
Kiara yang sebenarnya ingin ikut suaminya karena khawatir jika nanti suaminya akan berbuat buruk pada pamannya Dean, akhirnya mengalah dan memutuskan untuk pulang dengan bibi Yaya.
Arthur, Gio dan Manda menuju tempat di mana mereka akan menjemput Dean. Arthur yang satu mobil dengan Manda tampak kasihan melihat Manda yang masih berderai air mata.
Perjalanan hampir memakan waktu tiga jam. Mereka sampai di sana tepat jam lima sore. Manda segera menuju ke sebuah klinik di mana Dean berada. Dean memeluk Manda sangat erat.
"Mami! Aku takut dengan orang itu."
"Kamu sekarang tidak perlu takut lagi, Sayang. Mami ada di sini sama kamu. Apa yang sudah orang itu lakukan sama kamu?"
"Tangan aku dilukai oleh wanita yang bersamanya. Dia melukai tanganku dengan pisau." Bocah kecil itu menunjukkan tangannya yang sudah dibalut oleh perban.
"Ya Tuhan! Mereka benar-benar kejam!"
"Aku hanya minta pulang, tapi mereka malah melukaiku, dan paman Bruno juga menyulut kakiku dengan rokok panas."
Dean juga menunjukkan kakinya yang ada beberapa luka bakar karena sulutan rokok.
Arthur yang berdiri di sana tampak sangat geram. Dia menggenggam erat kepalan tangannya.
"Dean, kamu mulai sekarang jangan takut lagi karena orang-orang yang melukaimu akan mendapat balasan yang setimpal. Dean harus membuat kejadian hari ini sebagai hal yang membuat Dean menjadi lebih berani. Dean seorang laki-laki, jadi harus kuat dan berani." Tangan Arthur mengusap lembut kepala Dean.
Arthur mengatakan hal itu agar Dean tidak trauma dan menjadi penakut.
"Om Arthur!" Bocah kecil itu memeluk Arthur. Aku kemarin mencoba melawan, tapi aku masih kecil. Jadi, aku kalah dengan mereka."
"Kamu memang jagoan. Sekarang kamu tidak perlu takut lagi karena nanti Om Arthur yang akan mengurus mereka."
Arthur melepaskan pelukannya dan dia permisi untuk pergi sebentar menemui pria yang bernama Bruno. Manda sudah tidak mau bertemu dan bahkan melihat pria itu. Dia sekarang hanya ingin menemani Dean.
Arthur diajak oleh paman Damar ke suatu tempat di mana Paman Damar belum menyerahkan sepasang kekasih yang tidak waras itu.
"Jadi kamu yang namanya Arthur dan selama ini sudah melindungi wanita brengsek bernama Manda itu." Wajah Bruno terlihat songong.
"Senang berkenalan dengan kamu, Bruno-- orang gila yang tega melukai bocah yang masih kecil. Apa kamu tidak tau berapa usia Dean, sampai kamu tega melukai bocah yang adalah keponakan kami sendiri hanya karena harta warisan yang Dean memang berhak memilikinya." Arthur yang marah mencengkram erat dagu pria yang sudah diikat tangannya.
"Arthur, jangan kotori tanganmu." Paman Damar melepaskan tangan Arthur.
"Harta itu seharusnya menjadi hakku karena aku adalah pamannya. Bukan wanita yang baru saja masuk ke dalam kehidupan kakakku. Aku bisa mengurus Dean dengan baik kalau Manda mau memberikan Dean untukku."
"Kamu bukan pria yang bisa menyayangi seseorang tanpa ada yang kamu inginkan. Kamu dengarkan aku baik-baik, Bruno. Walaupun aku tidak ada hubungan darah dengan Dean dan keluargamu, tapi aku janji akan menjaga anak itu dan akan aku buat agar Dean dapat memiliki harta warisan dari ayahnya karena dia berhak mendapatkan itu.
"Ternyata kamu juga sama saja denganku. Kamu juga menginginkan apa yang keponakanku itu miliki."
Arthur seketika tertawa dengan kerasnya. "Dasar pria bodoh! Aku tidak membutuhkan uang Dean, tapi aku juga tidak perlu menjelaskan siapa aku. Selamat mendekam di dalam jeruji besi karena kamu harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan."
