
Elang masih berdiri di tempatnya dengan Karin. Gadis itu melihat ke arah Elang yang masih menatap Kiara dan Arthur.
"Apa itu wanita yang kamu ceritakan?"
"Iya, dia wanita itu dan suaminya adalah orang yang sudah merenggut kesuciannya. Andai kejadian itu tidak terjadi, Kiara pasti sudah menikah denganku. Coba saja Kiara jujur padaku waktu itu, aku akan tetap menerima keadaannya karena aku sangat mencintainya."
"Oleh karena itu kamu mau balas dendam pada adik pria yang sudah merenggut kehormatan kekasihmu?"
"Iya karena adik dari pria itu lah yang sudah membuat rencana semua itu. Aku akan membuat Mega menangis darah begitupun dengan Arthur. Kiara akan aku dapatkan kembali dan kamu akan membantuku." Elang melihat pada Karin.
Kiara berada di dalam kamar menemani Mega. Mega tampak cemas menunggu seseorang menyusulnya ke kamar dan mengatakan jika dirinya dan Elang sudah sah menjadi suami Istri.
"Kenapa lama sekali? Kiara, apa kamu bisa mencari tau kenapa masih belum selesai acara ijab qobul yang dilakukan Elang?" Mega melihat pada Kiara yang sepertinya tidak mendengarkan apa yang Mega katakan.
"Bagaimana ini?" ucap Kiara lirih.
Mega melihat aneh pada Kiara. "Kiara, kamu kenapa?" Mega menepuk pundak Kiara yang membuat wanita itu tampak terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Ada apa, Mega?"
"Kamu sedang melamun apa sampai aku ajak bicara tidak mendengarkan?"
"A-aku tidak melamun apa-apa." Kiara berbohong pada sahabatnya itu. Dia sebenarnya dari tadi memikirkan bagaimana nasib Karin kalau Elang jadi menikah dengan Mega? Tapi Kiara juga memikirkan bagaimana hancurnya Mega kalau Elang meninggalkannya di hari pernikahan?
"Kiara, kamu jangan bilang jika hari pernikahanku ini menganggu kamu."
"Maksud kamu?"
"Kamu belum rela jika Elang menikah denganku?"
Kiara tampak kaget apa yang baru saja Mega katakan. "Siapa yang tidak rela? Mega, aku malah orang yang sangat senang sekali karena kamu bisa menikah dengan Elang."
"Kamu tidak bohong, kan, Kiara?"
"Sama sekali aku tidak berbohong, Mega. Nama Elang sama sekali sudah tidak ada di dalam hatiku. Aku sangat mencintai suamiku."
"Maaf, Kiara. Memang aku ini sangat bodoh dan tidak seharusnya curiga sama kamu, tapi jujur aku selalu masih dibayangi rasa ketakutan akan Elang yang tidak benar-benar mencintaiku. Aku berharap segera menikah dengannya dan dengan begitu aku yakin Elang menjadi milikku seutuhnya."
Tidak lama terdengar suara pintu dibuka dan tampak wajah bahagia dari sang mama yang segera masuk memeluk Mega.
"Kamu dan Elang sudah sah menjadi suami istri, Sayang."
"Serius, Ma?" Mega terlihat sangat bahagia.
Kiara yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum dipaksakan.
Di dalam hati Kiara dia tidak menyangka jika Elang akan mengambil keputusan seperti ini, tapi Kiara juga tidak bisa menyalahkan Elang.
"Ma, ayo kita turun sekarang, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suamiku!" seru Mega senang.
Mega dan mamanya tidak memperdulikan Kiara yang ada di sana. Mereka berdua segera menuju anak tangga.
Kiara yang melihat hal itu hanya bisa diam karena Kiara memaklumi jika Mega sedang sangat senang hari ini.
Mega sekarang duduk tepat di samping Elang. Senyum dari bibirnya terus terlihat. Pun dengan Elang mencoba memperlihatkan wajah bahagianya.
Setelah menanda tangani semuanya, para undangan di sana meminta mereka berciuman. Wajah Mega tampak malu, tapi Elang malah perlahan mendekatkan wajah Mega kemudian dia mencium lembut bibir Mega.
Kiara yang ada di sana tampak mencari keberadaan Karin. Kedua mata Kiara akhirnya tertuju pada sosok gadis yang berdiri di belakang kursi para tamu yang datang. Karin mengusap air matanya di sana.
"Mas, kenapa aku malah kepikiran melihat Karin?"
"Mau bagaimana lagi karena semua ini sudah keputusan Elang."
Kiara kembali melihat ke arah Karin yang sekarang berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Kiara tau pasti sekarang hati Karin sangat hancur.
Mega terlihat tersenyum melihat wajah suaminya setelah ciuman mereka terlepas.
"Aku sangat mencintaimu, Suamiku," ucap Mega lembut.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mega. Aku akan membahagiakan kamu."
Mega tidak tau jika bukan kebahagiaan yang nanti Elang berikan, tapi malah mimpi buruk yang tidak akan Mega bayangkan.