Be Mine

Be Mine
Aku Mencintaimu



Arthur menidurkan Dean di kamarnya. Dia kemudian izin untuk pulang karena hari juga sudah malam.


"Apa tidak mau minum kopi sebentar di sini?"


"Aku minta maaf, ini sudah malam dan aku harus segera pulang karena besok pagi aku ada urusan yang sangat penting."


"Ya sudah kalau begitu. Semoga urusan kamu dan istrimu segera selesai."


Arthur hanya mengangguk perlahan dan kemudian dia pergi. Di sepanjang perjalanan, Arthur hanya terdiam sembari memikirkan tentang keputusan yang akan dia ambil besok pagi. Dia sudah memantapkan keputusannya.


Sesampai di rumah, Arthur melihat Kiara yang sudah tidur di sofa ruang tamu dengan televisi masih menyala.


"Kenapa dia tidur di sini?" Arthur melihat ponsel Kiara dan saat membuka dia melihat ada beberapa pesan dan panggilan dari Elang yang belum Kiara baca. "Kalian masih sangat mencintai, dan aku hanya akan menjadi penghalang bagi kebahagian kalian berdua. Kiara, aku akan membuat kamu diterima oleh keluarga Elang dan mereka pasti akan menerimamu."


Arthur menggendong Kiara dan membawanya ke dalam kamar. Dia menidurkan istrinya itu sembari memandanginya hampir beberapa menit.


"Aku pasti akan merindukan wajah ini dan senyum serta wajah kesalnya. Tuhan! Andai aku memiliki kesempatan untuk mengulang waktu, aku pastikan akan mencarimu lebih dulu dan akan mendapatkan kamu dengan cara yang baik."


Arthur berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu dia bersiap untuk tidur setelah memakai baju tidurnya.


Arthur malam ini tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan akan keputusan besok pagi yang akan dia ambil.


"Kamu serius, Arthur?" tanya Gio yang berbicara dengan Arthur di telepon saat Arthur berada di kantor dan Gio sedang menemani kekasihnya ke luar kota untuk menemui kedua orang tua kekasihnya.


"Aku serius. Aku akan memberikan kebahagiaan untuk Kiara seutuhnya."


"Dan kamu akan menderita selamanya. Arthur, kamu baru kali ini mencintai seseorang begitu besar. Berusahalah mempertahankan pernikahanmu, dan aku yakin Kiara akan bisa mencintaimu."


"Aku sudah mengambil keputusan."


Arthur terbangun dari tidurnya karena dia bermimpi buruk.


Arthur sekali lagi beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat wajah Kiara yang masih terlelap dalam tidurnya.


Arthur mendekatkan wajahnya karena dia ingin sekali mengecup bibir Kiara dan mungkin itu adalah kecupan untuk yang terakhir kalinya.


Dia pun melakukannya karena hatinya begitu kuat ingin melakukannya.


"Aku mencintaimu, Kiara," ucapnya terdengar sedih.


"Aku mencintainya, Ibu," Kiara pun mengucapkan kalimat yang hampir sama dengan Arthur, tapi masih dengan mata terpejam.


Arthur agak kaget mendengar hal itu, tapi sekali lagi dia tidak mau kecewa dan berpikir jika ucapan itu bukan untuknya, tapi untuk Elang. Ya! Kiara pasti bermimpi dengan Elang, sangat menyakinkan memikirkan hal itu, batin Arthur. Arthur kemudian kembali ke sofa panjang dan mulai memejamkan kedua matanya agar besok pagi dia bisa bangun lebih awal.


***


Keesokan paginya


Kiara tampak kaget dan bingung melihat suaminya yang sudah tampak bersiap memakai kemejanya rapi.


"Kamu sudah mau pergi kerja, tapi ini masih sangat pagi, Arthur?" Kiara beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku ada urusan dan mau menyelesaikannya pagi ini agar nanti bisa meeting dengan klien kerjaku."


"Dengan Manda lagi?" ucapnya terdengar kesal.


"Dengan kamu, Kiara."


"Maksudnya?" Kiara mengerutkan kedua alisnya bingung.


Arthur tidak menoleh pada istrinya itu. Dia malah menyibukkan diri memakai jam tangannya. "Aku membatalkan perjanjian tiga bulan itu, Kiara. Kita akan mengurus surat perceraian hari ini dan aku akan membebaskan kamu."