Arthur berjalan pergi dari sana. Paman Damar membawa Bruno dan kekasihnya ke pihak berwajib agar dapat di proses hukum.
***
Malam itu Kiara yang berada di dalam kamarnya, tampak gelisah karena suaminya belum pulang juga. Kiara yang dari tadi menghubungi Arthur, tapi tidak dijawab tampak merasa cemas.
"Kiara, ini bibi bawakan susu untuk kamu."
Bibi Yaya memberikan segelas susu pada Kiara dan Kiara dengan perlahan menghabiskan susu itu.
"Bi, kenapa Mas Arthur tidak bisa dihubungi?"
"Kata suami Bibi di sana memang sinyalnya agak sulit, tapi tadi suami Bibi bilang jika Arthur sedang perjalan pulang. Jadi, kamu tenang saja dulu."
"Nanti kalau suami kamu sudah pulang, kamu bisa bertanya semua padanya. Sekarang kamu tenang saja dulu. Ingat kamu sedang hamil, Kiara."
"Iya, Bi, aku akan mencoba tenang."
"Ya sudah! Sekarang kamu lebih baik istirahat dulu karena Bibi mau membersihkan ruang dapur sebenarnya. Tenangkan pikiran kamu."
Kiara menghabiskan susunya dan dia dibantu oleh bibi Yaya berbaring di tempat tidurnya. Bibi Yaya menyelimuti dan kemudian keluar dari kamar.
Di lantai bawah, bibi Yaya yang baru saja menuruni anak tangga melihat Arthur masuk ke dalam apartemen.
"Sudah pulang, Arthur?"
"Sudah, Bi. Bi, apa istriku sudah tidur?"
"Dia tidak bisa tidur karena cemas menunggu kamu belum pulang. Aku baru saja memberikan susu untuknya dan menyuruhnya berbaring di tempat tidurnya. Bagaimana dengan masalah di sana?"
"Semua sudah selesai, dan Paman Damar yang mengurusnya. Bi, bibi apa mau menginap di sini saja? Ini juga sudah sangat malam."
"Aku pulang saja dan mungkin besok aku datang agak siang lagi karena masih harus mengurus beberapa keperluan anakku, Arthur."
"Iya, Bi, tidak apa-apa."
"Kalau begitu. Bibi akan menyelesaikan dulu pekerjaan Bibi dan kemudian pulang. Kamu beristirahatlah, temui istrimu agar lebih tenang." Tangan Bibi Yaya mengusap lembut lengan Arthur.
Arthur membuka pintu kamar dan seketika Kiara bangun berlari menghampiri suaminya.
"Kiara, jangan berlarian!"
"Aku khawatir sama kamu, Mas. Kamu tidak apa-apa, kan?" Kiara membolak balikkan tubuh suaminya. Dia ingin memeriksa apa suaminya baik-baik saja.
"Sayang, aku baik- baik saja."
"Kamu tidak melakukan hal buruk pada pamannya Dean, kan?"
"Sebenarnya aku ingin menghajarnya sampai dia masuk rumah sakit, tapi karena aku ingat kamu sedang hamil, maka aku tidak jadi menghajarnya."
"Mas, jangan suka memukul orang." Kiara sekali lagi memeluk suaminya.
"Tapi orang seperti Bruno Itu memang pantas dihajar karena sudah tega melukai Dean."
"Oh ya, bagaimana keadaan Dean?"
Arthur menceritakan apa saja yang sudah terjadi di sana. Arana menangis mendengar apa yang Bruno dan kekasihnya lakukan pada Dean.
"Mereka itu bukan manusia, Mas. Kenapa tega dengan anak sekecil Dean?"
"Mereka akan menerima hukuman atas apa yang sudah diperbuat. Untuk saat ini Manda dan Dean akan benar-benar aman."
"Besok aku mau minta bibi Yaya mengantarku untuk menjenguk Dean ya, Mas?"
"Iya, kamu boleh menjenguknya, dia pasti akan senang dengan kedatanganmu. Manda juga besok aku suruh libur dulu dan Gio yang akan mengurus masalah di restoran."
Arthur dengan cepat menggendong tubuh Kiara di depan. Wanita itu melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Arthur dan mereka berdua saling berciuman berjalan menuju tempat tidur.
"Kiara, itu walkman siapa?" Arthur bertanya setelah melepaskan ciumannya.