
Kiara yang duduk di dalam bus tanpa meneteskan air mata dia melihat kepala luar jendela saat bus melintas dia melihat ada mobil suaminya di sana. Entah kenapa perasaan Kiara semakin tidak karuan saja padahal dia hanya pergi tiga hari untuk rekreasi, tapi rasanya sebagian dari dirinya menghilang entah ke mana.
"Kiara, kamu kenapa? Kamu menangis ya?" tanya Mega
Kiara dengan cepat menghapus air matanya. "Tidak, tadi aku kelilipan kok! Untuk apa juga aku menangis?"
"Sini, mau aku bantu menghilangkan sesuatu yang masuk di mata kamu biar tidak sakit?" tanya Mega sekali lagi.
"Sudah tidak ada, Mega, sudah hilang."
"Kiara, kamu kenapa terlihat tidak senang begitu? Kita pergi berkreasi bukannya kamu yanv dari awal ingin sekali petgi berekreasi ini? Sampai waktu kita masih sekolah itu kamu bela-belain menyisihkan uang jajan kamu untuk ditabung agar bisa dibuat uang saku saat kita berkreasi hari ini."
" Memangnya aku terlihat sedih, ya? Aku bahagia kok, aku senang sekali bisa pergi dengan kamu dan yang lainnya, bukannya kita sudah memiliki rencana naik ke atas bukit, nanti pasti pemandangannya sangat indah di sana."
"Tapiaku melihat wajah kamu terlihat sedih loh, kamu sedang ada masalah ya?"
"Aku tidak apa-apa, Mega, kamu tenang saja." Kiara mencoba tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada pundak Mega.
Kiara ingin sekali menghubungi suaminya, tetapi tidak mungkin karena di sebelahnya ada Mega. Jadi, dia ingin segera cepat sampai ke hotel di mana dia menginap agar dia bisa menghubungi suaminya itu, padahal baru saja mereka berpisah, tapi entah kenapa dia rasanya seperti ketakutan sendiri jauh dari Arthur?
"Kiara, kamu tahu tidak kalau kakakku Arthur akan dijodohkan dengan seorang gadis bernama Belinda? Aku akui dia sangat cantik, bodinya juga sempurna, apa lagi dia juga seorang gadis yang mapan."
"Lalu, bagaimana tanggapan kakak kamu? Apa dia mau menerima wanita yang dijodohkan dengannya?" Kiara pura-pura tidak tahu hal itu.
"Tadi pagi aku mendengar mamaku bicara dengan mamanya Belinda, mamaku minta maaf karena sepertinya Kakakku Arthur menolak perjodohan itu, aku sudah yakin kalau kakakku tidak akan mau dijodohkan karena dia tidak mau hidupnya diatur, apa lagi soal pernikahan. "
"Kakak kamu menolak? Mama kamu pasti marah sekali sama kakak kamu, Mega?"
"Tentu saja mamaku marah, apa lagi gadis yang dijodohkan itu adalah anak dari sahabat mamaku."
"Mama kamu pasti tidak mau bicara dengan kakak kamu itu. Kasihan kakak kamu."
"Mamaku marah sekali dengan Kak Arthur, apa lagi Kak Arthur mengatakan jika dia menolak karena dia mencintai wanita lain, dan bahkan akan menikahinya. Kalau kekasih kakakku itu setara dengan Kak Selena atau Belinda itu, pasti mamaku tidak akan melarang, tapi mamaku takut jika gadis yang dicintai kakak aku itu kamu, Kiara." Mega melihat pada Kiara yang kedua matanya langsung mendelik.
"Apa? Aku?"
Mega mengangguk perlahan. "Mamaku takut saat kakakku memberi kamu bunga di acara pesta kelulusan sekolah waktu itu, apa lagi tante Kella mengatakan kalau mama aku harus menjaga kak Arthur dari kamu agar tidak seperti Elang yang menyukai kamu, tapi kamu hanya mengambil uangnya Elang saja."
Kiara tampak sedih mendengar apa yang Mega baru saja katakan, ternyata pemikiran mamanya Elang dan juga mamanya Mega sangat buruk tentang dirinya.
"Aku dari dulu tidak pernah menginginkan uang dari Erlang, Mega, dan kamu tahu sendiri aku benar-benar tulus dulu mencintai Elang."
"Aku tahu, Kiara, tapi sayangnya pemikiran mamanya Elang dan juga mamaku berbeda. Oh ya, Kiara, apa jangan-jangan gadis yang dicintai Kak Arthur dan yang dimaksud kekasihnya itu adalah benar kamu? Apa kamu dan kakakku memiliki hubungan?"
