Be Mine

Be Mine
About Baju Pantai part 2



Morgan akhirnya mengajak Lila bergabung dengan mereka. Tia pun datang dan akhirnya para gadis yang terdiri dari lima orang itu berfoto bersama di pantai itu.


Arthur melihat dari kejauhan, dia hanya menghela napasnya panjang. "Istri yang tidak menurut apa kata suami harus mendapat hukuman. Temui nanti aku di kamarku, tidak peduli apa alasan kamu pada Mega."


Arthur mengirim pesan pada Kiara yang masih berfoto bersama teman-temannya.


"Teman-teman, aku minta maaf, mau ke belakang dulu. Kita sudah selesai 'kan berfotonya?"


"Dasar kamu itu! Ya sudah sana ke belakang, kita menunggu di sini, dan nanti kamu ke sini kalau sudah."


"Iya." Setelah mengatakan itu Kiara langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada di pantai itu. Kiara melihat dia sudah jauh dari teman-temannya dan membuka ponselnya, Kiara ingin menghubungi Arthur, tapi dia mendelik melihat pesan dari suaminya.


"Sudah puas memakai baju itu?" tanya Arthur dari arah belakang Kiara.


Kiara yang kaget langsung menoleh. "Mas!"


"Ganti baju kamu. Menyebalkan sekali melihat kamu memakai baju itu, apa lagi ada Morgan dan Elang." Wajah Arthur langsung terlihat marah.


"Aku kan tidak berniat menggoda siapapun dengan memakai baju ini. Ini untuk berfoto bersama teman-temanku supaya kompak."


"Tapi kamu sudah punya suami dan tidak baik memakai baju terbuka seperti itu."


"Mas juga tadi membuat teman-temanku mendekatimu." Kiara bersidekap.


"Bukan salahku kalau seperti itu. Aku hanya bersikap baik dengan teman-temanmu, apa lagi aku kakaknya Mega."


"Mencari alasan." Kiara berjalan melewati Arthur.


"Ganti bajumu, Kiara."


"Tidak mau, nanti Mega kalau bertanya aku harus menjawab apa?"


Arthur menarik tangan Kiara dan menciumi leher Kiara. "Mas!"


"Tanda merah itu indah sekali," ucap Arthur sambil menunjukkan senyum smirknya.


"Mas! Kamu buat tanda merah lagi?" Kiara seketika panik. Tangannya pun sampai memegangi lehernya.


"Ganti baju apa tidak? Atau mau aku berikan banyak tanda merah itu?"


"Iya, aku mau!" Kiara berjalan dengan wajah cemberut menuju hotel secara diam-diam. Arthur mengejar kemudian menggandeng tangan Kiara.


"Beautiful," suara pujian seorang turis yang berjalan berpapasan dengan mereka memuji Kiara.


Arthur yang kesal segera melepas baju kemejanya dan menutupi paha Kiara kemudian dia dengan cepat menggendong Kiara.


"Awas kalau kamu memakai baju seperti ini lagi!" ucapnya ketus.


"Manis sekali wajahnya kalau marah." Kiara malah melingkarkan kedua tangannya pada leher Arthur.


Mereka segera naik ke lantai kamar Kiara karena kebetulan Kiara membawa id card untuk membuka pintu kamar hotelnya.


Saat pintu lift terbuka, Arthur segera membawa Kiara menuju ke kamarnya. "Kiara? Dan kamu Kakaknya Mega, kan?"


Kiara dan Arthur saling melihat panik karena wali kelas Kiara memergoki Arthur yang sedang digendong oleh Kiara.


"Pak, saya dan Mas Arthur ... kami--."


Kiara bingung mau mengatakan apa. Dia sekali lagi melihat ke arah Arthur.


"Saya membantu Kiara tadi yang terjatuh saat di pantai dan kali Kiara sepertinya agak keseleo." Arthur mencari sebuah alasan.


"Oh ya? Sekarang bagaimana keadaan kaki kamu, Kiara? Apa perlu di bawa ke klinik?" tanya pria paruh baya yang adalah wali kelas Kiara.


"Tadi sudah saya pijat karena saya sedikit banyak tau tentang hal seperti ini. Kaki Kiara baik-baik saja, Bapak tidak perlu khawatir."


