Be Mine

Be Mine
Temani Aku



Di dalam mobil Kiara melihat terus ke arah Arthur. Arthur yang merasa dilihati tampak tersenyum pada Kiara.


"Kenapa tersenyum seperti itu?"


"Aku sedang tebar pesona sama kamu."


Kiara melengos malas. "Kalian tadi aku lihat sangat serasi sekali menjadi sebuah keluarga. Ada anak, mami dan kamu papinya." Bibir Kiara mengerucut.


"Lebih serasi lagi kalau kamu jadi ibu dari anakku."


Kiara langsung tertunduk mendengar apa yang baru saja Arthur katakan. Dia juga sebenarnya ingin, tapi takut jika trauma yang waktu itu akan datang tiba-tiba saat dia ingin memberikan dirinya pada Arthur.


"Aku masih bisa menunggu kita menjadi sebuah keluarga yang sempurna. Kamu jangan merasa terbebani seperti itu." Tangan Arthur mengusap kepala istri kecilnya itu.


Kiara mengangkat kepalanya memandang ke arah suaminya yang terlihat menunjukan senyum yang sangat tulus.


"Terima kasih, Mas. Mas, nanti kita ke rumahmu sebentar untuk mengambil kado yang besok mau aku bawa. Jam sepuluh orang-orang di tempat tinggalku yang dulu pasti sudah tidur."


"Iya, aku akan mengantar kamu pulang."


Mobil Arthur melaju dengan agak sedikit cepat memecah jalanan yang tampak sepi malam ini.


Sesampai di depan rumah Kiara, Kiara melihat tetangga sekitar rumahnya sudah tertutup dan lampu rumahnya mati semua, ini menunjukan bahwa orang-orang sudah tidur.


Kiara segera masuk ke dalam rumah dan Arthur pun tampak menunggu di dalam mobil. Kiara memasuki kamarnya dan mencari kado yang memang sudah dia siapkan.


"Satu ini untuk Elang." Kiara memandangi kado dari Elang. "Semua sudah berlalu." Kiara memasukkan ke dalam tasnya dan saat akan keluar pintu dia melihat foto ibunya di sana. Kiara duduk dan memeluk foto ibunya dengan erat.


Kiara menangis melihat pada foto ibunya. "Terima kasih, Bu karena sudah mempersatukan aku dengan Mas Arthur. Pilihan ibu memang adalah yang terbaik, mungkin ibu sudah merasa jika Mas Arthur adalah pria yang tepat untukku." Kiara mengambil juga foto mendiang ibunya.


"Kiara?" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya tepat di belakang Kiara yang mau mengunci pintu rumahnya.


"Tante Lita." Kiara tampak terkejut dan bingung.


"Kamu ada apa malam-malam ke sini? Kamu mau tinggal lagi di sini? Sekolah kamu bukannya sudah kelulusan sama seperti anakku."


"Iya, Tante. Aku datang ke sini untuk mengambil barang-barang milikku yang nanti aku butuhkan."


"Oh ... kamu diantar siapa ke sini malam-malam begini?" Kedua mata wanita paruh baya itu celingukan mencari siapa yang datang bersama dengan Kiara.


"Aku diantar saudara ke sini, Tante. Tante, aku permisi pulang dulu."


"Kiara, tunggu!" Tangan Kiara tiba-tiba ditahan oleh Tante itu.


"Ada apa, Tante?"


"Kamu sudah tidak akan tinggal di rumah ini lagi? Kalau tidak sebaiknya kamu sewakan saja karena ada yang mencari. Kan lumayan bisa kamu gunakan uangnya untuk biaya hidup kamu, daripada kamu menyusahkan saudaramu?"


Kiara tampak berpikir sejenak. Niat Kiara rumah itu akan Kiara minta tolong Mba Tami untuk menempatinya karena dia akan tinggal selamanya dengan Arthur. Jadi, mba Tami tidak perlu kost atau menyewa rumah.


"Tidak, Tante, rumah itu nanti mau aku minta tolong Mba Tami untuk menempatinya saja."


"Ah kamu! Jangan terlalu baik. Kamu butuh uang untuk hidupmu."


"Nanti aku bisa mencarinya dengan bekerja, Tante. Tante, aku permisi dulu."


