Be Mine

Be Mine
Impian Kita



Kiara mengkerutkan alisnya melihat apa yang dituliskan oleh Arthur pada seragamnya.


"Kamu tidak salah menuliskan seperti itu, Mas?"


"Salah dari mananya?"


"Mana ada anak SMA mendapat kata-kata kenangan dengan ucapan selamat atas kelulusan sekolahnya, istriku? Di tambah dari suami yang sangat mencintaimu."


"Khusus kamu ada, Kiara."


Kiara semakin mengerutkan alisnya. "Kalau melihat kejadian ini aku jadi ingin tertawa saja sebenarnya."


"Tertawa karena apa?" tanya Arthur penasaran.


"Aku jadi ingat anak-anak sekolah bahkan yang masih tingkatan dasar, dan mereka berpacaran dengan memanggil papa, mama. Kalau tidak istriku atau suamiku. Jika seragam ini masih aku pakai saat sekolah dan teman-temanku membacanya, pasti mereka mengataiku gadis alay dan menertawakan aku habis-habisan."


"Aku sering melihat kejadian dua anak kecil yang memang memanggilnya, aku sendiri ingin kesal pada mereka karena itu bukan sesuatu yang pantas dilakukan mereka."


"Pertemanan anak sekarang sangat menakutkan, terutama gadisnya. Kelak, jika aku memiliki seseorang anak, pasti tidak akan lepas dari pengawasanku," jelas Kiara.


"Pasti kamu akan terlihat cantik jika sedang hamil, Ara." Arthur mengecup kecil hidung istrinya dan tentu saja membuat Kiara tampak tersipu malu karena hal itu.


"Aku juga pasti menunggu pengalaman seruku saat menjadi seorang ibu, Mas."


Mereka berdua tampak berpandangan dengan saling melempar senyuman.


"I Love You," ucap Kiara tanpa mengeluarkan suaranya, hanya gerakan mm pada Arthur.


Hari ini adalah hari yang Kiara tunggu. Dia sudah tampil sangat cantik di depan cermin. Kebaya berwarna brown gold tampak melekat indah di tubuhnya. Dia juga hanya memakai sanggul modern dan make up minimalis.


"Cantik sekali istriku hari ini." Arthur mengecup lembut pipi Kiara.


"Terima kasih, sebenarnya aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak mau menyusahkan mba yang sudah susah payah meriasku hari ini."


"Kamu mau menangis karena teringat mendiang ibumu?"


Kiara mengangguk perlahan. "Seharusnya ibu juga hadir menemaniku wisuda hari ini. Aku ingin ibu berfoto denganku saat aku wisuda, tapi semua itu tidak akan bisa dan nanti aku akan berdiri sendiri di sana." Kiara benar-benar tidak dapat menahan air matanya dan akhirnya buliran air itu menetes perlahan.


"Jangan menangis, Ara. Aku akan berada di sana menemanimu." Arthur mengusap air mata istri kecilnya itu.


"Kamu memang akan berada di sana, Mas, tapi kamu tidak akan bisa menemaniku sebagai suami. Kita tidak mau kalau sampai mereka tau aku sudah menikah denganmu, apa lagi keluargamu."


Arthur tampak berpikir sejenak. "Kita nanti akan berfoto bersama. Aku tidak peduli mereka akan berpikiran apa tentang kita."


Kiara memeluk suaminya. "Aku tidak apa-apa, Mas. Aku tidak mau merusak hari indah ini dengan keluargamu mengetahui tentang pernikahan kita."


Arthur ini juga kasihan dengan istrinya yang memang tidak memiliki siapa-siapa di sini, yang Kiara miliki saat ini adalah Arthur, tapi mereka tidak boleh sampai ketahuan memiliki ikatan yang sangat dalam.


Arthur sebenarnya tidak takut jika semua orang, bahkan keluarganya mengetahui hal itu, tapi kembali lagi, dia juga harus memastikan Kiara siap atau tidak dengan hal itu karena Arthur tidak mau membuat istrinya kepikiran.


"Kalau begitu sekarang kita pergi saja. Aku sudah memesankan mobil online yang akan mengantar kamu ke sekolah dan aku akan mengawasimu dari kejauhan.