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih Kakaknya Mega."


"Nama saya Arthur, Pak."


"Oh iya, Arthur, sekali lagi terima kasih. Kiara, apa mau bapak bantu masuk ke dalam kamar?"


"Em!" Kiara tampak bingung.


"Oh ya, sudah! Kamu bawa Kiara masuk ke dalam kamarnya."


Setelah pintu terbuka, Arthur membawa Kiara masuk dan meletakkannya. Di atas tempat tidur.


Arthur mengambil kemejanya dan menutupi kaki Kiara dengan selimut.


"Kiara, kamu beristirahatlah dulu di sini. Kalau masih sakit kakinya nanti kamu bisa memberitahu Bapak."


"Kakiku sudah baik, kok Pak. Sudah lebih baik dari yang tadi."


"Iya, tapi sebaiknya kamu beristirahat saja dulu sampai baikkan."


"Iya, Pak."


"Kalau begitu Bapak dan Arthur keluar dulu."


Arthur kesal sekali, dia niatnya memberi hukuman untuk Kiara dengan mengajak Kiara ke kamarnya setelah mengambil baju gantinya, malah ketahuan sama guru Kiara.


"Terima kasih, Pak. Terima kasih, Mas Arthur." Kiara memberikan senyuman liciknya pada Arthur, Kiara sengaja menggoda Arthur.


Pak Guru itu berjalan keluar lebih dulu dan Arthur dengan gerakan cepatnya mengecup kening Kiara dan segera pergi dari sana.


"Mas!" Kiara mendelik. Dia takut sekali jika gurunya melihat apa yang Arthur lakukan sama dia.


Tidak lama ponsel Kiara berdering dan itu dari Mega.


"Kiara, kamu di mana? Masak dua kali izin ke toilet selalu tidak kembali. Diculik sama jinnya toilet?"


"Aku sebentar lagi ke sana, kalian tunggu saja."


"Kamu cepetan ke sini karena aku mau mentraktir kalian makan siang di kedai milik keluarganya Lila."


"Iya, tunggu sebentar! Aku akan ke sana."


Setelah panggilan berakhir, Kiara segera berganti baju karena dia tidak mau Arthur sampai marah, walaupun baru sekarang Kiara menyukai wajah marah dari suaminya.


Pilihan baju Ara adalah celana katun tepat di bawah pahanya dan ada tali ikatan di bagian pinggang. Kiara memakai kao putih yang melekat pas pada bagian atasnya.


"Kalau begini dia tidak akan marah."


Kiara kembali menyisir rambutnya, dan setelah itu dia berjalan menuju pintu kamarnya. Saat membuka pintu, Kiara dikejutkan oleh Elang yang sudah berdiri di sana.


"Elang? Kamu ada apa ke sini? Dan dari mana kamu tau aku di kamarku?"


"Tadi aku bertemu wali kelasmu saat di lantai bawah dan wali kelasmu bilang kamu habis jatuh. Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik, Lang. Lang, sebaiknya kamu pergi saja dari sini."


"Kiara, aku ingin bicara sebentar sama kamu."


"Lang, aku tidak mau terlalu dekat dengan kamu, dan aku harap kamu tau masalah itu."


"Kiara, apa benar kamu akan menikah dengan kekasihmu? Bukankah kekasihmu itu adalah Arthur?"


"Elang, aku mohon kamu jangan ikut campur dengan semua urusanku. Kamu fokuslah pada pertunangan kamu yang sebentar lagi."


"Kiara, aku ingin bertanya dan kamu harus menjawab dengan jujur. Apa benar kamu mau menikah?"


"Iya, Lang, aku akan segera menikah dengan kekasihku."


"Kenapa, Kiara? Andai kamu mau menungguku, aku akan bisa menikah denganmu."


"Apa yang kamu bicarakan itu bukan hal yang sepatutnya kamu katakan pada sahabat dari calon istrimu."


"Apa hebatnya pria itu yang tidak bisa aku lakukan, Kiara?"


Kiara terdiam mendengar apa yang Elang katakan barusan. "Lang, sebaiknya kamu pergi karena aku mau menemui Mega di pantai."


"Katakan dulu padaku, Kiara! Apa yang tidak aku punyai yang pria itu punyai?"