Be Mine

Be Mine
Menghilangkan Kenangan



Kiara terburu-buru memakai seragam sekolahnya karena tadi di kamar mandi, suaminya malah mengajak bercinta lagi.


"Seharusnya tadi aku tidak setuju kamu ajak melakukan hal itu, Mas! Sekarang aku pasti terlambat masuk sekolah, dan itu semua gara-gara kamu."


Arthur yang tidak merasa bersalah malah mengecup bibir Kiara dan memakai kemejanya dengan santai.


"Mas! Cepat!" Kiara menyambar tas sekolahnya dan berjalan keluar kamar lebih dulu.


"Dia benar-benar luar biasa."


Arthur mengambil suitnya dan berlari kecil menyusul Kiara yang sudah di depan lift.


Mereka dengan cepat masuk ke dalam mobil. "Kamu tidak lapar, Ara?"


"Aku makan di kantin sekolah saja, Mas, dan kamu nanti makan pagi di kantor saja. Kalau saja kita tadi tidak bercinta sampai beberapa kali, pasti aku masih punya waktu memasak untuk kita berdua."


"Aku tidak lapar, tapi kalau kamu lapar nanti aku suruh orang mengantarkan makan pagi untukmu."


"Tidak perlu, Mas. Aku tidak mau nanti malah menjadi masalah. Sekarang kita pergi ke sekolahku saja dulu." Ara tampak cemas dia akan terlambat masuk sekolah.


Arthur segera menancap gas melaju ke sekolah Kiara. Kiara tampak memeriksa lagi apa barang-barang yang harus dia bawa tidak lupa dia masukkan ke dalam tasnya.


"Mas, nanti di dekat minimarket itu ada tanah kosong, aku mau kita berhenti sebentar."


"Untuk apa?"


"Aku mau membuang hadiah yang sudah aku siapkan untuk Elang. Lebih baik aku buang saja karena aku tidak mau menyimpan hadiah itu."


"Kamu serius?" Kiara mengangguk. "Ya sudah kalau itu mau kamu."


Kiara memang akhirnya membuang kado yang dulu dia ingin berikan pada Elang. Dia melakukan hal itu agar Arthur tau jika Elang sudah tidak ada di hati Kiara lagi.


Mobil Arthur sudah sampai di tempat biasa di menurunkan Kiara dan dengan cepat Kiara mengecup punggung tangan Arthur dan berlari keluar dari dalam mobil.


Arthur tampak gemas melihat tingkah polos yang memang tidak dibuat-buat oleh istrinya itu.


Gerbang sekolah waktu itu masih terbuka, tapi Kiara tau jika dia terlambat karena di dalam gedung sekolah sudah sepi, anak-anak pasti sudah berada di dalam kelasnya masing-masing.


"Sudah datang gurunya." Kiara mengintip pada pintu kelas yang tidak tertutup dengan sempurna.


Di dalam kelasnya anak-anak sedang berdoa, dan selesai berdoa Kiara memberanikan diri masuk ke dalam kelas.


"Maaf, Pak, saya datang terlambat."


"Kiara, kenapa kamu baru datang? Kamu tidak pernah terlambat masuk sekolah sebelumnya."


"Kaki saya agak sakit, Pak, tadi mau izin tidak masuk, tapi ini hari spesial buatku dan teman-temanku. Jadi, saya memaksakan masuk saja."


Kiara ini tidak berbohong, sebenarnya kakinya memang agak sedikit sakit karena apa yang tadi dia dan Arthur lakukan beberapa kali.


"Kamu habis terjatuh sampai kaki kamu sakit?"


"Em! Saya tidak tau, tadi bangun tidur tiba-tiba kaki saya sakit." Kali ini Kiara harus berbohong karena dia bingung mau beralasan kenapa kakinya bisa sakit?


"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh duduk karena hari ini memang tidak ada pelajaran, tapi tetap saja kita harus disiplin masuk sekolah dan karena Kiara memiliki alasan yang kuat kenapa dia sampai terlambat masuk sekolah, Bapak memberinya maaf.


