Be Mine

Be Mine
Sindiran Mama Mertua



Kata-kata Morgan ini malah membuat Elang semakin emosi saja. Bisa-bisanya dia malah memuji Arthur yang bagi Elang adalah saingannya. Elang tidak peduli dengan penjelasan Mega tentang hubungan Arthur dengan Kiara karena yang dilihat Elang jika Arthur itu mencoba mendekati Kiara.


Elang yang darahnya sudah mendidih seketika menghampiri Kiara dan juga Arthur, dia tiba-tiba menangkis tangan Arthur yang memegang dahi Kiara.


Mega tampak terkejut. Begitupun dengan Kiara. "Elang, apa yang kamu lakukan?" tanya Mega marah.


"Siapa kamu berani menyentuh dahi Kiara? Kamu itu bukan kekasih Kiara," sungutnya marah.


"Memangnya apa masalahmu jika aku menyentuh darhi Kiara? Kamu juga bukan kekasih Kiara."


"Aku kekasih Kiara, hubunganku dan Kiara belum putus. Kiara apa mau aku antar pulang?" Elang dengan tanpa permisi sekali lagi memegang tangan Kiara.


Kiara dengan cepat melepaskan tangan Elang. "Aku pulang dengan Mega dan kakaknya saja. Terima kasih sudah menawariku, Lang." Kiara mencoba bersikap baik saja.


"Jaga sikap kamu! Jangan sampai aku lupa kalau kamu adalah anak dari sahabat mamaku." Arthur benar-benar tidak suka melihat sikap Elang yang memegang tangan Kiara.


"Kamu yang harusnya jaga sikap! Kiara itu masih kekasihku aku hanya putus di depan mamaku, tapi aku masih menganggap Kiara adalah kekasih. Jadi, kamu yang harus jaga sikapmu karena kamu bukan siapa-siapanya Kiara."


"Oh ya? Bagaimana jika aku katakan kalau sekarang Kiara dan aku ada hubungan. Kamu mau apa?" Telunjuk Arthur dengan kasarnya mendorong tubuh Ellang. Mega yang melihat hal itu benar-benar terkejut dan Kiara, dia langsung menarik tangan Arthur agar mereka tidak lagi terlibat dalam perkelahian.


"Arthur, sudah jangan mencari masalah lagi aku tidak mau disalahkan oleh kedua Mama kalian nantinya."


"Ara, apa benar kamu menyukai kakaknya Mega?"


Kiara tampak bingung dengan pertanyaan Elang.Kenapa Elang malah bertanya seperti itu?


"Elang, apa kamu lupa dengan apa yang sudah aku katakan padamu? Jangan membuat kita dalam masalah lagi. Kasihan Ara." Mega benar-benar marah dengan sikap Elang.


"Aku tidak peduli! Kiara tidak akan mendapat masalah dengan mamaku, aku akan bicara dengan mamaku. Kiara, katakan apa kamu suka pada kakaknya Mega?" Keadaan Kiara benar-benar terdesak saat ini, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang?


"Kiara, sebaiknya kita pulang saja, tidak perlu mendengarkan orang ini."


"Kenapa harus pergi? Apa kamu takut kalau Ara mengatakan dia sama sekali tidak menyukaimu karena dia masih sangat mencintaiku? Cintamu bertepuk sebelah tangan, Arthur. Kasihan sekali kamu."


"Lang, aku dan Arthur memiliki hubungan


baik karena dia orang yang sangat baik dan hanya ingin menolongku. Namun, kalau suatu hari aku suka dan jatuh cinta padanya, apa aku salah? Siapa wanita yang tidak menyukai sosok Arthur. Dia tampan, kaya raya dan yang pasti dia memiliki hati yang baik dan tulus." Kiara melihat pada sosok pria yang sedang dia puji.


Pun Arthur seketika melihat pada Kiara, dia tidak menyangka jika kiara akan mengatakan hal baik tentangnya.


"Jangan mengatakan cinta Arthur bertepuk sebelah tangan karena bukan seperti itu hubunganku dengannya, tapi jika dia mencintqiku, aku yakin dia akan melakukannya dengan tulus."


"Kiara, aku yakin jika kamu tidak akan bisa mencintai seseorang selain aku karena aku tahu kamu masih sangat mencintaiku."


"Aku sudah melupakan kamu, Elang, meskipun itu sangat sulit, tapi akhirnya aku bisa melupakan kamu karena mungkin hal ini akan lebih baik untuk kamu dan juga aku. Sekarang aku tidak mau memikirkan tentang suatu perasaan atau hubungan apapun, aku hanya ingin fokus pada kehidupanku. Jadi, jangan menyalahkan Arthur atau membahas masalah ini lagi.Aku ingin hidup tenang, Lang."


