Be Mine

Be Mine
Pembicaraan Dengan Mama



Sepasang suami istri yang tampak bahagia itu sedang makan pagi bersama direstoran yang tidak terlalu besar, tapi suasana di sana sangat cozy.


"Mas, apa Mba Manda itu tidak punya saudara yang bisa dia mintai tolong jika ada masalah seperti ini? Apa mendiang ayahnya Dean tidak punya adik atau kakak yang dekat dengan Dean sehingga pria kecil itu tidak merasa kehilangan sosok ayahnya?"


"Manda kemarin bercerita banyak tentang kehidupannya bersama Dean saat aku bertanya hal yang sama seperti apa yang kamu tanyakan."


"Lantas, dia bicara apa?"


"Sebenarnya mereka berdua itu sedang menghindar dari adik laki-laki dari mendiang ayahnya Dean karena mereka memperebutkan hak asuh atas Dean."


"Maksudnya, Mas?"


"Manda itu bukan ibu kandungannya Dean, Ara."


"Apa? Kamu serius, Mas?" Kiara tampak sangat terkejut.


"Iya. Ibu kandung Dean meninggal saat melahirkan Dean dan Manda adalah adik dari ibu kandungnya Dean."


"Jadi, Mba Manda itu tantenya Dean?"


"Iya, dia dinikahinya ayah Dean untuk menjadi mami buat Dean karena melihat Manda yang sangat menyayangi Dean saat Dean masih bayi."


"Oh Tuhan! Kasihan sekali anak itu sejak kecil sudah ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya."


"Manda bercerita jika dia pergi dari negaranya bersama Dean setelah kematian suaminya yang adalah ayah Dean untuk menghindari adik laki-laki suaminya yang menginginkan merawat Dean karena pria kecil itu adalah pewaris tunggal dari kekayaan yang mendiang ayah Dean wariskan pada Dean. Manda tau jika adik dari mendiang suaminya itu mengincar warisan ayah Dean yang diberikan pada Dean."


"Dia jahat sekali, Mas. Seharusnya dia membiarkan keponakannya itu memiliki warisan dari ayahnya agar bisa digunakan untuk masa depan Dean yang sudah tidak memiliki ibu dan ayah."


"Manusia itu kebanyakan serkahan jika menyangkut harta. Mereka tidak akan memandang saudara lagi atau rasa kemanusiaan jika menyangkut dengan masalah uang dan kekakayaan."


"Aku jadi merasa salut akan kebaikan hati yang mba Manda miliki, Mas."


"Manda sangat menyayangi Dean seperti anaknya sendiri. Dia tulus membesarkan Dean tanpa melihat jika anak itu adalah pewaris kekayaan dari mendiang suaminya karena Manda juga sangat sayang pada Marina ibu Dean."


"Ternyata hidup Mba Manda juga berat."


"Dia sudah lama tinggal di sini dan dia benar-benar menghilang dari keluarganya bahkan keluarga ayah Dean karena hal itu lebih baik. Manda akan terus menjaga Dean sampai nanti Dean siap mengetahui segala hal tentang dirinya."


"Semoga saja adik dari ayah Dean juga sudah dibuka hati dan pikirannya agar mau dengan tulus menyayangi Dean karena bagaimapun juga Dean itu keponakannya, ada darah kakaknya di tubuh pria kecil itu."


"Semoga saja, Kiara. Sekarang kita selesaikan makan paginya dan kita pergi ke mall dekat rumahku agar kamu bisa berbelanja mainan untuk Dean sementara aku menemui mama seperti apa yang kita bicarakan tadi."


"Iya, Mas."


Mereka menyelesaikan makan paginya dan Arthur mengantarkan Kiara ke Mall dekat rumahnya, sementara Arthur pergi menemui mamanya.


"Bau parfum kamu kenapa seperti bau parfum perempuan? Apa kamu baru saja berkencan sepagi ini?" Alexa melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Arthur, dan dia menatap putranya dengan tatapan curiga.


