
Mega tampak bahagia duduk di sebelah pria yang sangat dia cintai itu. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.
"Lang, apa kamu bahagia bisa bersama denganku?"
"Tentu saja, Mega. Kenapa kamu tanyakan hal itu?"
"Apa kamu sudah benar-benar melupakan Kiara?"
Elang terdiam sejenak. Dia kemudian terseyum kecil pada Mega. "Aku sudah benar-benar melupakan Kiara karena dia pun sudah melupakan aku. Lalu, untuk apa aku harus mengingatnya terus? Lebih baik aku memikirkan seseorang yang benar-benar mencintaiku dan ingin memiliki masa depan denganku."
"Aku sangat mencintaimu, Lang dan kamu tau sejak kapan aku mencintaimu."
"Iya, kamu dari dulu sudah mencintaiku, tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Andai kamu dulu menunjukkan rasa cintamu padaku, pasti aku tidak perlu merasakan yang namanya patah hati karena salah mencintai Kiara yang cintanya bisa berubah."
"Aku ingin mengatakan jika aku gadis kecil yang dulu pernah kamu tolong dan sejak itu aku sangat menyukaimu, tapi Kiara lebih dulu merebutmu dariku." Saat mengatakan hal itu wajah Mega tampak menahan kesal.
"Kiara ternyata tidak benar-benar mencintaiku, dia memilih mencintai orang lain."
"Iya, dan aku sangat terkejut saat tau dia menikah dengan Kakakku, bahkan dia mengandung anak dari Kakakku. Mamaku benar-benar shock mendengar hal itu, dan dia ingin Kiara berpisah dari Arthur. Jujur saja aku juga tidak ingin dia menjadi kakak iparku, apa lagi kita akan menikah."
"Tapi mama kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa karena Arthur tidak akan membiarkan hidupnya diatur oleh kalian."
"Selena akan membantu mamaku agar Kiara dapat pergi sejauh mungkin dari kehidupan kakakku."
Mobil mereka sudah berhenti di dalam parkiran. Elang melihat penasaran pada Mega. "Selena? Siapa dia?"
"Dia mantan kekasih kakakku dan dia satu-satunya wanita yang ada dalam hidup Kak Arthur sebelum dia kenal dengan Kiara."
"Mantan kekasihnya?"
"Iya, Kak Arthur dulu ingin sekali menikah dengannya, tapi dia wanita yang bodoh karena sudah memilih selingkuh dan menikah dengan mantannya, tapi ternyata dia tidak bahagia dan sekarang ingin mendekati kakakku lagi."
"Apa Arthur masih mencintainya?" tanya Elang penasaran.
"Aku yakin, kakak aku pasti masih mencintainya karena dia wanita pertama dan cinta pertama dalam hidup Kak Arthur."
"Tapi setahuku jika kakak kamu sangat mencintai Kiara, buktinya dia berani melawan mama kamu."
"Lihat saja, nanti Selena akan bisa membuat hati kakakku berubah, dan Kiara akan ditinggal dengan bayi dalam perutnya."
Elang tampak terdiam sejenak, dia berpikiran tentang suatu hal. Mega yang melihat sikap Elang seolah sedang memikirkan apa yang baru dia ucapkan jadi menaruh perasaan curiga.
"Apa yang kamu pikirkan, Lang? Kamu berpikir akan mendekati Kiara jika Kakakku meninggalkannya?"
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Untuk apa aku mendekati Kiara lagi yang jelas-jelas sudah bukan Kiara yang dulu, apa lagi dia mengandung anak orang lain. Lebih baik aku bersama wanita yang benar-benar seutuhnya hanya menyerahkan dirinya padaku dan nantinya mengandung anakku. Dia itu kamu." Tangan Elang mengusap lembut pipi Mega.
"Lang, aku berjanji akan membuat kamu bahagai karena aku sangat mencintaimu dan aku akan menjadi istri yang baik untukmu."
"Aku tau itu."
