
Pintu lift terbuka dan Arthur membawa Kiara berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu yang beda dari kamar-kamar lainnya, bahkan beda dari kamar di mana Kiara dan Mega menginap
Saat pintu terbuka, Kiara dapat melihat isi ruangan itu berbeda dari kamar yang dia tempati. "Ini kamar kamu, Mas? Tempatnya bagus sekali.'
"Katanya ini kamar paling mahal di sini Kiara. Aku sengaja membuka kamar di sini agar bisa berduaan dengan kamu."
Hotel yang Kiara dan teman-temanya datangi bukan hotel bintang lima karena di sana masih belum seramai tempat pariwisata yang terkenal. Tempat itu baru beberapa bulan ramai dibicarakan karena memiliki pemandangan alam yang indah, hotelnya pun baru satu tahun berdiri.
"Jadi, Mas juga menginap di hotel ini? Untuk apa, Mas?"
"Aku akan berada di sini selama kamu berada di sini, aku tidak bisa jauh darimu, Ke."
"Lalu, urusan di kantor kamu bagaimana kalau kamu berada di sini?"
"Sekretarisku yang mengurusnya dan nanti aku bisa memantaunya dari sini, lagi pula aku tidak bisa diam saja di apartemen sedangkan kamu di sini, dan ada Elang juga."
"Jadi, kamu tidak percaya padaku, Mas? Aku dan Elang benar-benar sudah tidak ada hubungan apa-apa, bahkan aku juga menghindar darinya."
"Aku percaya padamu, Kiara, tapi tidak dengan Elang, dia itu masih sangat mencintaimu dan dia akan terus mendekatimu Kiara."
Kiara tampak terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh suaminya adalah hal yang benar.
"Mas, sebenarnya tadi aku menemui E."
"Kamu menemui Elang? Di kamarnya? Untuk apa?"
"Jangan cemburu dulu, aku menemui Elang karena ingin memberikan kado yang Mega sudah belikan untuknya, tapi Elang tidak mau menerima. Aku kasihan pada Mega, aku ingin mengatakan pada Elang agar dia tidak menyalahkan Mega atas perjodohannya dan aku menyuruh Elang untuk selalu bersikap baik pada Mega. Elang harus melupakan aku karena memang aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Awas aja kalau sampai dia melukai perasaan Mega! Dia benar-benar sulit sekali diberitahu. Tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengetahui jika kamu adalah istriku. Jadi, dia tidak boleh lagi memikirkan kamu atau mengharapkan kamu lagi Kiara."
Kiara memeluk suaminya, sekarang hatinya sedikit lebih tenang karena perasaan rindu yang dari tadi dia rasakan sekejap hilang saat berada dalam pelukan suaminya.
"Mas, bagaimana jika nanti Mega melihat kamu ada di sini? Kamu akan bilang apa?"
"Kamu tenang saja, aku akan mengatakan jika aku ada pekerjaan dan kebetulan di tempat ini. Mega akan percaya karena dia tahu kakaknya ini sering sekali bepergian."
"Semoga dia tidak curiga sama kita."
"Kiara, nanti malam tidur di sini ya?"
"Apa? Tidak bisa, Mas, nanti kalau Mega bertanya bagaimana? Kenapa aku tidak tidur di kamar dengannya?"
"Ya... tunggu Mega tertidur lalu kamu pergi ke kamarku, kita bisa tidur di sini, paginya sebelum Mega bangun kamu sudah kembali ke sana."
"Ya ampun, Mas, kamu menyusahkanku saja."
"Aku minta maaf, tapi tidak ada cara lain, Kiara, aku juga tidak mau tidur di sini sendirian."
"Nanti saja aku pikirkan, Mas, tapi aku juga tidak berjanji akan bisa tidur denganmu di sini, aku di sini itu sedang bersama dengan teman-teman sekolahku bukan bulan madu denganmu."
"Tidak apa-apa, Kiara, sambil menyelam minum air. Tempat ini sangat indah, cocok sekali jika digunakan untuk berbulan madu."
Kiara melihat di luar jendela ada hamparan pantai yang sangat indah dengan pemandangan malam yang benar-benar menakjubkan. Agak jauh dari sana juga banyak sekali perbukitan yang membentang indah."
Kiara berdiri tepat di depan jendela besar di kamar Arthur dan pria yang adalah suaminya itu memeluk Kiara dari belakang
Perasaan Kiara benar-benar nyaman dan bahagia saat ini. Begitupun dengan Arthur, dia perlahan mengecupi pipi Kiara kemudian turun pada leher.
