Be Mine

Be Mine
Hari Pertunangan Mega part 1



Kiara melihat suaminya yang sedang bersiap-siap memakai kemeja lengkap dan suitnya. Malam ini adalah malam di mana adiknya Arthur akan bertunangan.


"Sayang, kamu kenapa belum bersiap?"


"Mas, sepertinya kamu datang sendiri saja ke sana karena aku kurang enak badan. Aku mau istirahat saja sendiri di sini." Kiara malah duduk bersandar di atas tempat tidur dengan kedua kaki diluruskan ke depan.


Arthur berjalan menghampiri istrinya itu dan memeriksa dahi Kiara. "Kamu tidak demam, apa mau ke klinik Tante Maura supaya bisa memeriksamu?"


Gelengan kepala pelan dari Kiara membuat Arthur sedikit menghela napasnya. "Kamu itu selalu begitu. Jangan keras kepala, Kiara."


"Mas, aku hanya butuh istirahat saja. Kamu datang sendiri saja ke acara pertunangan Mega."


"Kalau begitu aku tidak mau datang ke acara pertunangan Mega. Aku akan menemani kamu saja di sini karena Bibi Yaya sudah pulang dan aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian."


Kiara tampak bingung. Kalau suaminya tidak datang ke acara penting adiknya itu, bisa-bisa dia disalahkan oleh Mama mertuanya, dan terlebih Mega akan semakin membencinya, tapi Kiara juga tidak bisa datang ke sana karena ancaman yang mama mertuanya tadi katakan.


"Mas, kamu datang saja, kalau kamu tidak datang, nanti Mega dan mama kamu akan semakin menyalahkan aku."


Arthur duduk pada tepi ranjang dan membuat istrinya bersandar pada dadanya. "Aku nanti akan meminta maaf jika mereka padaku, tapi aku benar-benar tidak akan mau meninggalkan kamu sendirian di sini, apa lagi keadaan kamu sedang tidak baik. Kiara, aku tidak mau mengulangi kesalahanku yang dulu, meskipun kamu memaksaku datang, aku tidak akan ke sana tanpa kamu."


Kiara semakin dibuat bingung kalau begini. Apa dia harus ikut hadir di sana? Dia takut nanti mama dari suaminya malah marah dan menganggap Kiara memang sengaja mencari masalah di sana. Kiara jadi serba salah kalau begini.


"Aku akan menghubungi ayah dan mengatakan jika aku tidak bisa hadir denganku di sana."


"Mas, jangan! A-aku akan ikut kamu datang ke acara pertunangan Mega. Kalau begitu aku akan berganti baju dulu."


"Kamu serius mau datang? Katanya kamu kurang enak badan? Kalau tidak bisa datang, aku akan menghubungi ayah saja agar tidak menunggu kedatangan kita."


"Aku sudah mendingan dan aku akan ikut kamu datang ke sana." Kiara beranjak dari tubuh suaminya dan dia masuk ke dalam walk in closet untuk berganti baju.


Arthur yang berdiri di dekat tempat tidur tampak menatap datar. Dia kemudian mengambil ponsel Kiara dan melihat sesuatu di sana.


"Kamu memang sepantasnya datang ke acara penting adik iparmu, Kiara, walaupun mamaku sudah mengancam kamu untuk tidak hadir di sana, tapi kamu harus datang ke sana."


Arthur ternyata tau jika mamanya baru saja menghubungi Kiara saat dia tadi tidak sengaja melihat ponsel istrinya yang dalam keadaan mati. Arthur sekarang mulai lebih protektif pada Kiara.


Beberapa menit kemudian Kiara keluar dari dalam walk in closet dengan make up minimalis, tapi entah kenapa dia terlihat sangat cantik?


"Mas, kita berangkat sekarang."


Arthur tampak tersenyum dan perlahan berjalan mendekat pada Kiara. Tangannya mengusap lembut pipi wanita yang sedang mengandung anaknya itu.


"Istriku cantik sekali. Apa aku boleh merusak make upmu sedikit?"


