
Sesampainya di sana Arthur dan Kiara disambut hangat oleh kepala pelayan restoran miliknya.
Kepala pelayan itu menunjukkan tempat yang memang sudah Arthur siapkan. "Mas, perasaan restoran ini dekorasinya terlihat lebih indah."
"Manda yang sudah mendekorasi ulang dan ide dia membuat restoran ini seperti ini benar-benar sangat brilian. Dalam seminggu ini banyak sekali pengunjung yang datang. Mereka pun tampak senang dengan beberapa kali datang lagi ke sini."
"Mba Manda memang hebat ya."
Arthur menarik kursi agar Kiara dapat duduk dan kepala pelayan itu memberi kode pada anak buahnya untuk menyiapkan menu pembuka untuk Kiara dan Arthur.
Kedua mata Kiara mengedar melihat sekeliling tempat itu. Kiara yang memang sudah lama tidak ke sana, terlihat sangat kagum melihat restoran milik suaminya dan sahabatnya itu.
"Mas, bukannya itu mama kamu dan Mega." Pandangan Kiara menangkap orang yang dia kenal berada tidak jauh dari mejanya.
"Iya, itu Mamaku dan keluarganya Elang. Biarkan saja. Anggap saja kita tidak melihatnya."
"Jangan begitu, Mas." Kiara menggenggam tangan suaminya.
"Kamu mau apa? Mau ke sana dan menyapa mereka? Tidak perlu, Kiara! Yang ada nanti kamu hanya mendapat hinaan oleh mereka dan aku tidak akan membiarkan hal itu."
"Aku tidak peduli walaupun dihina oleh mereka. Kita ke sana dan menyapa mereka, Mas. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga kita."
Kiara beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah meja di mana Alexa dan Kella sedang tampak bercanda tawa.
"Selamat malam, Tante," sapa Kiara.
Mereka berlima yang duduk di sana seketika menjatuhkan pandangannya pada Kiara. "Kiara? Kamu ada di sini juga?" tanya Elang.
"Iya. Hai, Mega."
"Untuk apa kamu di sini? Oh ya, lupa, kamu sekarang sudah menjadi orang kaya karena menikah dengan putraku. Bisa, kamu makan makanan orang kaya?"
"Dia ingin diakui menjadi menantu keluarga Lukas, Alexa," timpal Kella dengan senyum menghina.
"Mama!" seru Elang yang tidak suka mamanya seolah menghina Kiara.
Kiara hanya terdiam. Tidak lama Arthur yang ikut menyusul istrinya memeluk pundak Kiara. "Selamat malam, Ma. Aku tidak menyangka jika kalian akan makan malam di restoran milik Kiara."
"Mas?" ucap Kiara lirih bingung melihat pada suaminya.
"Milik Kiara?" Mega tampak kaget. Pun dengan Alexa.
"Iya, restoran ini nantinya akan aku berikan pada wanita yang akan menjadi calon ibu dari bayiku. Apa lagi Kiara dulu dan mendiang ibunya juga berbisnis kuliner. Jadi, dia pantas memiliki restoran ini."
"Wow! Selamat ya, Kiara," ucap Elang dengan wajah bahagia.
Kiara hanya bisa tersenyum kecil. Dia tidak tau jika suaminya akan memberikan restoran itu untuknya.
"Sayang, kita kembali ke meja. Kamu harus makan yang banyak, supaya bayi kita tumbuh dengan sehat. Ma, dan semuanya, aku permisi dulu dan selamat menikmati. Oh ya! Billnya akan aku masukkan ke tempatku, kalian silakan memesan yang kalian sukai."
Arthur menggandeng tangan Kiara dan mengajaknya pergi dari sana.
"Kamu tidak tau jika restoran ini milik anak kamu, Alexa?"
"Aku sama sekali tidak tau, Kella. Arthur itu orang yang tidak terlalu suka terbuka tentang suatu hal. Jadi, aku kadang tidak tau apa saja yang dia lakukan. Dia menikah dengan Kiara saja aku tidak tau. Aku juga baru tau dia memiliki apartemen yang dia tinggali selama ini dengan Kiara."
