
Stevi tampak bingung melihat ke arah Arthur. Arthur tau jika temannya ini pasti bingung dengan sikapnya.
"Stevi, aku minta maaf."
"Mas, kenapa kamu harus minta maaf?"
"Sayang, biar aku jelaskan dulu." Arthur jadi bingung melihat sikap istrinya yang sudah ingin meledak saja.
"Arthur, who is this?"
"Stevi, introduce this is my wife that I was telling you about."
"Oh ... dia istrimu? Cantik sekali. Halo, aku Stevi temannya Arthur." Wanita itu dengan wajah bahagia mengulurkan tangannya pada Kiara.
Kiara yang melihat hal itu pun menerima jabatan tangan Stevi.
Arthur akhirnya menjelaskan semuanya dan mengatakan jika istrinya sempat cemburu dan marah saat mereka berdua berpelukan dan mencium pipi.
Stevi pun meminta maaf pada Kiara dan jika hal itu membuat Kiara tidak nyaman, maka dia tidak akan melakukannya lagi.
Kiara dan Stevi pun sekarang bisa berbincang dengan hangat.
"Sayang, aku mau pergi rapat dulu dan nanti langsung keluar meeting dengan Stevi dan salah satu rekan kerjaku. Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri di sini, kan?"
"Iya, Mas, aku tidak apa-apa."
"Kiara, I am very pleased to meet you and I hope we can meet again."
"I am also very happy to see you again and I hope you have a pleasant journey ahead."
Stevi setelah urusannya di sini selesai, dia akan langsung terbang kembali ke negara asalnya karena dia sudah berjanji bertemu dengan tunangannya yang sudah pulang.
Arthur dan Stevi izin pergi ke ruang rapat. Kiara memilih duduk di sana sembari melihati semua barang-barang milik Arthur.
Kiara duduk di kursi utama suaminya, dan dia melihat ada fotonya dengan Arthur yang sedang memeluk dan hampir berciuman.
"Aku tidak pernah menyangka jika akan memiliki pria seperti mas Arthur. Aku sebenarnya tidak pantas kalau harus menjadi istrinya, dia harusnya memiliki wanita yang lebih dewasa dan matang," Kiara berdialog sendiri.
Beberapa jam berlalu, Kiara yang capek menunggu sendirian di sana akhirnya tertidur di sofa yang ada di sana.
"Pak, istri Anda ketiduran." Sekretaris Arthur yang baru masuk ke ruangan bersama dengan Arthur melihat Kiara yang tidur.
"Iya, biarkan saja. Dia mungkin bosan menunggu sendirian di sini." Arthur tersenyum manis.
"Pak, apa mau saya pesankan makanan untuk istri Anda?"
"Boleh, kamu pesankan sup jagung dan makanan lainnya yang aman untuk ibu hamil."
"Baik, Pak."
Sekretaris cantik itu keluar dari ruangan Arthur. Arthur melepas suitnya dan meletakkan di atas kursi, dia juga menggulung kedua lengan tangannya ke atas.
Arthur mendekat ke arah Kiara dan berjongkok di samping Kiara. Arthur memandangi wajah istrinya yang sedang tidur.
Cup!
Arthur mengecup lembut bibir istrinya. Dia bukannya lupa akan hukuman yang diberikan oleh Kiara, tapi dia sedang memanfaatkan kesempatan ini.
Tidak lama Kiara mengerjap dan perlahan membuka kedua matanya. Kiara tersenyum melihat wajah Arthur yang sangat dekat dengannya.
"Mas, aku ketiduran."
"Tidak apa-apa, kalau masih mengantuk kamu lanjutkan saja tidurnya."
Kiara malah bangkit dan duduk bersandar pada sofanya. Arthur pun bangkit dan duduk di sebelah istrinya.
"Apa sudah selesai rapat dan meetingnya?"
"Sudah dan Stevi menitipkan pesan buat kamu, jika dia datang lagi dengan tunangannya, dia ingin mengajak kita makan malam bersama."
"Aku mau, dan dengan senang hati."
"Mas, tadi waktu aku tidur kamu tidak menciumku, kan?"
Arthur tiba-tiba kaget mendengar pertanyaan Kiara. "Aku tidak menciummu, aku hanya memandang wajah kamu saat tidur saja. Memangnya kenapa?"