"Jangan merusaknya, aku malas berdandan lagi, apa lagi kita nanti bisa terlambat." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Terima kasih sudah memperbolehkan."


"Mas! Siapa yang memperbolehkan?" Kiara tersenyum senang dan dengan cepat Arthur mendaratkan ciumannya pada bibi Kiara. Pun Kiara membalasnya dengan menikmati ciuman Arthur.


"Sudah, Mas! Kita berangkat sekarang saja." Kiara mengusap bibir suaminya.


"Sayang saja kamu sedang hamil, kalau tidak kita nanti saja berangkat ke acaranya Mega."


"Nanti kalau kita pergi untuk cek keadaan kandungan kamu lagi, aku mau berkonsultasi dengan Tante Maura tentang cara bercinta yang aman saat istri sedang mengandung."


Kiara hanya bisa mangap kaget mendengar apa yang suaminya katakan. "Ih! Mas, jangan membuat malu aku dengan bertanya hal itu pada Tante Maura."


"Siapa yang membuat malu? Pertanyaan itu wajar jika aku tanyakan pada dokter Maura, Sayang. Apa kamu tidak kasihan padaku?" Sekarang wajah Arthur yang terlihat seperti bocah kecil yang merajuk.


"Ya ampun! Kenapa sekarang wajah Mas Arthur yang terlihat menggemaskan begitu? Iya-iya nanti kita konsultasi masalah itu. Mas Arthur senang sekarang?"


Arthur mengecup pipi istrinya dan mengatakan jika dia sangat mencintai Kiara.


"Aku juga sangat mencintai, Mas."


***


Mereka sudah sampai di gedung yang terlihat Megah dan banyak sekali mobil mewah terparkir rapi di sana. Alexa tentu saja akan menggelar acara pertunangan putri kesayangannya dengan sangat meriah dan megah.


Kiara yang turun dari mobil tampak kembali cemas, dan itu terlihat dari kedua jemarinya yang ditautkan.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa, Mas, hanya saja aku merasa tidak enak sendiri karena yang datang ke sini pasti bukan orang sembarangan, apa lagi mereka pasti memiliki status sosial paling atas."


"Apa kamu sekarang mau ikut-ikutan orang-orang yang melihat dari status sosialnya?"


"Enggaklah, Mas."


"Kalau begitu kenapa kamu merasa mereka di atas dan kamu di bawah. Kata mendiang ibuku, kita sebagai manusia ini kedudukannya sama sebenarnya Kiara. Para manusia itu saja yang mengklaim diri mereka di atas dan sekitarnya di bawah."


"Iya, tapi memang kehidupan ini kan memang adanya seperti itu, Mas. Oleh karena itu sampai ada yang menghina dan dihina." Kiara ingat dia sering mendapat hinaan karena status sosialnya.


"Sayang, kamu tidak perlu minder jika masuk ke sana karena kalau dilihat dari status sosialnya. Kamu juga sepadan dengan mereka sekarang karena kamu juga salah satu keluarga Lukas."


Tangan Arthur menggandeng tangan Kiara dengan erat dan membawa Kiara berjalan masuk ke sana.


Saat memasuki ruangan utama, beberapa mata langsung tertuju pada mereka, apa lagi orang-orang yang mengenal siapa Arthur. Mereka semua saling berbisik tentang sosok wanita yang Arthur genggam tangannya dan membawanya berjalan mendekat pada keluarganya.


"Selamat malam semua," sapa Arthur ramah.


"Nak, selamat malam. Ayah senang kamu dan Kiara bisa datang ke sini." Alan memeluk putranya itu.


"Aku bersama dengan istriku juga senang bisa menghadiri acara pertunangan adikku."


Alexa tampak melihat Kiara dengan wajah seolah ingin menelan Kiara hidup-hidup, dan Kiara tau jika beberapa orang di sana tidak menyukai kedatangannya.


"Halo menantuku, maaf jika ayah belum bisa memberikan penyambutan untuk kamu dan calon cucuku."


"Tidak perlu seperti itu, Yah." Kiara membalas pelukan ayah mertuanya yang memang tulus menerimanya.


"