"Aku baru saja mengantar kekasihku pulang, Ma."


"Apa? Kekasihmu menginap di rumah mendiang ibumu?"


"Dia menginap di apartemenku."


"Arthur, mama tau siapa kamu. Kamu memang tidak mama lahirlah, tapi mama paham tentang dirimu, kamu tidak akan sampai bermain-main dengan seorang wanita jika kamu tidak ingin serius dengannya.


"Aku serius dengannya dan aku akan menikahinya. Mungkin Belinda sudah mengatakan hal ini pada Mama."


"Arthur, jujur saja mama sangat kecewa dengan apa yang kamu katakan pada Belinda. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke negaranya karena baru kali ini dia ditolak oleh seorang pria. Apa kamu tidak sadar jika Belinda itu gadis yang sangat sempurna untuk dijadikan seorang istri?"


Arthur duduk santai di sofa panjang yang ada di ruang tengah, sedangkan Alexa masih berdiri dengan memasang wajah marahnya.


"Sempurna bagi Mama, tapi tidak untukku. Ma, aku pria dewasa yang sudah bisa menentukan hidupku sendiri dan biarkan aku memilih sendiri tentang kehidupan yang ingin aku jalani."


Wanita itu akhrinya duduk dan memegang tangan putranya, Alexa berharap Arthur mau merubah keputusannya. "Mama tau kamu seseorang yang sudah tidak waktunya diatur, tapi mama hanya tidak ingin kamu mendapatkan wanita yang salah nantinya."


"Wanita yang salah bagaimana maksud Mama?"


"Wanita yang mau menikah denganmu hanya karena dia ingin hidup enak dan menikmati semua kekayaanmu. Mama takut kamu akan mendapatkan wanita seperti itu, apa lagi dia dari kalangan rendah yang hanya bisa membuat malu keluarga kita saja, Arthur," terang Alexa. Arthur malah menanggapi ucapan mamanya hanya dengan senyuman saja.


"Arthur, mama serius tidak ingin kamu salah dalam memilih istri."


Tangan Arthur menepuk-tepuk tangan mamanya beberapa kali guna meyakinkan agar wanita paruh baya yang adalah mama sambungnya itu lebih tenang.


"Mama tenang saja karena aku tau siapa yang akan aku nikahi kelak. Kalaupun wanita itu yang sudah menjadi istriku akan memakai uangku atau menghabiskannya, tentu saja hal itu wajar karena uang yang aku miliki itu juga hak istriku."


Arthur beranjak dari tempat duduknya karena dia merasa tidak perlu ada yang harus dibicarakan lagi dengan mamanya.


"Arthur, apa kamu tidak mau merubah keputusanmu untuk menerima Belinda. Mama pasti memiliki hubungan buruk setelah ini dengan keluarga Belinda."


"Aku minta maaf jika harus terjadi hal itu, tapi aku yakin jika Belinda gadis yang sangat terbuka pemikiran dan menganggap penolakanku atas perjodohan ini karena aku memang memiliki alasan yang kuat, dan seiring berjalannya waktu, hal ini akan terluakan."


"Tapi tetep saja mama pernah menorehkan luka pada hati sahabat baik mama itu dan itu semua karena kekasihmu yang pasti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Belinda."


"Mama salah, bagiku kekasihku yang akan aku nikahi ini jauh di atas Belinda. Ma, aku permisi dulu kalau begitu." Arthur mengecup pipi Alexa yang wajahnya tampak merah padam karena menahan marah pada anak sambungnya.


"Aku akan mencari tau siapa gadis yang sudah membuat putraku sampai tergila-gila seperti itu dan jika gadis itu tidak sesuai dengan kriteria menantu keluarga Lucas, aku akan buat dia pergi sejauh mungkin dari kehidupan Arthur dan keluargaku." Tangan Alexa mengepal erat, serta sorot matanya menatap tajam.


Tidak lama dia mengambil ponselnya dan dia menghubungi seseorang yang dia percayai sejak lama untuk mencari informasi mengenai kekasihnya Arthur.