"Mungkin tadi aku bermimpi dicium sama kamu."
"Kamu mungkin merindukan ciumanku. Makanya, kalau memberi hukuman jangan yang menyiksa diri kamu sendiri."
"Aku tidak tersiksa. Tadi itu aku kira Mas menciumku saat aku tidur, apa lagi Mas juga wajahnya dekat sekali denganku."
"Aku tidak mencium kamu, mungkin kamu tadi bermimpi. Aku masih mematuhi hukuman yang kamu berikan," bohongnya Arthur.
"Sebenarnya tidak masalah sih kalau Mas menciumku karena aku ini, kan, milik Mas," ucap Kiara lirih sembari melirik pada suaminya.
"Apa?" Arthur tampak terkejut. "Jadi, boleh cium kamu? Hukumannya sudah selesai ini?" tanya Arthur bersemangat.
"Iya. Boleh."
"Tau begitu, tadi aku cium saja kamu sampai bangun, tidak perlu mencari kesempatan saat kamu tidur."
"Jadi, tadi benar Mas menciumku? Dasar! Katanya mematuhi hukuman dariku, tapi ternyata melanggar."
"Kamu dan seluruh tubuh kamu itu milikku, Kiara. Bukannya kamu yang mengatakan."
"Iya, tapi--."
Belum selesai Kiara bicara, Arthur sudah mencium bibir Kiara sampai istrinya itu lupa apa yang mau dia katakan.
"Arthur, Mama--. Oh Tuhan!"
Kiara yang sedang berciuman dengan Arthur seketika mendorong tubuh suaminya menjauh dan dia segera berdiri merapikan dirinya. Kiara terlihat benar-benar terkejut tiba-tiba Mama Mertuanya dan ada Mega juga datang ke sana.
"Ta-Tante Alexa."
Alexa dan Mega langsung menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Mama, ada apa Mama dan Mega ke sini?"
"Kamu itu sedang di kantor, Arthur, tapi kenapa malah bersikap seperti itu? Seperti bukan kamu saja."
Mega melihat Kiara dengan pandangan menghina seolah Kiara ini wanita yang tidak memiliki attitude.
"Memangnya kenapa, Ma? Aku sedang berciuman dengan istriku sendiri dan ini ruanganku."
Alexa hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sikap putranya sekarang. Arthur seolah bukan Arthur yang dia kenal dulu dan semua itu karena Kiara.
"Tetap saja kamu harus menjaga sikap kamu, apa lagi kamu atasan di sini, jangan mengikuti hal yang diajarkan oleh orang yang tidak tau caranya bersikap dengan baik. Kampungan." Alexa menatap tajam pada Kiara.
"Mama, kalau Mama datang ke sini hanya untuk menghina istriku, sebaiknya Mama kembali saja ke rumah. Kalau Mama ingin bicara denganku, nanti aku yang akan mendatangi Mama."
"Kamu benar-benar berubah, Arthur."
"Aku tidak berubah, aku masih Arthur yang dulu, tapi sekarang aku lebih bahagia karena memiliki Kiara dan calon bayi kami."
Mega memegang tangan mamanya. "Ma, sudah. Kak, aku dan Mama ke sini ingin memberitahu tentang hari pernikahanku dengan Elang secara langsung. Kakak terlalu sibuk dan tidak pernah menemui kami lagi. Aku harap Kakak bisa datang nantinya, dan ini undangannya." Mega memberikan sebuah undangan berwarna pink susu yang tampak begitu mewah.
"Selamat ya, Mega. Kamu dan Elang akhirnya akan bersama." Kiara tampak tersenyum bahagia.
"Tentu saja karena memang Elang lebih pantas untukku, dan dia sekarang sangat mencintaiku."
"Aku ikut senang mendengar hal ini."
"Kamu boleh datang waktu pernikahan adikmu karena mama tidak akan mengikutkan kamu untuk menjadi salah satu pendamping mempelai pengantin. Mama tidak mau menyusahkan kamu."
"Ide yang bagus."
Sebenarnya Alexa tidak mau mengikuti Kiara juga karena jika Arthur menjadi salah satu orang penting di acara itu, otomatis Kiara juga. Jadi, Arthur lebih baik menjadi tamu yang datang saja.