
Elang tampak terkejut melihat video yang ada di sana. Ternyata kecurigaannya selama ini pada Mega terbukti. Elang tau itu semua karena ada salah satu teman sekolahnya dulu memberitahu Elang tentang apa yang Mega beberapa kali lakukan pada Kiara. Gadis itu disuruh oleh Mega menyakiti Kiara dan berusaha memisahkan Elang dengan Kiara, walaupun tidak berhasil dan temannya itu mau melakukannya karena Mega mau memberinya uang untuk membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit, tapi ibunya akhirnya meninggal dan dia merasa bersalah pada Kiara dan Elang.
Elang mencoba mereka video itu pada ponselnya, dan sebelum Mega kembali dia segera mematikannya dan mengembalikan seperti semula.
Flashback Off
Arthur mencari di mana Kiara karena saat dia kembali dengan membawa dua gelas minuman, dia tidak menemukan Kiara di meja mereka.
"Kemana Kiara? Apa dia berada di kamar mandi?"
Arthur seolah bisa menebak karena sejak hamil, Kiara sering sekali ke kamar mandi karena dia juga sekali minum air mineral.
Arthur mencoba menghubungi ponsel Kiara, tapi tidak dijawab oleh wanita itu karena Kiara memang masih sibuk di dalam toilet.
"Kamu sedang mencari istrimu, Kak Arthur?" suara Elang tepat berada di belakang Arthur.
"Iya, Lang. Kenapa kamu bisa tau?"
Elang malah tersenyum kecil. "Tadi sewaktu aku keluar dari kamar mandi, aku berpapasan dengan Kiara. Dia mungkin masih berada di dalam kamar mandi."
Kedua alis Arthur sudah mengkerut saja. Dia seolah langsung merasa cemburu, dikiranya Elang sengaja mengikuti Kiara ke kamar mandi.
"Kamu mengikuti istriku, Ya?" tanyanya dengan nada ketus.
"Jangan salah paham dulu. Aku sama sekali tidak mengikuti Kiara. Kak Arthur, jangan selalu berpikiran jika aku masih mengejar Kiara karena hal itu tidak benar. Aku sekarang mencintai adikmu dan aku akan menikah dengannya. Oh ya! Apa Kiara sudah mengatakan jika aku memberinya walkman. Itu hanya pemberian biasa saja dariku karena memang dulu aku sempat membelinya sebagai hadiah ulang tahun, tapi belum sempat aku berikan, dan Mega juga sudah mengetahuinya."
"Kiara sudah menceritakan hal itu padaku, tapi maaf aku menyuruh Kiara menyimpannya dan aku sudah membelikan yang baru untuknya karena jujur saja aku tidak bisa menerima jika istri dan anakku mendengarkan lagu classic dari walkman pemberian orang lain," terang Arthur tegas.
"Aku minta maaf jika hal itu malah membuat kamu terganggu, tapi aku sebenarnya tidak memiliki maksud apapun, Kak Arthur. Oh ya! Satu lagi, aku bukan orang asing bagi Kiara karena sebelum mengenal kamu, aku dan Kiara memiliki masa lalu yang indah, dan sekarang aku akan menjadi ipar bagimu dan Kiara." Elang tersenyum dan berjalan pergi melewati Arthur.
Arthur tampak terdiam di tempatnya, dia kemudian berbalik melihat pada Elang. "Kaku dan Kiara memang memiliki masa lalu yang indah, tapi aku dan Kiara memiliki masa depan yang indah."
Arthur berjalan menuju ke arah kamar mandi yang memang ada di dekat taman di rumah utama keluarga Lukas.
"Mas, kamu ada apa ke sini?"
"Sayang, aku mencarimu."
"Aku tadi kebelet, makannya langsung ke kamar mandi tidak menunggu kamu dulu."
"Ini minumnya." Arthur memberikan segelas air mineral pada Kiara, dan Kiara dengan cepat menghabiskannya lalu mereka kembali ke tempat di mana keluarga Arthur berkumpul.
"Kiara, aku tadi mencarimu. Oh ya apa kamu mau ikut aku sebentar ke kamarku karena ada yang mau aku tunjukkan sama kamu."
