
Kiara tampak mengerjakan kedua matanya. Dia terbangun karena merasakan embusan napas tepat pada lehernya.
Dia membuka matanya dan melihat ada sebuah tangan melingkar pada perutnya, dan saat menengok ke belakang sedikit, dia melihat ada wajah seseorang yang semalam dia impikan.
"Mas Arthur? Kenapa dia bisa masuk ke dalam kamar?" Kiara tampak heran. "Bukannya semalam aku mengunci kamarnya?"
Arthur tampak tertidur dengan nyaman, dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Kiara.
"Mas, bangun! Aku ini sedang hamil dan kamu malah memeluk perutku dengan erat. Kasihan bayiku." Kiara memukul tangan suaminya sampai akhirnya Arthur terbangun.
"Aku masih ngantuk, Sayang."
"Tangan kamu jangan memelukku erat begini, kasihan bayiku."
Arthur yang sadar segera melepaskan pelukannya. "Aku minta maaf, habisnya aku nyaman sekali tidur memeluk kamu."
Kiara beringsut bangun dan bersandar pada tepi ranjangnya. Dia melihat suaminya dengan wajah masih kesal. "Mas kok bisa masuk ke dalam kamar?"
"Aku merusak pintu kamarnya dan nanti akan ada yang datang memperbaiki," ucap Arthur santai.
"Apa?" Kiara tampak mendelik tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan.
"Aku tidak bisa tidur, Kiara dan kepalaku semalam pusing tidur di sofa." Arthur memijit kepalanya.
Kiara melihat dengan kedua mata menyipit curiga. "Mas jangan pura-pura sakit, ya!"
"Aku benaran sakit. Di sini, Sayang." Tangan Arthur menempelkan telapak tangan Kiara pada dadanya. "Sakit sekali rasanya saat kamu marah seperti ini sama aku."
"Itukan salah Mas sendiri. Main nyosor seenaknya! Sudah tau kalau punya istri, main berpelukan dan ciuman sama wanita lain."
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, lagi pula sudah aku jelaskan maksud pelukan dan ciuman itu."
"Tetap saja, aku sakit hati, Mas!" Kiara menekankan kata-katanya.
Kiara yang ingin turun dari tempat tidur dengan cepat tangannya ditahan oleh Arthur. "Mau ke mana?"
"Aku mau mandi, kemudian sarapan pagi karena aku lapar."
"Kita mandi bersama dan aku akan memijitmu."
"Tidak mau! Pokoknya aku tidak mau dipeluk atau bahkan dicium oleh Mas."
"Kalau begitu aku mau memberi ciuman selamat pagi pada bayiku. Bolehkan?"
Kiara terdiam sejenak. Ini kan juga bayi Mas Arthur, masak ayahnya tidak boleh menciumnya, tapi kalau dibolehkan berarti Arthur sama saja mencium perut Kiara, tapi kembali lagi dia ayahnya.
"Iya, boleh! Cepat cium dan aku mau segera mandi."
Arthur tersenyum senang, dia mendekatkan kepalanya pada perut Kiara kemudian dia menciumnya lembut. "Sayang, selamat pagi. Maafkan ayah tadi memelukmu terlalu erat karena ayah sayang pada kamu dan ibumu." Arthur mengecupnya beberapa kali.
"Sudah, Mas! Aku mau mandi." Arthur mendongak melihat ke arah Kiara. "Apa? Jangan berpikiran untuk menciumku karena aku tidak mau."
"Sedikit saja."
"Tidak mau! Aku masih kesal sama Mas." Kiara menyingkirkan tangan Arthur kemudian dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Arthur pun mendengar bunyi pintu dikunci. Kiara lagi-lagi mengunci pintunya. "Huft! Sampai berapa lama dia akan marah begini?" Arthur menutup kepalanya dengan selimut.
"Pakai ini saja." Kiara mengambil dress selutut berwarna putih dengan lengan tali dan ada bunga kecil memenuhi tali itu.