Kiara berjalan menuju mobil Arthur, dan wanita paruh baya itu agak kaget melihat Kiara masuk ke dalam mobil mewah, tapi tidak dapat melihat siapa yang bersama dengan Kiara.


"Salah satu tetanggaku, tapi dia agak usil dengan kehidupan orang lain. Makannya, tadi aku ingin cepat-cepat pergi darinya."


"Ya sudah, bicarakan saja. Kita pulang saja karena kamu besok juga harus pergi ke sekolah." Kiara mengangguk.


Di perjalanan Kiara menyanyikan sebuah lagu karena nanti di acara perpisahan sekolahnya dia diminta untuk menyumbangkan satu buah lagu.


"Apa aku boleh menghadiri acara perpisahan sekolahmu?"


Kiara seketika menghentikan nyanyiannya. "Kalau kamu datang, nanti kamu beralasan apa kalau sampai mama dan Mega bertanya?"


"Kamu lupa kalau aku kakaknya Mega?"


"Iya, tapi apa mereka tetap tidak akan curiga karena kata Mega nanti yang akan datang pada saat perpisahan sekolah hanya mama dan ayah kamu. Kamu tidak bisa hadir karena mau pergi ke luar negeri dengan Selena. Mega waktu itu bercerita padaku." Kiara melengos melihat ke arah jendela.


"Kamu masih ingat dengan apa yang Mega katakan? Waktu itu aku memang bicara seperti itu dengan Mega, saat masih bersama Selena, tapi aku sudah putus dengannya. Jadi, aku bisa datang ke wisuda adikku dan istriku."


"Sebenarnya, aku juga mengharapkan kamu bisa datang karena hanya kamu keluarga yang aku miliki. Mba Tami tidak akan bisa datang karena dia masih akan agak lama di sana untuk mempersiapkan pernikahannya."


"Aku pasti akan datang, Sayang." Kiara mengangguk perlahan dan dia menyandarkan kepalanya pada lengan tangan Arthur.


Kiara tampak sangat bahagia sekali mengetahui saat wisuda dan perpisahan sekolah dia akan ditemani oleh suami yang dia cintai.


Tidak terasa Kiara tertidur di dalam mobil. Arthur yang tidak mau membangunkan istrinya, dia memilih menggendong istrinya sampai ke kamar mereka.


Arthur membaringkan Kiara dan melepas sepatunya. Dia tidak lupa juga menyelimuti Kiara.


"Selamat malam, Araku." Arthur mengecup lembut kening istrinya dan dia memilih tidur di tempat biasa dia tidur.


Tepat tengah malam, Kiara terbangun karena merasa haus dan dia agak terkejut melihat suaminya malah tidur di sofa seperti biasanya.


Kiara beranjak dan mendekat ke arah sofa. Dia duduk berjongkok dan memandang wajah teduh dari suaminya yang sedang tidur dengan sangat nyenyak.


"Dia tidak mau tidur denganku dan ini semua adalah kesalahanku. Dia mungkin masih berpikiran aku akan teringat lagi tentang kejadian buruk itu jika dia sangat dekat denganku. Maafkan aku, Mas."


Kiara memeluk tubuh suaminya dengan erat. Arthur yang merasakan ada sesuatu yang menindihnya tampak perlahan membuka kedua matanya.


"Ara? Kamu kenapa ada di sini? Apa kamu baik-baik saja?"


Kiara menarik tubuhnya dan Arthur tampak bangkit dan duduk melihat istrinya


"Aku baik-baik saja, hanya saja aku merasa bersalah melihat kamu yang malah tidur di sini."


"Ini bukannya memang tempat tidurku?"


"Kamu mau tidur di situ terus?"


"Tidak mau, Ara, tapi aku tidak mau membuat kamu merasa ketakutan lagi seperti waktu itu?"


"Aku tidak akan takut hanya karena kita tidur bersama. Temani aku tidur di sana, Mas."


"Kamu serius?" tanya Arthur dengan wajah tidak percaya.


Kiara mengangguk beberapa kali. "Aku serius, dan aku mau kamu menemani aku tidur di sana."


"Kalau kamu tiba-tiba terbayang kejadian waktu itu bagaimana?"