Be Mine

Be Mine
Pengajuan Kiara



Sebuah tamparan keras mendarat tepat pada pipi Elang karena sudah berusaha mencium Kiara.


"Jangan kurang ajar padaku, Lang! Aku akan menikah dengan seseorang dan kamu harus menghormatimu!"


Elang Malah menahan tubuh Kiara pada tembok. "Apa selama kita berpacaran aku pernah kurang ajar padamu? Bahkan aku menahan untuk tidak menciummu walaupun aku sebenarnya sangat ingin karena kamu kekasihku. Aku menghormatimu, tapi ternyata kamu yang membohongiku. Kamu beberapa bulan dekat dengannya, tapi kamu mau menikah. Kenapa? Apa kamu sudah tidur dengannya?"


Kiara meneteskan air matanya mendengar apa yang Elang katakan.


"Kalau kamu mau, aku juga bisa melakukan hal itu, Kiara."


Elang tiba-tiba menarik tangan Kiara dan membawa Kiara masuk ke dalam kamarnya lagi. Kiara seketika berubah panik dan ketakutan, dan bayangan akan kejadian bersama dengan Arthur seolah kembali muncul saat itu juga.


"Lang, kamu mau apa? Lang! Lepaskan!"


Elang menutup pintu kamar Kiara dan menjatuhkan tubuh Kiara di atas tempat tidur.


"Lang, kamu mau apa?"


"Aku mau melakukan hal tiga tahun lalu yang seharusnya aku lakukan. Aku mencintaimu dan waktu itu kita sama-sama saling mencintai. Aku akan memilikimu dan tidak akan membiarkan orang lain memilikimu."


Elang langsung berada tepat di atas tubuh Kiara. Kiara mencoba mendorong Elang, tapi kekuatan Elang jauh lebih di atas Kiara.


"Jangan ini padaku, Lang. Jangan buat aku akan membencimu seumur hidupku."


"Aku tidak peduli, Kiara! Aku sangat mencintainya, tapi kenapa hanya karena pria yang baru saja hadir di dalam hidupmu, kamu lebih memilihnya."


"Aku mencintainya, Lang, dan dia adalah bagian dari hidupku saat ini."


"Aku juga akan menjadi bagian dalam hidupmu."


Tangan Elang sudah mulai menelusup pada baju Kiara, dan hal itu yang membuat Kiara langsung menjerit ketakutan.


"Hentikan, Lang! Jangan berbuat hal buruk padaku karena aku sedang mengandung anak Mas Arthur!"


Seketika jantung Elang berdetak dengan keras. Dia terdiam di atas tubuh Kiara. Ada sesuatu yang seolah menikam jantung Elang dengan sangat sadis.


"A-apa?" Terdengar suara Kiara menangis dengan kencang. "Ka-kamu bilang apa, Kiara?"


"Iya, Lang, aku hamil dan ini anak mas Arthur. Aku dan Mas Arthur sudah menikah beberapa bulan yang lalu." Kiara asal saja bicara dia hamil agar supaya Elang tidak sampai berbuat hal buruk padanya.


"Tidak mungkin, Kiara. Itu tidak mungkin, kamu pasti berbohong padaku."


Kiara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bohong dan aku sangat mencintai mas Arthur."


Elang perlahan beranjak dari tubuh Kiara. Dia seperti orang yang tidak memiliki jiwa lagi.


Elang berjalan gontai keluar dari kamar hotel Kiara.


Kiara bangkit dan memeluk selimut untuk menutupi tubuhnya dan dia akhirnya menangis dengan sekencang-kencangnya.


Arthur yang berada di dalam kamarnya terlihat gelisah, entah kenapa tiba-tiba perasaanya sedang tidak karuan saja. Dia yang sudah mengirim pesan pada Kiara untuk datang ke kamarnya, tapi Kiara belum datang, dan apa lagi dia mencoba menghubungi Kiara, tapi tidak dijawab.


"Dia ke mana? Pesanku sudah dibaca, tapi kenapa dia belum datang."


Kiara memang sudah membaca pesan. Niatnya tadi dia ke kamar Arthur dulu, baru kemudian dia akan ke pantai menemui Mega.


Arthur akhirnya memilih pergi ke kamar Kiara, dan dia nanti akan mencari alasan kenapa dia mencari Kiara.


