Be Mine

Be Mine
Tiket Hadiah



Kiara masih menunggu di bawah anak tangga. Dia tampak bingung juga sekarang karena Arthur yang tidak turun dari kamarnya dari tadi, hal itu semakin membuat Kiara tampak tambah cemas.


"Dia sedang melakukan apa di kamar? Kenapa dia lama sekali?" Kiara berjalan mondar mandir sendiri.


Tidak lama pria yang dia tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Arthur tampak lebih segar dengan kemeja berwarna putih tanpa mengaitkan dua kancing di atasnya, dan dia memadukan dengan celana katun selutut berwarna senada.


"Maaf, kalau kamu menunggu lama. Aku tadi sedang mandi agar pikiranku lebih baik lagi." Kiara tampak melongo bingung dengan perkataan suaminya.


Arthur pun mendaratkan dengan cepat ciumannya. "Kita pergi sekarang saja. Ayo!" Arthur menarik dengan cepat tangan Kiara dan mengajaknya berjalan menuju lift.


Kedua mata Kiara tampak melirik pada pria di sampingnya yang tampak menunggu pintu lift terbuka. "Mas Arthur, kamu tidak apa-apa?" Pertanyaan itu dari tadi ingin Kiara tanyakan.


"Menurutmu?"


Pintu lift terbuka dan Arthur menarik gandengan tangannya masuk ke dalam lift. Kiara tau jika keadaan suaminya tidak sebaik yang Arthur perlihatkan.


"Mas, aku minta maaf," ucapnya lirih.


"Kamu tidak perlu mengucapkan maaf padaku karena kamu tidak bersalah apapun padaku. Sekarang, kita akan menikmati saat kebersamaan kita. Itu saja dulu." Sekali lagi Arthur mengecup Kiara lembut, tapi ini tepat pada pipi Kiara yang akhirnya membuat gadis itu tersipu malu.


Mereka menuju tempat di mana akan menghabiskan malam ini dengan jalan-jalan berdua. Sesampai di tempat tujuan mereka. Kiara tampak mendelik melihat tempat yang baginya sungguh menakjubkan karena memiliki lampion besar dengan bentuk yang sungguh indah.


"Ini tempat dari hadiah yang kita menangkan itu?"


"Iya, Ara. Bagaimana, apa kamu menyukainya?"


"Sangat senang sekali, Mas. Tempat ini sungguh indah dan bagus sekali, pantas kalau tiketnya sangat mahal."


"Aku juga baru saja ke sini karena bagiku tempat ini tidak cocok jika aku ke sini. Di sini lebih banyak anak muda seumuranmu yang datang atau kalau tidak orang tua yang mengajak anaknya bermain dan berjalan-jalan."


"Lalu, kenapa tadi setuju saja aku ajak ke sini?"


"Karena cinta." Arthur berjalan sekali lagi di depan Kiara, tapi masih dengan menggandeng tangan Kiara. Kiara yang di belakang Arthur tampak tersenyum sendirian.


Kiara ternyata mengajak Arthur pergi ke tempat di mana dia memenangkan tiket waktu acara ulang tahun Mega karena sayang juga jika tidak digunakan, padahal Arthur rencana mengajaknya makan dan nonton bioskop, tapi Kiara malah memilih tempat yang seperti pasar malam terbesar dan termegah, dan di sini juga ada pertunjukan sirkusnya saat Kiara dan Arthur datang.


"Tempatnya benar-benar indah!" seru Kiara kegirangan. Dia bahkan terlihat berlarian melihat sekitar tempat itu. Wajah Kiara tampak sangat bahagia. Walaupun bagi Arthur, istrinya itu masih saja memiliki sifat kekanakan, tapi dia benar-benar dibuat jatuh cinta dengan gadis yang tidak ada sama sekali kriteria wanita pilihannya, tapi bisa membuatnya sangat menyukainya.


Arthur hanya berdiri memperhatikan tingkah pola istrinya yang tampak polos karena memang baru pertama kali datang ke tempat ini.


"Mas, aku mau naik kereta yang ada di atas itu karena aku mau melihat suasana di sini dari atas."


"Iya, akan aku temani kamu naik ke sana."


Kiara sekali lagi menunjukkan senyumannya dan dia sekarang yang menggandeng tangan Arthur, Kiara mengajak Arthur naik ke lantai atas agar bisa naik kereta listrik yang berjalan di atas.