"Mega, ada panjaga." Elang dengan cepat melepaskan ciuman mereka karena memang tiba-tiba ada penjaga di tempat parkir itu lewat.
Mega tertawa dengan senang dan malu juga. "Nanti saja kita lanjutkan. Apa kamu mau mengajakku makan malam secara private? Kita bisa memesan tempatnya."
"Kalau nanti malam aku tidak bisa karena aku mau menyelesaikan pekerjaan kantor yang ayahku berikan, bagaimanapun aku harus mulai belajar dari sekarang tentang perusahaan di mana nanti akan menjadi CEOnya."
"Ya sudah tidak apa-apa karena aku juga tidak boleh egois. Kamu harus menjadi CEO yang bisa menjalankan perusahaan itu agar kedua orang tuamu bangga sama kamu."
"Terima kasih kamu bisa mengerti, Sayang."
"Sayang? Kamu memanggilku sayang, Lang?"
"Iya, memangnya kenapa? Kamu tidak menyukai panggilan itu?"
"Tentu saja aku suka, Lang." Mega tampak terlihat bahagia.
Mereka masuk ke dalam mall dan langsung menuju toko di mana Mega ingin membeli buku. "Sayang, kamu pilih dulu buku di sini karena aku mau ke toilet sebentar dan nanti aku akan menemuimu di sini."
"Iya, Lang."
Elang segera keluar dari toko buku dan berjalan dengan agak cepat menuju toilet yang ada di satu lantai dengan toko buku.
Elang berdiri di depan wastafel dan dengan cepat dia mencuci bibirnya dengan air. "Aku harus bisa bertahan dengan semua ini karena semua ini pasti akan berakhir dan setelah apa yang aku inginkan itu aku dapatkan. Aku tidak membutuhkanmu lagi Mega, tapi aku membutuhkan Kiara dan bayinya pun aku akan menerimanya."
Mega tampak berdiri di depan toko buku menunggu Elang yang katanya ke toilet, tapi kenapa lama sekali sampai dia selesai mencari buku.
Saat Mega ingin mengambil ponsel untuk menghubungi Elang, tiba-tiba ada setangkai bunga merah datang dari arah belakang, dan tentu saja hal itu membuat dia sangat terkejut.
"Maaf kalau kamu menunggu lama karena setelah dari dalam kamar mandi aku pergi mencari bunga mawar yang asli untuk kamu, dan kamu tau itu sangat sulit."
"Ya ampun, Lang! Kenapa malah repot mencari bunga mawar yang asli untukku di sini? Kenapa tidak mencari yang buatan saja? Di sini pasti susah mencari yang bunga asli."
"Kata orang-orang kalau mau memberi bunga pada orang yang dicintai harus memakai bunga asli karena kalau yang tiruan atau palsunya, itu berarti cintanya juga palsu."
Mega terkekeh. "Kata siapa, Lang? Aku percaya jika cinta kamu benar-benar tulus untukku." Mega menerima bunga itu dengan senang dan memeluk Elang. Pun Elang menyambut pelukan Mega, tapi dibalik punggung Mega, Mega tidak tau ekspresi wajah Elang yang tampak datar.
Di apartemennya Arthur, dia yang masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang berdiri di depan cermin setelah selesai mandi dan berganti baju tampak terseyum dan mendekati wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
Arthur memeluk Kiara dari belakang dengan seluruh rasa cintanya. Arthur pun mendaratkan kecupan yang dalam tepat pada pipi Kiara.
"Kamu cantik sekali hari ini," puji Arthur.
"Memangnya setiap hari aku tidak cantik? Atau kamu memujiku karena ingin meminta itu." Bibir Kiara terlihat dari pantulan cermin tampak mengerucut.
Arthur malah tertawa dengan senangnya. "Apa aku semesum itu, ya, sampai kamu selalu berpikiran seperti itu saat aku memujimu?"
"Habisnya! Mas tadi bilang kalau aku hari ini terlihat sangat cantik. Jadi, biasanya aku tidak cantik?"