Be Mine

Be Mine
Peringatan Untuk Elang



Sampai acara makan bersama hampir selesai, Elang juga belum menampakkan wajahnya di sana. Mega yang dari tadi makan tidak tenang akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan hendak mencari tau di mana Elang.


"Mau ke mana, Mega?" tanya Arthur.


"Aku mau mencari Elang di kamarnya, Kak."


"Untuk apa? Biarkan dia nanti ke sini sendiri. Mungkin dia masih ada keperluan lainnya, sebaiknya kamu habiskan makanan kamu."


"Aku takut kalau Elang kenapa-napa, Kak. Panggilan aku dari tadi tidak dijawab." Mega seolah tidak mau mendengarkan kakaknya dan dia tetap berjalan pergi dari sana.


"Dia sepertinya sudah mulai memiliki perasaan sama Elang."


Sekarang pandangan Arthur kembali melihat istrinya yang tengah duduk melamun, dia bahkan tidak menghabiskan makanannya. Arthur kembali bertanya pada dirinya.


Acara di pantai sudah selesai, dan beberapa anak-anak kembali ke dalam hotel.


"Kiara, ikut denganku ke kamarku." Arthur diam-diam menggandeng tangan Kiara dan berjalan agak menjauh dari teman-teman Kiara.


Setelah di rasa semua teman Kiara tidak ada di sana. Arthur membawa Kiara naik lift menuju ke kamarnya.


Mereka berdua tidak tau jika Morgan secara tidak sengaja melihat apa yang mereka berdua lakukan. Morgan melihat Arthur naik ke lantai yang di mana dia tau jika nomor lantai itu adalah tempat Arthur menginap karena Mega pernah bilang.


"Wow! Kiara ini benar-benar penuh kejutan. Kata Mega dia akan menikah dengan kekasihnya yang bernama Max atau Radit. Ini kenapa dia malah pergi ke lantai kamar Arthur? Apa Kiara sedang bermain api juga dengan Arthur?"


Sesampai di dalam kamar Arthur bertanya sekali lagi dengan Kiara. Sebenarnya ada apa dengan Kiara, dan kenapa dia dari tadi terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu.


Namun, Kiara selalu mengatakan jika dia tidak kenapa-napa.


"Mas, aku sebaiknya kembali ke kamarku saja karena Mega pasti akan mencariku." Kiara yang berdiri saling bertatapan dengan Arthur ingin sekali menangis dan mengatakan apa yang terjadi dengannya.


Jujur saja, apa yang dilakukan oleh Elang tadi seolah membuat ingatan tentang kejadian buruk yang pernah Kiara alami bersama dengan Arthur kembali muncul. Padahal Kiara sudah bersusah payah untuk melupakan kejadian itu.


"Mas." Kiara memeluk Arthur dengan erat, dan dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak jatuh menetes.


"Kiara, jujur saja aku kesal sama kamu hari ini"


Kiara mendongak melihat pada wajah suaminya dengan wajah manjanya. "Kesal kenapa?"


Arthur terdiam sejenak melihat pada wajah istrinya. "Pertama aku kesal sama kamu karena baju yang tadi kamu pakai itu dan kedua aku benar-benar kesal sekali karena kamu seperti menyembunyikan sesuatu dariku."


Kiara kemudian terdiam dan melepaskan tangannya dari pelukan Arthur. Kiara berjalan menjauh dari Arthur dan dia duduk di atas tempat tidur.


"Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu, Mas."


"Kiara, walaupun kita menikah baru beberapa bulan, tapi apa yang aku rasakan sama kamu itu adalah perasaan yang sangat kuat."


Arthur berjalan mendekat pada istrinya, bahkan dia sampai duduk di bawah kaki Kiara. "Ara, pernikahan akan bisa berjalan dengan baik jika kita saling percaya dan jujur."


"Mas," ucap Kiara terdengar sulit. "Aku sangat mencintaimu dan sama sekali tidak ingin pernikahan kita ada masalah."


"Aku tau Kiara dan aku pun sama memiliki keinginan seperti apa yang kamu pikirkan."


"Mas, aku mau menceritakan sesuatu sama kamu, tapi aku harap kamu mau mendengarkan apa yang aku katakan dan tidak boleh marah."


"Tadi Elang menemuiku di kamarku, Mas."