"Mas, jangan memberi tanda merah pada leherku, nanti kalau teman-temanku atau Mega tahu apa yang harus aku katakan pada mereka?"
"Bisa pingsan mereka semua, Mas." Kiara terkekeh.
Arthur mulai mengecupi lembut leher istrinya itu juga dia sudah membuka beberapa kancing baju Kiara.
Ponsel Kiara tiba-tiba berbunyi membuat Kiara sangat terkejut.
"Mega, Mas! Ya Tuhan, aku sampai lupa kalau tadi aku izin ke belakang tapi sampai sekarang belum kembali ke sana."
"Kamu bilang saja kalau kau masih berjalan-jalan nanti saja kembalinya ke tempat Mega."
"Kalau begitu aku angkat dulu telepon dari Mega, Mas."
"Halo, Kiara! Kiara, kamu di mana? Kenapa di kamar mandi lama sekali?"
"Mega, aku minta maaf, tadi habis dari kamar mandi aku pergi keluar sebentar untuk membeli pembalut karena aku ternyata sedang datang bulan dan lupa membawanya."
Kiara asal bicara saja karena dia bingung mencari alasan yang tepat untuk jelaskan pada Mega.
"Kenapa tidak tanya aku saja? Aku membawa pembalut. Sekarang kamu di mana? Kenapa belum kembali awas nyasar loh?"
"Aku tidak akan tersesat, aku tahu kok jalan pulangnya."
"Kalau begitu awas diculik, loh! Ini sudah malam Kiara, sebaiknya kamu kembali ke kamar."
Kiara melihat pada Arthur. Siapa lagi yang akan menculiknya kalau bukan Arthur dan memang sekarang Kiara sedang diculik oleh Kakaknya Mega.
"Iya, aku akan segera kembali ke kamar hotel, kamu langsung saja ke kamar. Kalau kamu mau tidur duluan, kamu tidur saja tidak perlu menungguku."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan menunggu di kamar saja."
Mereka berdua mematikan panggilan. Kiara langsung bernafas lega setelah berbicara dengan Mega.
"Kamu beneran datang bulan, Sayang?" Wajah Arthur tampak sedih.
"Belum sih, Mas karena memang belum tanggalnya. Kenapa wajah kamu sedih seperti itu?
"Aku berharap kamu bulan ini tidak datang bulan, kalau kamu tidak datang bulan, itu artinya ada bayi kecilku dalam perutmu."
"Aku juga berharap seperti itu, Mas, ,tapi kalau memang belum diberi kita mau bagaimana?" Sekarang gantian wajah Kiara yang terlihat sedih.
Arthur perlahan menarik tangan Kiara dan mendekatkan pada tubuhnya. "Aku minta maaf jika perkataanku membuat kamu sedih, aku tidak akan membahas hal ini lagi, kita nikmati saja apa yang ada sekarang. Kamu dan aku, Kiara."
Kiara memeluk suaminya dengan wajah yang masih sedih memikirkan kenapa juga mereka belum diberi momongan.
"Mas, apa kita pergi saja ke dokter temannya Mba Elena lagi? Bukannya waktu itu kita ke sana hanya untuk berkonsultasi saja tentang makanan apa dan apa yang harus dilakukan agar cepat memiliki momongan. Bagaimana kalau kita melakukan cek up untuk mengetahui tentang tingkat kesuburan."
"Sebenarnya, bukannya aku tidak mau menunggu sampai Tuhan memberikan momongan pada kita, Kiara, apalagi pernikahan kita juga masih seumur jagung, tapi entah kenapa aku ingin sekali kita segera memiliki seorang bayi yang lucu agar benar-benar lengkap kehidupan yang aku inginkan."
"Aku bisa paham akan hal itu, Mas, aku juga awalnya belum ingin memiliki seorang bayi karena aku mau kuliah, tapi setelah aku pikirkan dan karena aku sangat mencintaimu, aku ingin mewujudkan keinginan kamu itu untuk memiliki seorang anak, aku tidak masalah kuliah dengan perut buncit. Pasti sangat menyenangkan." Kiara memberikan senyum manisnya pada Arthur.
"Setelah acara ini dan setelah kita bilang kepada semua orang, terutama keluargaku bahwa kita sudah menikah, aku akan mengajakmu berbulan madu. Siapa tahu setelah pulang dari bulan madu akan ada bayi kecil di sini." Arthur memegang dan mengelus lembut perut Kiara.
"Iya, Mas, aku mau pergi berbulan madu denganmu."
Arthur sekali lagi mengecup bibir Tiara dan bahkan mereka berdua bercinta di sana.