Be Mine

Be Mine
Mencari Kamu



Arthur sudah sampai di tempat dia biasa menjemput Kiara, tapi istrinya itu tidak ada di sana. Arthur mencoba menghubungi ponselnya, tapi tidak dijawab oleh si empunya ponselnya. Akhirnya Arthur memutuskan pulang ke apartemennya, siapa tau istrinya itu sudah pulang lebih dulu, apa lagi tadi Kiara mengatakan dia tau jalan pulang.


Sesampainya di apartemennya, Arthur tidak melihat ada tanda-tanda Kiara tampak di sana. Arthur mencarinya di seluruh ruangan, tapi dia tidak menemukan yang namanya Kiara.


"Dia ke mana? Apa dia belum pulang? Atau yang dia maksud tau jalan pulang adalah ke rumahnya itu? Oh Tuhan! Dia pasti sangat marah padaku." Arthur mengusap wajahnya kasar, dan dia langsung berlari menuju pintu keluar apartemennya.


Arthur mengemudikan mobilnya sedikit cepat, dia ingin segera memastikan jika Kiara ada di sana. Sampai dia sana dia yang sudah tidak peduli ucapan tetangga Kiara langsung menuju rumah Kiara.


Arthur mencoba mengetuk pintu rumah Kiara, tapi sama sekali tidak ada jawaban, dan sepertinya Kiara tidak ada di dalam rumah.


"Maaf, kamu sedang mencari Kiara?" Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya bertanya pada Arthur.


"Iya, Bu. Apa Kiara tidak ada di rumah?"


"Dia sudah beberapa hari tidak tinggal di sini lagi, katanya dia pergi ke rumah saudaranya, dan tinggal sementara di sana. Coba saja kamu hubungi nomornya dan tanya alamatnya sekarang."


"Oh iya, terima kasih kalau begitu." Arthur tau


jika hari ini Kiara tidak pulang ke rumahnya. Lantas dia di mana?


Arthur punya dua pilihan lagi, yaitu di toko kue ibunya atau kalau tidak Kiara ada di makam ibunya.


Arthur mencoba menghubungi ponsel Kiara, tapi tetap saja tidak dijawab oleh gadis itu. "Aku benar-benar harus bersabar menghadapi istriku yang masih sangat muda itu."


Kiara yang ternyata berada di makam ibunya, tampak membersihkan makam ibunya yang sudah ditumbuhi rumput liar.


"Ibu, aku kangen sama Ibu. Aku juga kangen sama ayah." Kiara tampak menahan air matanya. Dia duduk di atas pusaran ibunya. "Bu, aku ke sini ingin mengadu juga tentang suami pilihan Ibu itu. Aku tidak mau menyalahkan ibu karena memaksaku agar menikah dengan Arthur, aku tau kenapa ibu melakukan itu. Bu, aku dan Arthur sedang menjalani perjanjian tiga bulan, dan selama tiga bulan itu kita akan hidup seperti suami istri pada umumnya, aku setuju, tapi sekarang aku ingin mengakhirinya saja, dan secepatnya berpisah dari suami yang tidak bisa setia."


"Aku setia, buktinya hanya kamu gadis dalam hidupku, walaupun kamu bersikap dingin denganku," suara Arthur tiba-tiba terdengar tepat di belakang Kiara.


Kiara memejamkan kedua matanya karena dia ketahuan sedang membicarakan Arthur dengan mendiang ibunya. Dia perlahan berdiri dari tempatnya.


Kiara menoleh perlahan pada pria yang ada di belakangnya. "Untuk apa kamu ke sini?"


"Untuk menjemput istriku. Kenapa datang ke sini sendirian? Bukannya aku sudah berjanji akan mengajak kamu ke sini jika ulanganmu sudah selesai."


"Aku tidak yakin kalau kamu akan membawaku ke sini. Kamu itu, kan, pria yang sangat sibuk." Kiara kembali membelakangi Arthur.


Arthur berjalan mendekat dan dia sekarang tepat berada di samping Kiara berdiri. "Selamat siang, Bu. Terima kasih sudah mengizinkan aku menikahi Kiara, dia istri yang baik dan sedikit penurut," celoteh Arthur.


"Mau mengadu? Kalau tidak nyaman denganku, silakan saja urus surat--"


"Kiara!" ucap Arthur dengan menatap tajam pada gadis itu. Arthur tau apa yang ingin Kiara katakan tadi. "Ini di makam ibumu, dan jangan bicara hal seperti itu."


Kiara seketika terdiam. Dia kembali menatap pada pusaran ibunya.