Hari ini guru mereka membagikan nilai ulangan dan Kiara mendapatkan nilai ulangan yang tertinggi di sekolah. Semua teman-teman Kiara memberikan selamat untuk Kiara, tapi hanya Mega yang malah tertunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.


Setelah bapak guru memberikan sedikit nasehat untuk anak didiknya yang akan mulai menjalani kehidupan setelah lulus SMA, anak-anak diperbolehkan bebas melakukan apa yang mau dilakukan asalkan masih tau tata krama.


Teman-teman satu kelas Kiara bersorak kegirangan, mereka mengeluarkan kado yang mereka bawa agar bisa saling menukar kado. Kiara melihat Mega yang duduk di bangkunya tampak sedih.


"Mega, kamu kenapa?" Kiara menghampiri meja Mega untuk membuat sahabatnya tidak merasa bersalah.


"Kiara." Mega dengan cepat memeluk Kiara. Dia bahkan menangis sesenggukan. Teman-teman lainnya yang ada di sana tampak tau apa yang sedang terjadi di antara dua sahabat itu.


"Kamu kenapa menangis? Soal Elang? Mega, aku tidak menyalahkan kamu tentang apa yang terjadi. Aku ikhlas jika Elang sama kamu."


"Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, Kiara. Aku dan Elang akan tetap bertunangan."


Kiara malah tersenyum. "Selamat kalau begitu. Kamu memang pantas memiliki calon suami sebaik Elang dan Elang juga pantas mendapat calon istri sebaik dan secantik kamu."


"Kiara! Kenapa malah memberikan semangat? Kamu boleh marah atau sakit hati padaku karena aku sudah merebut orang yang kamu cintai."


"Kamu tidak merebutnya, Mega. Kamu dan Elang dijodohkan atau bahkan kalian menjadi sepasang kekasih di saat aku dan Elang memang sudah putus. Perasaanku pada Elang sudah tidak ada lagi, Mega, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atau apalah itu."


Mega dengan cepat menghapus air matanya. Dia menatap Kiara dengan serius. "Kamu benaran sudah punya kekasih lain, Ara?"


"Kekasih?" Kedua alis Kiara mengkerut.


"Iya, Elang bercerita padaku waktu kita bertemu di rumahku. Dia bilang katanya kamu tidak mau memperdulikan dia lagi karena kamu sudah mencintai orang lain. Apa aku boleh tau siapa kekasih barumu?" Mega wajahnya tampak berharap Kiara memberitahu siapa pacar barunya.


"Dia bukan kekasihku, tapi dia lebih dari itu."


"Maksud kamu?" Mega tampak tidak bisa menangkap apa yang Kiara maksud.


Kiara bingung, apa dia harus mengatakan rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan dari Mega atau nanti saja biar Arthur yang memberitahu Mega dan keluarganya?


"Pokoknya aku sangat mencintainya. Dia segalanya untukku, Mega."


"Wow! Aku benar-benar tidak percaya kamu bisa jadi sebucin ini sama pria itu. Kamu seperti bukan Kiara yang aku kenal kalau begini."


"Dengannya aku seolah baru pertama kali mengenal cinta dan pertama kali jatuh cinta sama seseorang. Susah pokonya dijelaskan dengan kata-kata."


"Siapa sih dia, Kiara? Ayolah! Kamu katakan sama aku, aku benar-benar penasaran sama lelaki itu."


"Jangan sekarang, tapi nanti pasti aku kenalkan dia sama kamu dan aku yakin kamu pasti menyukainya karena dia sangat baik."


"Ah ...! Kamu tidak setia kawan. Aku ingin tau sekarang, Kiara," rengek Mega.


"Beneran, Mega, jangan sekarang. Aku janji kalau saatnya tepat, aku akan menunjukkannya sama kamu."


Mega akhirnya tidak mau memaksa dan dia nanti pasti akan menunggu Kiara mengenalkan kekasihnya itu.


"Mega, ini ada hadiah buat kamu."


"Terima kasih, Kiara. Ini juga ada hadiah buat kamu."


"Terima kasih, Mega. Hadiah kamu cantik sekali." Mereka berdua saling berpelukan