"Apa?" Kiara benar-benar terkejut mendengarnya. "Bercerai hari ini?"


"Iya, dan kamu akan aku bantu untuk bisa diterima oleh kedua orang tua Elang karena kamu bukan lagi Kiara si gadis yatim piatu yang miskin. Aku akan menjadikan kamu seorang yang terpandang dan tidak dipandang rendah oleh orang lain setelah kita bercerai."


Kiara semakin kesal dengan Arthur. Dia berjalan mendekat pada Arthur dan dengan kasar membalikkan tubuh Arthur agar menghadap padanya.


"Aku tidak butuh uangmu karena yang aku butuhkan adalah ... kamu." Kiara memandang lekat pada Arthur. Arthur yang mendengar ucapan Kiara gantian bingung. "Aku tidak mau berpisah denganmu, Arthur."


"Maksud kamu apa, Kiara? Aku serius ingin membuat kamu bebas dan bisa bahagia dengan Elang."


"Aku tidak mau berpisah. Aku tidak mau jauh darimu. Atau kamu memang ingin berpisah karena suka sama Manda?"


"Kamu tidak menyukainya, kan?"


"Manda? Tentu saja tidak, Kiara."


"Siapa yang kamu cintai?"


Arthur terdiam sejenak. "Istriku."


"Kenapa kamu mau menceraikannya kalau mencintainya?"


"Aku hanya ingin dia bahagia dengan orang yang dia cintai."


"Tapi aku tidak mau bercerai darimu. Hari ini, besok, atau setelah perjanjian tiga bulan itu selesai."


"Kenapa? Apa kamu jatuh cinta padaku?"


"Aku--."


"Karena kamu mencintaiku."


Arthur kemudian menarik pinggang Kiara dan mengecupi bibir istrinya itu dengan agar liar.


Kiara yang tidak bisa mengelak lagi pun akhirnya membalas ciuman itu. "Kamu mencintaiku Kiara," ucap Arthur dan sekarang wajah pria tampan itu terlihat bahagia.


"Siapa bilang aku mencintaimu? Aku hanya tidak mau jauh darimu, Mas Arthur," Kiara menekankan kata-katanya.


Arthur malah tersenyum dan kembali mengecupi bibir Kiara. Dia tidak mau melepaskan gadis itu lagi, bahkan Arthur sampai membawanya naik ke atas ranjang dengan tidak melepaskan ciumannya.


Arthur menindih tubuh Kiara dengan masih terus menciumi istrinya itu, dan beberapa detik kemudian Arthur melepaskan ciumannya. Dia memandang lekat wajah Kiara yang tepat ada di bawah tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Kiara."


"Aku tau hal itu.".


"Oh ya? Tau dari mana?"


"Dari Mas Gio, dia waktu di pesta ulang tahun Mega mengatakan jika kamu mencintai."


"Dasar Gio! mulutnya minta aku ikat saja."


Kiara seketika tertawa dengan senangnya. "Memangnya rambut mau diikat? Tapi berkat kata-kata Mas Gio, aku tau perasaan kamu sama dengan yang aku harapkan."


"Sekarang katakan kalau kamu mencintaiku?"


"Tidak mau."


"Katakan!"


"Tidak mau, Mas Arthur."


"Kenapa? Apa karena kamu masih mencintai Elang?"


"Aku tidak mungkin mencintai calon suami dari sahabatku sendiri."


"Apa? Maksud kamu apa, Kiara?"


"Kamu tidak tau apa yang terjadi waktu di pesta ulang tahun Mega?"


Arthur menggeleng pelan. "Kamu tidak tau jika Elang dan Mega sudah dijodohkan oleh mama kamu dan mamanya Elang?"


"Apa? Kamu serius?" Elang benar-benar terkejut. Dia kemudian beranjak dari tubuh Kiara dan Kiara pun ikut bangun.


"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mamaku tidak mengatakan apapun tentang perjodohan mereka."


"Sepertinya mereka mendadak melakukan perjodohan itu. Mega juga tampaknya tidak mengetahui hal itu."


"Oh God! Mama benar-benar melakukan hal di luar batas. Dia apa tidak memikirkan tentang perasaan Mega dan kamu yang ada di sana waktu itu?"