Di sana tidak terlalu banyak orang. Jadi, Kiara dan Arthur bisa langsung naik. Kiara sekali lagi memperlihatkan wajah takjubnya saat melihat suasana dari atas kereta listrik


"Di sini terlihat sangat indah, dari pada tadi kita berada di bawah. Bagus 'kan, Arthur?"


"Iya sangat bagus, tapi kalau kamu menyukai tempat yang seperti ini kita bisa pergi kell luar negeri, Kiara."


"Kita sekalian bulan madu nanti saat ke sana."


Kiara yang hendak bicara, sekali lagi terhenti karena mendengar tentang bulan madu yang Arthur Inginkan.


"Bulan madu?" tanya Kiara guna memastikan.


"Iya, bukannya setiap pasangan pengantin baru pasti akan merencanakan bulan madu. Aku juga ingin mengajak kamu berbulan madu ke tempat yang sangat indah."


Kiara terlihat bingung menanggapi ucapan Arthur karena bulan madu itu bukannya kedua pasangan pengantin melakukan hal yang sampai saat ini membuat Kiara merasa bersalah karena belum dia laksanakan tugasnya sebagai istri.


"Aku juga mau pergi berbulan madu, tapi tidak sekarang, Mas."


"Iya, kita akan pergi saat kamu sudah benar-benar siap."


Lagi-lagi Arthur membuat hati Kiara meleleh dengan sikap baik dan pengertiannya.


Mereka di sana benar-benar menikmati tiket hadiahnya dan Arthur berusaha menuruti apa yang istrinya Inginkan. Sekarang mereka berdua berada di dalam tenda besar untuk menyaksikan pertunjukan sirkus.


"Panda itu lucu sekali ya, Mas? Dia juga sangat pandai." Kiara menunjukan wajah senangnya.


"Iya, dia seperti kamu, sangat mengemaskan."


Kedua alis Kiara seketika mengkerut. "Apa mukaku seperti panda?"


Arthur malah terkekeh dengan senangnya melihat wajah Kiara. "Wajah kamu bukan seperti panda, yang aku maksud tingkah lucu dan menggemaskan serta pintarnya itu."


"Tadi tidak begitu ucapannya." Kiara masih saja mengerutkan wajahnya.


"Kalau cantikan, kamu yang lebih cantik, Ara." Goda Arthur.


"Menyebalkan!" Kiara menggeser tempat dia duduk, tapi tangan Arthur dengan cepat menarik pinggang Kiara dan menariknya mendekat ke arahnya. "Lepaskan!" Kiara mendelik pada suaminya, tapi hal tidak terduga dilakukan oleh suaminya, dia malah mengecup bibir Kiara dengan cepat membuat Kiara kaget sampai mendelik karena dia malu jika sampai dilihat oleh orang di sana.


"Jangan marah lagi."


"Arthur!" serunya pelan, tapi menekankan. Kiara langsung celingukan melihat sekitarnya.


Ada seorang ibu-ibu melihat hal itu dan dia tepat berada di belakang Kiara. Kiara pun saat matanya tertuju pada wajah ibu itu, Kiara tau jika ibu itu tidak menyukai perbuatan Arthur barusan.


"Kalau mau pacaran, jangan di sini karena di sini banyak anak kecil. Lagi pula kamu masih sangat muda jika melakukan hal itu," protesnya.


"Maaf, tapi dia suamiku, Bu."


"Apa? Suami?" Wajah wanita itu tampak tidak percaya.


Kiara mengangguk. "Dia bukan selingkuhku, Bu. Kita benaran menikah dan tanpa menyakiti siapapun," jelas Kiara duluan karena dia melihat ibu itu pasti mengira Kiara jalan dengan suami orang.


Kiara merangkulkan tangannya pada lengan tangan Arthur. Dia juga merapatkan tubuhnya dengan suaminya yang sebenarnya mendengar perdebatan istrinya dengan salah satu pengunjung di sana, dan Arthur sangat bangga saat Kiara mengatakan mereka sudah menikah serta bukan pasangan selingkuhan.


"Aku mencintaimu, Ara," ucap Arthur sembari menyematkan kecupan kecil pada kepala Kiara.