"Mood makan aku jadi hilang. Sebaiknya kita pergi saja dari sini."
"Mama! Kenapa harus pergi? Makanannya belum habis, lagi pula makannya di sini enak. Suasananya juga bagus. Sudahlah, Ma! Sampai kapan kita akan membenci Kiara? Aku sudah melupakan dia dan serius ingin menikah dengan Mega, dan Tante Alexa, bagaimanapun Tante tidak suka pada Kiara. Dia adalah menantu Tante, dan dia juga akan memberi Tante seorang cucu."
"Bayi? Aku saja bahkan tidak mau bermimpi memiliki anak dari putrimu. Setelah menikah aku melakukan cara agar Mega tidak akan pernah hamil," Elang berbicara dalam hatinya.
"Elang, aku sendiri juga tidak mau mengakui Kiara sebagai kakak iparku."
"Ayolah, Mega! Kita sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Aku ingin menikah dengan kamu dan kita hidup bahagia dan tenang."
"Ya sudah, kita lanjutkan makannya saja. Tidak perlu membahas gadis itu." Mereka kembali melanjutkan makannya.
Di mejanya, Kiara bertanya pada suaminya perihal apa yang tadi Arthur katakan. Arthur pun menjelaskan jika restoran yang sebagian atas namanya akan menjadi milik Kiara. Tidak hanya itu, bahkan seluruh kekayaan yang dimiliki oleh Arthur juga akan menjadi milik Kiara dan calon bayi mereka.
"Mas tidak sayang memberikan semua itu untukku?"
"Sama sekali tidak karena kamu dan calon bayi kita lebih berharga dari apa yang aku miliki. Aku sangat mencintaimu, Kiara." Arthur menggenggam tangan Kiara erat dan tatapannya sangat lekat.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Aku ingin sekali bisa membuat kamu juga bahagia."
Kiara dan Arthur, menyantap makanan yang sudah dihidangkan, dan kebanyakan makanan di sana, adalah yang disukai Kiara. Walaupun sebenarnya tidak ada dalam menu, tapi Arthur menyuruh chef handalnya membuatkan makanan yang disukai oleh Kiara.
"Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya."
"Apa perlu aku antar?"
"Tidak perlu, Mas. Memangnya aku anak kecil!" Kiara tersenyum pada suaminya, dan dia kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Kiara berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia yang sudah selesai berjalan keluar, tapi kakinya tiba-tiba menginjak genangan air yang membuat Kiara hampir terpeleset jika tidak ada tangan yang memegangnya.
"Kamu tidak apa-apa, Kan?"
"Tidak apa-apa, terima kasih." Kiara bingung karena tadi di sana tidak ada genangan air, tapi kenapa tiba-tiba ada?
Kiara melepaskan tangan yang memegang lengannya dan saat melihat siapa yang menolongnya barusan. Kiara tampak kaget.
"Kak Kiano? Kakak ada di sini?"
"Kiara? Kamu juga di sini?"
"Iya, aku sedang makan malam dengan Mas Arthur. Kak Kiano apa ke sini dengan Momo?"
Kiano menggeleng. "Aku ke sini dengan Delia dan teman-teman lainnya karena Delia sedang merayakan ulang tahunnya di sini."
"Oh ... jadi, Kak Delia sedang berulang tahun."
"Kiara, apa benar kamu tidak apa-apa?"
"Iya, aku tidak apa-apa, Kak. Terima kasih sekali lagi."
"Ya sudah kalau begitu, aku mau kembali ke mejaku dulu. Permisi." Kiara mengangguk dan dia melihat Kiano berjalan pergi dari hadapannya.
Kiara kembali ke mejanya dan menceritakan pada suaminya jika di sini ada Kak Kiano dan teman-temanya juga. Mereka di sini untuk merayakan ulang tahun Kak Delia.
"Itu meja mereka?"
"Iya, Mas."
"Lalu, mana yang namanya Kiano?"