
Siang itu, Kiara sedang berada di dapur bersama dengan Bibi Yaya. Dia ingin belajar membuat sup yang biasa bi Yaya buatkan untuknya.
"Jadi, hanya itu resepnya, Bi? Mudah sekali. Aku kapan-kapan mau mencoba membuatnya sendiri."
"Jangan membuat diri kamu lelah, nanti Arthur bisa-bisa marah sama kamu."
"Tidak akan lelah, Bi."
"Pokoknya kamu jangan membuat diri kamu capek, Kiara. Bibi tidak mau bertanggung jawab kalau suami kamu sampai marah. Arthur itu kalau marah menyeramkan."
"Dia memang menyeramkan kalau sedang marah, tapi aku ingin membuatnya marah, soalnya dia menggemaskan, Bi." Kiara malah terkekeh.
Muka bibi Yaya langsung tampak kaget. Bibi Yaya saja kalau bisa jangan membuat Arthur marah, tapi ini malah ingin melihat Arthur marah.
Terdengar suara bel pintu berbunyi. Bibi Yaya meletakkan centong sayurnya dan berjalan untuk membuka pintu.
Ada penjaga di apartemen itu memberikan paket pada bibi Yaya dan paket itu ditujukan untuk Kiara.
"Siapa yang mengirim? Kata Artur, tidak ada yang mengetahui apartemennya kecuali jika orang itu mencari tau."
Bibi Yaya penasaran dan membuka paket yang dibungkus oleh amplop coklat besar. Dia sesekali melirik ke arah dapur karena tidak mau Kiara mengetahui apa yang sedang dia lakukan.
Kedua mata bibi Yaya tampak mendelik melihat apa yang ada di dalam amplop coklat itu. "Ya Tuhan! Mereka benar-benar tidak ingin melihat Kiara dan Arthur hidup bahagia. Keterlaluan!" Bibi Yaya segera menyembunyikannya di dalam bajunya.
Dia kemudian berjalan kembali ke dapur. "Bi, siapa yang menekan bel?"
"Tadi petugas yang menjaga apartemen hanya memastikan keadaan di sini saja, mungkin Arthur sudah memerintahkan dia. Suami kamu sejak mamanya mengusirmu dari sini, dia sangat protektif." Bibi Yaya tersenyum kecil. Bibi Yaya terpaksa harus berbohong karena tidak mau Kiara melihat hal yang seharusnya tidak dia ketahui.
"Iya, dia takut jika aku pergi lagi dari sini."
"Dia sangat mencintaimu."
"Bi, apa Bibi kenal dengan wanita bernama Selena? Dia mantan kekasihnya Mas Arthur."
"Selena aku mengenalnya. Dia sudah mengkhianati Arthur dengan berselingkuh, bahkan sampai menikah dengan mantan pacarnya. Memangnya kenapa kamu tanyakan hal itu?"
"Dia kapan hari ke sini dan merayu Arthur, Bi. Padahal dia sudah menikah, tapi kenapa dia merayu suamiku dengan tidak punya rasa sungkan dan malu padaku?"
Bibi Yaya sebenarnya sudah tau karena Arthur juga sudah bercerita dengannya, dan bibi Yaya tau maksud kedatangan Selena kembali di kehidupan Arthur, itu karena Selena ingin bisa dekat lagi dengan Arthur setelah pernikahannya gagal, dan foto yang baru dikirim tadi pasti dari Selena yang ingin membuat Kiara marah.
"Kamu tidak perlu khawatir pada suamimu karena suami kamu itu tipe pria setia, walaupun mantan kekasihnya yang datang, Arthur hanya menginginkan kamu saja Kiara."
Kiara terdiam sejenak. "Aku percaya dengan Mas Arthur, tapi juga tetap saja kadang-kadang rasa takut kalau mas Arthur akan selingkuh karena mantannya lebih cantik, bahkan lebih segalanya itu, melintas dipikiranku."
"Kamu harus menghilangkannya karena hal itu bisa merugikan dirimu sendiri. Kamu tidak mau, kan kalau kesehatan kamu dan bayimu terganggu karena memikirkan hal yang tidak penting?"
