Be Mine

Be Mine
Siapa yang Bersama Elang?



Kiara tampak duduk dengan wajah agak cemasnya. Momo mengusap perlahan punggung Kiara guna menenangkan wanita yang hampir saja tadi mau jatuh di anak tangga saat sibuk mengejar lelaki yang dia duga adalah Elang.


"Nyonya Kiara, apa perlu saya menghubungi Tuan Arthur?" tanya pengawal yang tadi dengan cepat memegang tangan Kiara sehingga Kiara tidak sampai terjatuh.


"Tidak perlu, Pak. Mas Arthur tidak perlu tau masalah ini, nanti saja biar aku yang bicara dengan suamiku. Pak, terima kasih sudah menyelamatkanku tadi."


"Itu sudah tugas saya untuk menjaga Nyonya Kiara."


"Sekali lagi terima kasih, Pak."


"Ampun, Kiara! Bagaimana kalau tadi kamu sampai jatuh? Bisa-bisa aku dimutilasi sama suami kamu karena aku yang mengajak kamu ke sini. Lagian kamu tadi seperti orang kebingungan saja mencari lelaki yang kamu kira Elang itu."


"Itu karena aku ingin meyakinkan jika dia benar Elang atau bukan, apa lagi dia tadi bersama dengan seorang wanita yang aku tau bukan Mega, Mo."


"Kalaupun dia memang Elang dan dengan seorang wanita, ya biarkan saja, Kiara! Siapa tau wanita itu adalah mamanya atau saudara perempuannya yang sedang jalan sama dia. Kenapa kamu menjadi seolah sangat khawatir seperti itu?" Duduk yang sekarang duduk di sebelah Kiara tampak kesal.


"Wanita itu bukan mamanya, apa lagi saudaranya Elang karena aku tau wajah mamanya dan Elang tidak memiliki saudara perempuan. Dia itu anak tunggal, dan juga saudara sepupu Elang semua laki-laki."


"Wah! Kamu paham sekali mengetahui tentang calon ipar kamu itu. Eh, kamu kenapa seperti cemas begitu? Apa kamu diam-diam suka sama Elang?" bisik Momo di telinga Kiara.


Kiara melihat datar pada Momo. "Aku tidak mungkin menyukai Elang, hal itu sudah lama berakhir dan aku sudah benar-benar melupakan Elang."


"Hah?" Momo tampak melongo karena terkejut. "Bentar-bentar! Kamu bilang apa tadi? Melupakan Elang? Kamu dan Elang memang punya hubungan dulunya?"


Kiara mengangguk perlahan. "Oh my God! Kok bisa?" Momo menepuk jidatnya.


"Kamu mantan pacar dari calon adik iparmu dan Arthur tau tentang hal ini?"


"Tentu saja tau karena Mas Arthur yang merebut aku dari Elang." Kiara terkekeh.


Momo malah melongo melihat ekspresi Kiara. "Merebut? Tapi kok pas banget yang merebut kamu jauh di atas Elang, bagiku sih!"


"Sebenarnya tidak juga kalau dikatakan merebut karena aku dan Mas Arthur juga sama-sama tidak tau bakal bertemu dan sampai menikah seperti ini, apa lagi aku ternyata benar-benar tau apa arti cinta sejak kenal dengan suamiku itu."


"Cukup ... cukup! Jangan mulai cerita hal yang bisa membuat aku kena diabetes. Eh, tapi kenapa Elang bisa sama Mega? Bukannya kalian bertiga dulu sahabat? Kok seolah aku mencium aroma pengkhianatan."


"Aku baru tau jika Mega sangat mencintai Elang, Elang itu penolongnya waktu kecil dulu dan ya Elang juga akhirnya bisa menerima Mega dan mencintainya."


"Kamu yakin jika Elang benaran suka sama Mega?" Salah satu alis Kiara terangkat ke atas menandakan dia tidak percaya jika Elang mencintai Mega.


Kiara tampak terdiam sejenak dan kemudian perlahan menganggukkan kepalanya perlahan beberapa kali.


"Kamu juga ragu, kan? Apa lagi tadi kamu melihat lelaki seperti Elang dengan wanita lain."


Kiara juga bingung dengan apa yang baru dia lihat, tapi dia juga takut salah. Takutnya tadi bukan Elang, tapi kalau memang Elang, pantas siapa wanita yang menggandeng tangannya mesra?


"Kiara! Malah bengong. Kalau kamu penasaran, kenapa tidak tanyakan saja sama Elang langsung. Kamu pasti punya nomor teleponnya, Kan?"