"Aku dan kakak kamu, kami--."
"Kalau aku pikir bisa saja Kak Arthur jatuh cinta dengan kamu, tapi kalau dipikir lagi itu juga tidak mungkin, Kiara, aku tahu kakakku dan tipe wanita yang disukai oleh kakakku. Jadi, tidak mungkin Kakak aku akan menyukai kamu, bahkan sampai menikahimu yang ada mungkin kakakku mendekati kamu hanya ingin bersenang-senang saja atau ingin menambah teman saja karena setahu aku, kakakku itu sangat salut dengan kamu, Kiara."
Kiara tidak jadi meneruskan apa yang ingin dia sampaikan pada Mega. Ya, mungkin lebih baik mereka berpikiran seperti itu saja."
Beberapa jam kemudian, bus yang membawa mereka akhirnya sampai di hotel di mana mereka akan menginap dalam beberapa hari.
Hotel di sana tidak terlalu besar, tapi cukup memiliki pemandangan alam yang sangat indah, semua anak-anak turun dan guru mereka sudah memberi kunci kamar hotel mereka masing-masing.
"Hai, Kiara apa kabar?" suara Elang tiba-tiba menyapa Kiara dari belakang. Kiara dan Mega menoleh, Kiara pun melihat ke arah Mega yang wajahnya sudah mulai tidak seperti tadi.
"Aku baik, Lang, aku mau ke kamarku dulu.Mega, kalau kamu masih ingin bicara dengan Elanhg silakan karema aku akan ke kamarku dulu." Kiara mengambil kunci dari tangan Mega dan berjalan masuk ke dalam hotel.
"Kiara,aku ingin bicara denganmu!" teriak Elang, tapi sama sekali tidak diperdulikan oleh Kiara.
"Sudahlah! Kiara itu sudah benar-benar melupakan kamu, dia sudah punya kekasih dan Kiara sangat mencintai kekasihnya itu."
"Arthur maksud kamu kekasihnya Kiara? Ayolah, Mega! Kakak kamu itu pria dewasa dan Kiara itu hanya dijadikan mainan oleh kakak kamu, aku melihat Kakak kamu bersama wanita yang sangat cantik dan aku yakin itu adalah kasih kakakm. Mereka berpelukan mesra, bahkan baru saja makan bersama di sebuah restoran."
"Srkali lagi aku ingatkan sama kamu, Lang, kita akan segera bertunangan, aku tidak masalah jika kamu tidak mau bertunangan denganku karena akibatnya kamu yang menanggungnya sendiri dan aku harap kamu jangan mengganggu Kiara lagi dengan kekasihnya karena Kiiara sudah bahagia dengan kekasihnya itu yang aku sendiri tidak tahu dengan kakakku atau bukan, tapi yang jelas dia sangat mencintai kekasihnya dan aku kasihan melihatmu juga terus berharap pada Kiara."
"Kita akan tetap bertunangan, Mega, itu karena aku tidak bisa melawan kedua orang tuaku, tapi untuk melupakan Kiara aku juga tidak mungkin bisa." Elang berlari dari sana masuk ke dalam hotel.
"Apa suatu saat nanti Elang akan bisa jatuh cinta denganku dan melupakan Kiara?" Mega berjalan dengan malas masuk ke dalam hotel.
Di dalam kamar Kiara meletakkan tasnya dan segera memeriksa situasi. Saat di rasa aman, Kiara segera menghubungi suaminya.
"Halo, Mas."
"Kiara, kamu sudah sampai?"
"Iya, Mas, aku sudah sampai di hotel di mana aku dan teman-temanku akan menginap beberapa hari. Di sini pemandangannya sangat indah, pasti sangat romantis jika kamu di sini."
"Aku merindukan kamu, Kiara. Padahal baru beberapa jam, tapi entah kenapa rasanya aku berpisah lama darimu."
"Aku sebenarnya juga merasakan hal yang sama, Mas. Awalnya aku rasa baik-baik saja, tapi saat berjalan menuju Bus dan melihat kamu di dalam mobil, entah kenapa rasanya sebagian dari diriku ada yang menghilang."
"Sudah aku bilang kamu seharusnya tidak perlu ikut, Sayang."
"Tidak bisa, Mas. Aku kalau tidak ikut nanti janjiku dengan teman-teman tidak aku penuhi, dan lagi pasti Mega akan bertanya-tanya terus kenapa aku tidak ikut?"