"Apa?" Seketika Arthur beranjak dari tempatnya dan duduk di samping Kiara. "Apa yang dia lakukan sama kamu?"


"Aku sudah menyuruhnya pergi, tapi dia tidak mau. Elang sepertinya kecewa karena mendengar aku akan menikah dengan kekasihku. Dia bertanya kenapa aku malah memilih menikah dengan pria yang baru beberapa bulan aku kenal? Elang marah karena saat bersamanya kenapa aku seolah menjaga diriku untuk tidak mau berciuman dengannya dan dia hampir menodaiku." Kiara meneteskan air matanya.


Arthur sangat shock mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kiara.


"Mas, tapi dia tidak sampai melakukannya karena aku bisa membuat dia menjauh dariku selamanya dengan mengatakan jika aku sudah menikah denganmu dan pura-pura bilang hamil anak kamu."


"Kenapa kamu bisa menyembunyikan hal seperti ini denganku?"


"Mas, aku tidak ingin kamu ada masalah dengan Elang karena nanti pasti akan berimbas pada kedua orang tua kalian, dan Mega. Mas, Mega sudah yakin jika Elang sudah melupakan aku dan mulai belajar mencintainya."


Arthur berdiri dari tempatnya dan dia malah berjalan menuju pintu keluar kamar hotelnya. Kiara yang melihat wajah suaminya barusan merasa jika suaminya itu bakal melakukan hal yang dia takutkan.


"Mas! Mas, mau ke mana?" panggilan Kiara tidak didengar oleh Arthur.


Kiara akhirnya memilih mengejar suaminya itu. Arthur masuk ke dalam lift dan Kiara berhasil ikut masuk ke dan lift.


"Mas, kamu pasti mau menemui Elang, Kan? Mas, aku mohon jangan menimbulkan masalah di sini, apa lagi ada guru dan teman-temanku dan terutama Mega. Kalau Mega sampai mengetahui apa yang Elang lakukan padaku, dia akan shock sekali."


Arthur terdiam tidak menjawab ucapan Kiara. Saat pintu terbuka Kiara yang mencoba menahan langkah suaminya dengan memegang tangan Arthur, malah dengan Arthur tangan Kiara dilepaskan, tapi sekarang Arthur menggandeng tangan Kiara dan mengajak Kiara berjalan menuju kamar Elang.


"Mas!" Kiara benar-benar takut apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


"Jika tidak aku peringatkan dia, aku bukan suami yang bisa menjaga kehormatan istrinya."


Kiara terdiam mendengar apa yang suaminya katakan. Setelah mengatakan hal itu, Arthur yang sudah ada di depan pintu kamar Elang mengetuk pintu itu.


"Kamu? Ada apa ke sini?"


Belum selesai Elang berbicara, sebuah pukulan tepat pada wajah Elang sampai dia terjatuh di lantai.


"Mas!"


"Elang? Ada apa ini?"


Morgan tampak bingung melihat Elang sahabatnya yang tiba-tiba jatuh ke lantai dengan hidung mengeluarkan darah.


Arthur menarik kra baju Elang dan kembali memukul wajahnya.


"Hei! Jangan memukul temanku lag! Kiara ada apa ini?"


"Tanya pada teman kamu itu! Apa yang sudah dia perbuat dengan Kiara?"


"Lang, ada apa ini?" Morgan mencoba menolong Elang, tapi Elang malah menepis tangan sahabatnya itu.


"Pria tidak tau diri! Kamu yang salah dalam hal ini? Kiara itu dulu kekasihku dan kamu sudah merebutnya secara licik!"


"Aku tidak pernah merebut siapapun. Aku sudah katakan jika aku tidak pernah meminta jatuh cinta pada Kiara, tapi ternyata perasaan itu tiba-tiba datang, tapi aku tidak menyesal sama sekali bisa mencintai Kiara. Lang, aku peringatkan sekali lagi sama kamu! Kiara adalah istriku sekarang dan aku harap kamu jangan pernah berpikir untuk mendekatinya atau bahkan sampai menyentuhnya. Kamu dengar, Lang, aku bisa melenyapkan kamu dengan mudah jika kamu sampai menyentuh istriku." Tangan Arthur mendorong tubuh Elang sampai Elang terjerembab di lantai.