"Tidak mau, Bi," jawab Kiara lirih.
"Kalau begitu, mulai sekarang jika ada yang berhubungan dengan Selena, hal itu hanya kerikil kecil yang ingin memisahkan kamu dan suamimu. Kamu harus kuat agar tidak terkena rencana mereka."
"Iya, Bi. Bibi kenapa bicaranya seolah aku sedang akan menghadapi peperangan dengan pelakor saja?" Kiara terkekeh.
Kiara tampak terdiam. "Dan sekarang karena aku hubungan mereka tidak baik." Wajah Kiara tampak sedih.
Bibi Yaya seketika memeluk Kiara. "Tidak seperti itu. Bukan kamu yang membuat hubungan mereka tidak baik, tapi karena sikap Alexa yang tidak mau menerima jika kebahagiaan Arthur ada sama kamu. Jangan memikirkannya."
Kiara yang memeluk Bibi Yaya tangannya merasakan sesuatu pada pinggang Bibi Yaya. "Bi, ini apa di pinggang Bibi?"
Bibi Yaya tampak kaget, tapi dia bisa mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya. "Oh, ini tadi sebelum ke sini, bibi mengambil foto anak bibi yang sudah dicetak dan lupa menaruh di tas karena terburu-buru, jadi karena takut hilang atau lupa karena bibi pelupa, makannya aku taruh sini saja."
"Sebaiknya Bibi simpan saja, takutnya nanti hilang. Eh, tapi aku ingin melihat foto anak Bibi. Bolehkan?"
"Maaf Kiara, bukannya bibi tidak mau menunjukan fotonya, tapi anakku itu tidak suka jika foto masa kecilnya, apa lagi saat dia tidak memakai baju ditunjukkan pada orang lain, walaupun dia pasti tidak tau, tapi seorang ibu harus menjaga pesan yang diberikan anaknya."
"Oh iya, aku bisa memahaminya, Bi."
"Terima kasih, Sayang, kalau begitu bibi simpan dulu di tas karena takutnya nanti hilang."
Kiara mengangguk dan Bi Yaya segera menuju tasnya dan memasukkan foto itu. Dia nanti akan menunjukan pada Arthur dan menyuruh Arthur untuk membakarnya saja agar tidak menjadi masalah.
Setelah selesai bibi Yaya kembali menemui Kiara. Kiara terlihat melihat ke arah jam dinding. "Bi, Arthur kenapa belum menghubungiku? Dia jadi pulang cepat atau tidak sih?" Kiara tampak gelisah.
"Mungkin dia masih ada pekerjaan, sebaiknya kamu tunggu saja."
"Kalau aku menghubunginya apa tidak masalah ya, Bi?"
"Kamu hubungi saja supaya kamu merasa lega."
Kiara mengambil ponselnya dan dia mencoba menghubungi suaminya. Pada panggilan ke ketiga baru dijawab oleh Arthur.
"Mas, kamu di mana? Apa kamu jadi pulang lebih awal?"
"Aku akan pulang lebih cepat, tapi ini aku masih menunggu Gio karena aku mau mengajaknya mencari buah durian yang kamu mau."
Wajah Kiara tampak sangat senang. "Mas, aku akan menunggu kamu, hati-hati di jalan."
"Iya, Sayang."
Setelah mematikan panggilannya, tak lama Gio datang dengan memakai mobilnya.
"Arthur, ada apa menyuruhku ke sini? Apa ada masalah di kantor kamu?"
"Kamu tinggal saja mobilmu di sini dan ikut denganku."
"Ikut kamu? Memangnya ada apa? Apa kamu mau menghajar seseorang mengajakku?" Gio terkekeh.
"Ini lebih penting dari pada menghajar seseorang dan aku sangat membutuhkan bantuan kamu dalam hal ini "
Gio menjadi penasaran, sebenarnya ada apa dengan temannya ini sampai mengatakan jika Gio harus segera datang ke perusahaanya dan ditunggu oleh Arthur di parkiran.
Gio akhirnya naik mobil Arthur dan mereka berdua pergi ke suatu tempat.