
"Kalau Mama masih menganggap jika aku melakukan hal itu karena aku menyukai Kiara, itu terserah Mama." Arthur menatap penuh pada Kiara.
"Mama mengenalmu, Sayang, dan mama tau tipe wanita yang kamu sukai. Baiklah! Kita tidak perlu membahas masalah ini lagi karena aku akan mencari jasa pelayanan yang bisa membuat baju itu kembali bersih dan tidak sampai rusak. Ayahmu juga nanti akan aku beritahu supaya tidak menyalahkan mama karena tidak bisa menjaga benda yang dia berikan."
"Ayah pasti akan bisa mengerti karena aku tau siapa ayahku." Arthur kembali menikmati makan malamnya.
Sebenarnya baju itu bisa saja dibersihkan dengan mudah karena hanya terkena tanah liat, hanya saja jika baju itu milik orang lain, tapi ini milik wanita berkelas bernama Alexa yang semua harus tampak perfect. Oleh karena ini noda tanah liat itu menjadi maslah yang serius baginya.
"Mega, karena mama kamu sudah datang, aku. besok mau izin untuk pulang ke rumah."
"Kenapa pulang? Di sini saja sehari lagi, Kiara."
"Terima kasih ya, Kiara, kamu sudah mau menemani Mega di rumah. Mega, Kiara itu punya tempat tinggal sendiri dan akan tidak baik jika ditinggal terlalu lama."
"Iya, Mega, benar apa kata Mama kamu. Dua hari di sini aku senang sekali bisa menemani kamu."
"Sangat nyaman dan menyenangkan bukan tinggal di sini dibandingkan dengan tempat tinggal kamu?"
"Iya, Tante. Rumah Tante sangat besar dan mewah, siapapun yang berada di sini pasti sangat senang. Namun, tetap saja rumahku adalah tempat ternyaman untukku karena di sana aku memulai kehidupanku dengan kedua orang tuaku."
Alexa terdiam mendengar apa yang Kiara katakan. Arthur tersenyum miring mendengar ucapan Kiara. Dia senang istrinya berani dan tidak membiarkan dirinya dihina.
Arthur tentu saja tidak ingin membantunya, tapi dia tidak mau berdebat dengan Alexa, bagaimanapun juga Alexa adalah mama sambungnya.
Malam itu Kiara yang tidur dengan Mega tampak tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kiara tetap saja masih memikirkan kejadian tentang baju milik mamanya Mega.
Kiara turun ke lantai bawah karena dia ingin membuat teh hangat untuk membuatnya lebih tenang, apa lagi Kiara merasakan tubuhnya agak sedikit tidak enak.
"Tidak bisa tidur?"
Kiara terkejut mendengar suara Arthur tepat di belakangnya. "Arthur? Kamu juga belum tidur?"
"Aku masih mengerjakan pekerjaan kantorku seperti biasa."
"Jangan sering bekerja hingga larut malam karena itu akan tidak baik untuk kesehatanmu, Arthur."
"Itu perhatian atau hanya basa basi saja?"
"Terserah kamu menganggapnya apa." Kiara kembali mengaduk tehnya.
"Aku mau kopi buatanmu, Kiara."
"Buat saja sendiri, bukannya kamu bisa membuat kopi," Kiara bicara tanpa melihat ke arah Arthur.
"Ya sudah kalau tidak mau membuatkan." Arthur berdiri di samping Kiara mengambil cangkir.
"Sini, biar aku yang membuatkan."
Kiara meletakkan teh miliknya dan mengambil alih pada cangkir Arthur. Arthur melihat istrinya itu sedang sibuk membuatkan kopi untuknya.
"Ini kopimu dan jangan bekerja sampai larut malam."
Cup
"Terima kasih, Istriku, dan selamat malam." Arthur menyeruput kopinya dan berjalan pergi dari sana setelah mengecup dahi Kiara.
Kiara yang tadinya tercengang karena mendapat kecupan dari Arthur perlahan terlukis senyum dari bibirnya.
***
Keesokan harinya Kiara dan Mega sudah bangun, mereka makan pagi bersama.
"Iya, Ma." Wajah Mega tampak senang sekali mendengar hal itu.
