Be Mine

Be Mine
Cemburu



Mega masih saja terkekeh sendiri sembari melihat ke arah meja di mana ada sekitar tiga pemuda yang seumur dengan mereka jika dilihat dari penampilannya sedang melihat ke arah Kiara.


"Ara, mereka masih melihat ke arah kamu terus. Jangan-jangan sebentar lagi mereka akan mengajak kamu kenalan."


"Aku tidak peduli. Kamu juga tidak perlu melihat ke arah mereka, Mega."


"Habisnya mereka melihat ke arah kita terus, aku juga jadi penasaran."


Seketika kedua alis Mega mengkerut karena tiba-tiba pemandangan indahnya dihalangi oleh wajah kakaknya yang secara cepat pindah duduk di depan mereka.


"Kak Arthur! Kenapa malah pindah di situ?"


"Duduk di sebelahmu rasanya panas dan tidak nyaman, makannya aku pindah di sini saja."


Mba Tami seolah tau kenapa Arthur pindah tempat duduk, tapi dia hanya bisa terkekeh pelan.


"Hem! Kak Arthur pindah tempat duduk supaya bisa berdekatan dengan Mba Tami, kan?" celetuk Mega.


"Aku itu sudah bilang kalau duduk di sebelah kamu itu panas dan tidak nyaman, dan tidak ada hubungannya dengan Tami. Sudah! Kita makan saja."


Mega malah tersenyum seolah sedang menggoda kakaknya itu. Tidak lama Kiara, izin ke kamar mandi sebentar.


Kiara tampak berdiri di depan kaca besar yang terdapat beberapa wastafel. Dia benar-benar merasa kacau sekali, apa lagi saat tadi melihat wajah Elang. Kiara mengambil ponselnya dan melihat ada wallpaper dirinya bersama dengan Elang.


"Aku harus melupakan kamu, Lang, meskipun itu pasti akan sangat sulit."


Kiara mengganti gambar wallpaper ponselnya dengan gambar kartun. Dia kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan keluar.


"Hai," sapa seseorang dari arah belakang Kiara. Saat Kiara menoleh terlihat sosok pria jangkung dan memiliki kulit kuning Langsat. Pria itu tersenyum manis pada Kiara.


"Hai, kamu siapa? Apa kita kenal?" tanya Ara heran.


"Kita memang belum kenal, tapi aku ingin kenalan sama kamu. Namaku Devan." Pria itu menjulurkan tangannya pada Kiara.


Kiara tampak bingung karena dia jarang, bahkan tidak pernah berkenalan seperti ini dengan seorang pria.


"Namanya Kiara, dan dia adalah istriku," suara seseorang yang Kiara kenali sekarang tepat berada di belakang Kiara.


"Arthur?" Kedua alis Kiara mengkerut.


Arthur menatap pria di depan Kiara itu dengan datar dan dia menggandeng tangan Kiara berjalan pergi dari sana.


Pria yang tangannya masih menjulur itu hanya bisa terpaku di tempatnya.


"Arthur, lepas!" Kiara melepaskan pegangan tangan Arthur. "Kamu kenapa bilang sama dia kalau aku istrimu?"


"Bukannya kamu memang istriku? Tidak ada yang salah dengan ucapanku."


"Kenapa kamu tidak menceraikan aku saja? Kamu akan bebas dan bisa berbuat semaumu."


"Aku akan menepati janjiku pada mendiang ibumu dan lagi pula usiaku juga sudah waktunya memiliki keluarga. Jadi, aku tidak akan menceraikanmu."


"Kalau kamu memang ingin memiliki sebuah keluarga, kenapa tidak mencari istri yang mencintaimu dan kamu cintai?"


"Kiara, aku sudah pernah mengalami mencintai dan dicintai, setidaknya itu yang aku rasakan, tapi nyatanya aku dengan Selena tidak bisa menjadi sebuah keluarga. Jadi, apa salahnya mencoba memiliki keluarga denganmu?"


"Maksud kamu apa sebenarnya?"


"Apa kamu yakin jika hal yang aku lakukan terhadapmu itu tidak akan membuat kamu hamil anakku nantinya?"


"Hamil? Aku tidak mungkin hamil, Arthur!"


"Aku juga berharap memang tidak karena aku tau kamu tidak akan siap."