Tiara berjalan masuk ke dalam mobil. Mega menatap Elang dengan tajam, dia benar-benar marah pada Elang. "Kak, ayo kita masuk, aku mau pulang saja."


Arthur membawa mobilnya menuju ke rumah utama milik keluarganya, dia lebih dulu mengantar Mega pulang, kemudian dia masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil barang yang tertinggal Kiara yang berada di ruang tamu sedang duduk bersama dengan Mega.


"Iya, aku baik-baik saja, aku tidak mau memikirkan masalah dengan Elang tadi."


Keadaan Kiara ini sebenarnya masih belum baik, tapi dia mencoba terlihat baik-baik saja agar tidak merepotkan orang lain, terutama Arthur di mana dia tinggal sekarang di rumahnya.


"Mega kamu sudah pulang, Sayang? Mama baru saja menerima paket dari Paris. Mama membelikan kamu sebuah gaun yang sangat cantik yang nanti bisa kamu kenakan di hari ulang tahunmu."


"Selamat siang, Tante," sapa Kiara dengan sopan.


"Siang, Kiara, kamu di sini apa Mega mengajak kamu menginap lagi?"


"Tidak, Ma. Kiara tadi pulang sekolah bersamaku dan nanti dia akan diantar oleh Arthur pulang ke rumahnya, tapi Kak Arthur masih mau mengambil barang miliknya yang ada di kamar."


"Oh ... begitu. Oh ya! Mega, nanti kamu coba gaunnya. Mama sudah siapkan di dalam kamarmu."


"Aku coba sekarang saja, Ma! Kebetulan ada Kiara. Jadi, dia bisa menilai apa aku cocok memakai gaun itu di pesta ulang tahunku." Wajah Mega tampak berseri senang.


"Mega nanti saja kamu mencobanya dan sahabat kamu tidak harus tahu baju yang akan kamu pakai nanti, agar menjadi kejutan. Baju ini sangat mahal, Sayang, mama memesannya langsung dari Paris dan dari desainer ternama di sana. Mama tidak mau kalau sampai baju kamu kenapa-napa seperti baju Mama."


Wajah Kiara langsung berubah datar mendengar apa yang mamanya Mega katakan. Ternyata mamanya Mega masih belum benar-benar menerima tentang bajunya yang pernah dilempari tanah liat oleh Kiara.


"Mama ini! Kiara tidak akan merusakkan gaunku, lagi pula Kiara ini pintar dalam memadu padankan baju dan juga aksesoris yang dipakai. I, aku bisa bertanya sama dia."


"Kalau hal itu, kamu tenang saja 'kan ada Mama. Kalau kamu belum puas nanti mama datangkan orang yang bisa menyulap kamu menjadi putri cantik di hari ulang tahunmu."


"Mega, benar apa kata Mama kamu, aku tidak terlalu pintar dalam hal itu, lagi pula aku juga mau langsung pulang kalau Arthur sudah mengambil barangnya, aku ingin istirahat di rumah. Badan aku masih tidak enak."


"Kiara, apa mau ke dokter? Biar nanti aku bilang Arthur untuk mengantar kamu ke dokter."


"Sayang, kamu jangan merepotkan kakakmu, dia itu harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya, bukankan Kiara di rumahnya bisa meminta tolong tetangganya atau kerabatnya. Kakak kamu itu pria yang sibuk."


"Saya tidak akan merepotkan kakaknya Mega, Tante, saya sudah dari dokter dan tinggal minum obat saja."


Tidak lama Arthur turun dan melihat ketigag Bu wanita itu sedang berbicara. Arthur melihat ada yang aneh dari wajah Kiara dan dia sudah bisa menebak pasti ini karena ada mamanya di sana.


"Kiara, ayo kita pulang sekarang. Aku akan mengantarkan kamu pulang kemudian kembali ke kantor."


"Iya, kita pulang sekarang saja. Tante, Mega, saya permisi dulu "


"Arthur, setelah mengantar Kiara kamu langsung kembali ke kantor, kan?"


"Iya, Ma, aku langsung ke kantor. Memangnya ada apa? Apa Mama membutuhkan sesuatu?"


"Tidak ada, Sayang. Ya sudah! Kamu antarkan Kiara pulang dan langsung kembali ke kantor. Oh ya! Apa nanti malam kamu mau makan malam di sini?"


Arthur melihat sekilas pada istrinya yang berdiri tepat di samping mamanya.


"Aku mungkin akan lembur di kantor, Ma. Jadi, aku tidak bisa makan malam di sini. Lain kali saja aku akan makan malam dengan kalian."