"Tunjukkan apa, Mega?"
"Nanti saja di sana karena ini rahasia dan aku hanya mau kamu yang mengetahui hal ini."
Kiara melihat ke arah Arthur, dia seolah meminta izin pada suaminya itu.
"Terima kasih, Kak!" seru Mega tampak senang memeluk Kiara. Mega segera menggandeng tangan Kiara dengan gerakan yang sedikit membuat Kiara kaget.
"Mega hati-hati! Kiara sedang hamil," ujar Arthur cepat.
"Oh maaf, Kak! Aku terbawa suasana senang dan lagian aku sudah biasa dulu dengan Kiara saat di sekolah, soalnya Kiara ini dulu sangat lambat, jadi aku sering yang bertingkah cepat. Ponakan aunty Mega, aunty Mega minta maaf, ya." Tangan Mega mengusap lembut perut Kiara.
Kiara tampak tersenyum melihat sikap Mega. "Mega, tolong jaga istriku. Kiara, kamu harus hati-hati kalau berjalan. Ingat! Jangan berlarian!"
"Iya, Mas."
"Siap, Kak!"
Mega mengandeng tangan Kiara dan mereka berjalan menuju ke dalam rumah.
Kiara diajak naik ke lantai kamar Mega dan saat masuk ke dalam kamar Mega, Kiara di suruh duduk di atas ranjang Mega agar lebih nyaman.
"Kiara, aku mau tunjukkan sesuatu sama kamu, tapi kamu jangan kaget melihat apa yang aku tunjukkan."
"Sepertinya ini hal yang mengejutkan, ya?"
"Kamu tunggu di sini dan aku akan mengambilnya."
Mega mengambil sesuatu dari dalam lacinya, dan dia membawa sebuah kotak berukuran sedang ke arah Kiara. "Ini apa?" tanya Kiara heran.
"Buka saja, aku ingin kamu orang pertama yang aku perlihatkan ini."
Kiara melihat heran pada Mega, kemudian tangannya perlahan membuka kotak itu. "Argh!" Kiara berteriak karena kaget.
Sebuah kepala boneka dengan per yang menyundul keluar membuat Kiara berteriak dengan keras. Mega yang melihat wajah Kiara yang kaget seperti itu malah tertawa dengan senangnya. "Mega." Kiara tampak memegangi dadanya, napasnya pun terlihat naik turun.
"Kamu lucu sekali kalau begitu." Mega masih tertawa dengan senangnya.
Kiara tau jika ini hanya bercandaan Mega, dia ingin tertawa, tapi karena saking takutnya dia tidak bisa tertawa. Kiara pun sampai memegangi perutnya, dia ingat jika orang hamil tidak boleh kaget berlebihan.
"Mega, aku mau mengambil air minum."
"Kamu benar-benar lucu sekali wajahnya. Kamu kira tadi apa? Itu lucu sekali, kan?" Mega perlahan menghentikan ketawanya dan dia sebenarnya sadar jika Kiara tidak baik dengan kejutan yang dibuatnya, tapi dia pura-pura tidak tau.
"Mega, aku mau turun dulu untuk mengambil air minum." Kiara beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu kenapa, Kiara? Apa kamu baik-baik saja? Aku tadi hanya bercanda."
"Iya, aku tau kalau kamu bercanda, tapi aku memang ingin mengambil air minum."
"Aku akan ambilkan air minumnya. Kamu duduk saja di sini, tunggu di sini." Mega berjalan keluar dari kamarnya dan dia berjalan menuju dapur. Mega mengambil segelas air minum dan dia kembali menaiki anak tangga.
Tepat di tengah-tengah anak tangga, Mega menuangkan sedikit air di sana. Terlihat senyum iblis dari tepi bibir Mega. "Kalau seperti ini pasti tidak akan ada yang curiga jika Kiara sampai jatuh dari anak tangga. Andai bisa aku beri obat pada minuman ini, pasti aku akan beri obat dan dengan cepat aku kirim ibu dan anak yang bermimpi hidup bahagia itu pergi, tapi pasti aku akan mendapat masalah."