sudah kamu dapatkan. Kalau minta uang, aku tidak punya uang seperti yang kau miliki Arthur."


"Bagaimana kalau kamu membuatkan aku secangkir kopi yang enak yang pernah kau buatkan waktu di rumah mamaku?"