Arthur mengantar mereka berdua ke sekolah seperti biasa. Di dalam mobil mereka bertiga melihat ada Elang di sana.
"Apa mau aku antar sampai ke kelasmu?" tanya Arthur seketika.
"Tidak perlu, Arthur. Aku akan menghindarinya saja karena aku tidak mau menimbulkan masalah lagi."
"Kalau begitu biar aku saja yang keluar dulu dan bicara dengan Elang." Mega keluar dari dalam mobil dan menghampiri Elang.
"Arthur, aku mohon jangan membuat masalah dengan Elang."
"Kalau dia hanya mengajak kamu berbicara, aku tidak akan mempermasalahkan, tapi jika dia menyentuhmu, aku tidak akan tinggal diam."
"Aku akan menghindarinya. Kalau begitu aku masuk ke dalam kelas dulu." Kiara tidak lupa berpamitan pada suaminya seperti biasa.
Mega dapat menjelaskan pada Elang agar tidak mendekati Kiara lagi karena akan membuat Kiara mendapat masalah.
"Aku mohon, Lang. Lupakan Kiara karena dia tidak ingin dekat lagi denganmu. Lagi pula dia sudah tidak mencintaimu."
"Kiara tidak mungkin melupakanku secepat itu. Dia masih mencintaiku, begitupun denganku masih sangat mencintainya."
"Coba lupakan dia, Lang. Kiara juga pernah bilang jika dia perlahan sudah melupakan kamu."
"Apa dia memiliki kekasih?"
"Aku tidak tau, tapi dia hari dia menginap di rumahku, aku pernah melihat dia berbicara lewat telepon dengan seseorang dan terlihat Kiara tampak bahagia."
"Apa itu kakak kamu?"
"Arthur? Sepertinya bukan, tapi jika memang dengan kakakku juga tidak masalah 'kan? Kalian juga sudah putus dan Kiara berhak dengan siapapun."
Elang tidak menjawab. Dia malah langsung pergi dari hadapan Mega dengan wajah marahnya.
"Maafkan aku kalau aku harus berbohong, tapi semua itu untuk kebaikan kamu dan Kiara."
Pelajaran dimulai seperti biasa dan Elang tidak lagi menemui Kiara karena dia baru saja mendapat telepon dari mamanya agar tidak mendekati Kiara atau mamanya akan turun tangan dan berbuat sesuatu pada Kiara.
Siang itu Kiara dan Mega pulang ke rumah dijemput oleh supir. Sampai di rumah Mega Kiara berpamitan pada Mega dan mamanya untuk kembali pulang ke rumah.
Kiara diantar oleh supir Mega ke rumahnya dengan membawa barang-barang miliknya.
"Akhirnya aku pulang ke rumah lagi. Walaupun hanya dua hari, tapi kenapa serasa lama sekali.
Tidak lama ponselnya berbunyi dan itu dari Mba Tami. Kiara sangat merindukan mba Tami juga.
"Mba Tami, kenapa lama sekali pulangnya?" omel Kiara.
"Kenapa? Kamu sudah kangen ya sama aku? Aku juga kangen sama kamu, tapi aku sangat bahagia di sini karena aku seolah memiliki keluarga yang utuh. Kedua orang tua Banni sangat menyayangiku seperti aku anaknya sendiri."
"Mba Tami betah di sana, jangan-jangan sudah menikah diam-diam dengan mas Banni ya?"
"Enak saja, memangnya aku itu kamu. Aku dan Banni memang ingin menikah, tapi nanti pasti akan mengundang orang di tempat tinggal kita dan kamu juga serta suamimu. Oh iya, bagaimana kabar pernikahan kalian? Jangan katakan kalau kamu sedang menunggu proses perceraian dengan Arthur! Kiara, jangan mengambil keputusan yang nanti akan membuat kamu menyesal seumur hidup."
"Aku akan tinggal di apartemen Arthur, Mba," ucap Kiara lirih.
"Apa? Kamu serius?" suara Mba Tami terdengar terkejut sekaligus senang.
"Iya, Mba, aku serius akan tinggal dengan Arthur di apartemennya."