"Menikah denganmu pun aku belum siap, bahkan tidak ada keinginan."


"Tapi sekarang kamu sudah menjadi istriku. Kiara, setelah acara doa untuk ibumu selesai, aku akan membawa kamu tinggal di tempatkan karena aku tidak akan membiarkan kamu tinggal sendirian."


"Aku tidak mau, Arthur! Aku


"Kalau begitu aku nanti yang akan tinggal di rumahmu. Bagaimanapun juga kita ini sudah menikah, dan tidak baik kalau harus hidup terpisah."


"Apa?" Kiara mendelik di tempatnya, tapi Arthur malah berjalan santai pergi dari sana. "Argh! Dia kenapa sekarang seolah telah memiliki diriku sepenuhnya. Enak sekali dia mengatur kehidupanku."


Kiara berjalan menuju Mega dan Mba Tami yang sedang menikmati makanan. "Kiara, kamu lama sekali di kamar mandi. Eh, apa kamu tadi bertemu pria yang pakai sweater putih yang dari tadi melihatmu? Aku lihat tadi dia baru keluar dari arah toilet, tapi sayang, dia sudah pergi dari sini."


"Aku tadi disapanya, dan bahkan dia mengajak kenalan." Kiara duduk dengan santai pada kursinya.


"Apa?" Mba Tami dan Mega malah kaget berjamaah.


"Terus? Lanjutannya bagaimana? Kalian tukeran nomor telepon?" tanya Mega


"Kok kamu mau sih, Ara?" Mba Tami malah pertanyaannya seolah tidak suka Kiara memiliki kenalan pria lain.


"A-aku--?" Kiara bingung mau menjawab apa, kedua matanya melirik gantian ke arah Mba Tami dan Mega.


"Mba Tami ini bagaimana? Kenapa Kiara tidak boleh berkenalan dengan orang lain? Kalau Kiara memiliki teman dekat anggapannya, dia pasti bisa melupakan Elang, kalau Kiara tidak bisa melupakan Elang, dia pasti akan terus bersedih."


"Mereka itu barusan putus, alangkah lebih baik Kiara sendiri dulu dan lebih fokus dengan ujiannya yang sebentar lagi akan dilaksanakan."


"Em! Iya juga sih! Tapi sayang sekali, pria itu tadi tampan dan terlihat seperti anak orang kaya. Huft! Jangan deh, Kiara, nanti kayak mamanya Elang."


"Siapa juga yang mau kenalan sama dia."


"Jadi, kamu tadi menolak kenalan sama dia? Kamu bilang apa?"


"Aku tadi yang bilang kalau Kiara sudah punya pacar dan pria itu jangan mengganggunya." Arthur tiba-tiba menyambar saja di sana.


"Arthur? Hem! Tumben sekali ikut campur dengan urusan orang lain?"


Kedua manik mata indah itu menatap pada Kiara. "Kiara sekarang sebatang kara di dunia ini. Dia seumuran denganmu, jadi pantas saja aku harus menjaganya juga, apa lagi pria itu baru bertemu dengan Kiara, tapi langsung berani mengajak kenalan."


"Oh ... Jadi, kamu mau menjadi kakak bagi Kiara? Wah! Aku malah senang." Tangan Mega menggenggam tangan Kiara yang duduk di depannya. Wajah Mega pun tampak bahagia.


"Boleh saja. Kalau begitu mulai sekarang kamu bisa memanggilku Mas Arthur, Kiara." Tatapan pria itu serius ke arah Kiara.


"Apa?"


Mba Tami seketika malah menahan tawanya. "Itu benar sekali, kalau jadi adik angkat Mas Arthur harus memanggilnya Mas Arthur karena kedengarannya lebih sopan."


Kenapa hari ini seolah keadaan menjadi menyudutkan dirinya. "Kamu memang dari dulu suka sekali jika dipanggil Mas Arthur, tapi aku lebih nyaman dan suka memanggilmu Kakak."


"Aku lebih nyaman memanggil Arthur saja."


Lengan tangan Mba Tami langsung menyenggol tangan Kiara. "Itu tidak sopan sebenarnya Kiara."


Kiara berpikir ini Mba Tami kenapa sekarang seperti ibunya?