Arthur yang sudah sampai di depan pintu kamar Kiara segera mengetuknya. Namun, dia tidak mendapat jawaban dari pemilik kamar itu.


Kiara yang mendengar ketukan pintu dan dia mendengar suara panggilan dari Arthur. Kiara segera menghapus air matanya dan mencoba menenangkan dirinya.


"Mas Arthur tidak boleh melihatku bersedih. Dia pasti nanti bertanya dan aku tidak mau kalau sampai dia tau apa yang tadi terjadi denganku."


Kiara membuat dirinya terlihat baik-baik saja, kemudian dia membuka pintu dan tersenyum pada Arthur.


"Aku baik-baik saja, Mas. Tadi aku masih di dalam kamar mandi."


"Kamu yakin tidak ada apa-apa?"


"Iya! Aku baik-baik saja. Mas, kita pergi saja ke pantai karena Mega tadi sudah menghubungiku."


Kiara mencoba tersenyum terus di depan Arthur. Kiara tidak mau jika Arthur sampai mengetahui apa yang dilakukan Elang padanya tadi karena Kiara sangat tau sifat Arthur.


Mereka sampai di pantai dan Kiara langsung mengedarkan pandangannya melihat apa di sana ada Elang atau tidak. Ternyata di sana tidak ada sosok yang tidak ingin Kiara temui.


"Mas, kita berjauhan saja agar mereka tidak curiga."


Arthur mengecup kening Kiara dan dia berjalan menjauh dari istrinya. Kiara meneteskan air matanya melihat punggung suaminya berjalan menjauh darinya.


"Kiara, kamu lama sekali, sih!"


"Maaf, aku tadi kembali ke kamar untuk berganti baju."


"Kenapa ganti baju seperti ini?"


"Tadi aku terjatuh dan bajuku kotor. Jadi, aku langsung kembali ke kamar untuk berganti baju. Aku minta maaf ya, Mega."


"Iya sudah tidak apa-apa. Eh, kamu tadi bertemu Elang apa tidak saat kembali ke kamar?"


Kiara seketika merasakan sakit saat diingatkan tentang Elang. "Aku tidak melihatnya."


"Dia tadi bilang mau kembali ke kamar sebentar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar karena dia mau menghubungi mamanya.


"Aku tidak tau."


"Ya sudah kalau begitu aku akan menghubungi dia saja."


Mega berjalan pergi dari sana untuk menghubungi Elang.


Kiara tampak terdiam, sampai Arthur yang memanggilnya pun dia tidak mendengar.


"Sayang, kamu melamun apa?"


Kiara sadar dan melihat pada suaminya yang memegang lengan tangannya. "Mas, kamu di sini?"


"Iya, aku di sini dan dari tadi menyapa kamu. Kamu kenapa, Kiara? Apa kamu ada masalah?"


"A-aku tidak ada apa-apa, Mas."


"Kiara, kalau kamu ada masalah ceritakan padaku. Aku suamimu dan aku berhak tau masalah yang sedang kamu hadapi."


"Mas, aku benar-benar tidak kenapa-napa."


Arthur ini entah kenapa dia merasa jika istrinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi Kiara yang memang sangat keras kepala tidak akan mau bercerita padanya.


"Kak Arthur, Kiara, kita makan dulu di kedai milik Lila, nanti Elang akan menyusul kita ke sana."


"Iya, Mega." Kiara dan kelima temannya berkumpul serta ada Morgan dan Arthur di sana.


Kiara duduk berhadapan dengan sang suami yang tidak berhenti menatapnya karena Arthur masih penasaran ada apa dengan istrinya itu.


"Elang ini ke mana? Kenapa dia belum datang juga," ucap Mega bingung karena pria yang akan ditunangkan dengannya dari tadi belum datang.


Mereka akhirnya memesan makanan dan mulai menikmati makanannya tanpa menunggu Elang, tapi hanya Mega yang masih menunggu Elang datang.


"Mega, sudah kamu makan saja, Elang jangan ditungguin, mungkin dia masih berbicara dengan mamanya, atau kalau tidak dia masih berjalan-jalan menikmati udara pantai untuk mendinginkan hatinya," terang Morgan