"Baju yang indah. Terlihat manis dan sexy," ucap Arthur yang tiba-tiba ada di di belakang Kiara.
"Mas kenapa masuk ke sini? Keluar, Mas. Aku mau berganti baju."
"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Kamu malu berganti baju di depanku? Kamu tadi kan hanya bilang tidak mau dipeluk dan dicium, aku tidak melakukan itu, aku hanya melihat saja."
"Kalau begitu aku akan berganti baju di kamar mandi saja."
Arthur dengan cepat menutup pintu ruang ganti mereka dan memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Dia berdiri bersidekap dengan bersandar pada pintu ruangan pakaiannya.
Pria yang bagian atasnya polos itu melihat dengan mimik songong di depan istrinya yang wajahnya mengkerut kesal.
"Ya sudah, aku tidak akan berganti baju. Biar saja aku tetap begini dan nanti kalau aku dan anak kita sampai sakit karena masuk angin. Mas orang yang patut disalahkan akan semua ini." Kiara sekarang malah duduk dengan hanya memakai handuk saja.
Arthur seketika menundukkan kepalanya, dia merasa kalah dengan istrinya. Arthur berjalan mendekat pada Kiara dan duduk tepat di bawah kaki istrinya.
Tangannya menggenggam kedua tangan istrinya. "Ara, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan kesalahanku? Jujur saja, sikap kamu seperti ini sangat menyiksaku."
Kiara melihat dengan tatapan masih kesal pada suaminya, tapi ada rasa iba di dalam hatinya untuk pria yang sedang duduk di bawah kakinya.
"Sayang, aku merindukan kamu. Jangan seperti ini."
"Baiklah, aku akan memaafkan Mas, tapi selama satu bulan ini, jangan mencium atau mengajak bercinta karena itu sebagai hukuman buat Mas Arthur."
"Apa? Satu bulan? Kenapa lama sekali? Tidak bisa seminggu saja?"
"Kalau Mas menawar, aku tambah lagi ini hukumannya jadi dua bulan."
"Eh, jangan Kiara. Satu bulan saja sudah menyiksa, apa lagi dua bulan."
"Ya sudah, satu bulan dan Mas harus ingat akan hal itu."
Arthur memegangi kepalanya. Dia harus menjaga dirinya agar tidak mencium Kiara dan yang lebih menyakitkan, dia tidak boleh bercinta dengan Kiara.
"Sekarang Mas keluar karena aku mau berganti baju."
"Kamu, kan, hanya mengatakan tidak mencium dan bercinta, kalau aku di sini melihat kamu berganti baju tidak masalah, kan? Itu tidak ada dalam daftar hukumanku."
Kiara sampai mangap tidak percaya dengan apa yang suaminya baru saja katakan. Dia seharusnya juga mengatakan tidak boleh melihatnya tanpa baju.
Suaminya ini benar-benar pria yang cerdik, dan anehnya Kiara setelah mengatakan hal itu dia canggung saat dilihat oleh suaminya dari tadi.
"Mas, aku sudah memaafkan kamu, kenapa kamu mencari masalah lagi?"
Tangan Arthur mengusap lembut pipi Kiara. "Aku tidak mencari masalah, tapi aku hanya ingin di sini. Itu saja."
Kiara memutar bola matanya jengah. Dia tidak tau lagi harus berkata apa dengan suaminya ini.
"Ya sudah, kalau begitu silakan saja di sini, dan ingat ya, Mas! Jangan melanggar apa yang baru saja kita sepakati, atau hukuman kamu diperpanjang."
Arthur duduk santai di bangku panjang yang ada di dalam ruangan walk in the closetnya.
Kiara berdiri membelakangi suaminya. Dia perlahan membuka handuk mandinya. Kiara masih belum menjatuhkan handuknya itu karena Kiara merasa aneh sendiri dilihati oleh Arthur, padahal biasanya dia biasa saja dan nyaman, tapi kenapa saat ini dia canggung begini? Kiara mau menoleh tapi dia ragu.