Be Mine

Be Mine
Cium Aku



Kiara ini sebenarnya malu harus menyanyi di depan Arthur. Mega ini seolah mempermalukan dirinya saja.


"Ayo menyanyi, kamu mau kita di dalam kolam terus?"


"Aku bingung mau menyanyi lagu apa?"


"Lagu apa saja, lagu yang kamu sukai."


Kiara menarik napasnya dalam, dia kemudian. menyanyikan lagu yang dia sukai dengan serius.


Arthur terperangah mendengar suara Kiara yang memang sangat merdu, bahkan Kiara menyanyikannya sembari beberapa kali melihat pada suaminya.


"Wah ...!" Mega bertepuk tangan senang dengan nyanyian Kiara. "Aku bangga memiliki sahabat sepertimu, Ara." Pelukan seorang sahabat untuk sahabatnya.


"Aku juga bangga memiliki sahabat sepertimu."


"Arthur, bagaimana suara Kiara menurutmu? Jangan bilang biasa saja, lumayan, cukup." Mega menirukan gaya bicara Arthur yang selalu datar jika ditanyai oleh adiknya itu.


"Suaranya merdu dan indah sekali seperti orangnya."


Mega melongo mendengar apa yang kakaknya katakan. Dia tidak menyangka jika Arthur akan memuji sepanjang itu.


"Kamu suka sama Kiara ya, Kak?" tanya tegas Mega.


Arthur dan Kiara seketika melihat ke arah Mega. "Kamu jangan bicara sembarangan Mega. Aku dan kakak kamu umurnya jauh beda dan pria yang usianya jauh di atasku bukan tipeku. Kakak kamu mungkin juga berpikiran seperti itu."


"Arthur sih tidak pernah memiliki tipe wanita yang dia sukai. Ya sudahlah! Sekarang giliran Arthur yang mengatakan apa yang kamu inginkan dari Kiara?


Pria pemilik manik mata yang indah itu menatap pada Kiara yang berdiri dengan rasa cemas. Dia cemas dengan apa yang diinginkan oleh Arthur.


"Cium aku, Kiara," ucapnya dengan suara tegas.


Dua gadis di sana mendelik berjamaah mendengar apa yang Arthur baru saja katakan.


"Ci-cium? Kakak! Kamu ini bicara apa?"


"Kenapa? Bukannya pemenang boleh meminta apapun pada si kalah. Aku minta Kiara menciumku."


"Jangan meminta hal yang diluar batas." Wajah Kiara tampak kesal.


"Di luar batas mananya? Apa kamu tidak pernah berciuman? Pasti pernah dengan kekasihmu dulu."


"Tidak pernah, Kak! Kiara itu pacaran secara sehat dengan Elang dulu. Mereka tidak pernah berciuman," terang Mega tanpa berpikir panjang.


"Oh ya?" Ada rasa senang yang Arthur tunjukkan saat mendengar apa yang Mega katakan. Arthur senang karena ternyata dialah pemilik ciuman pertama Kiara.


"Mega! Kenapa malah bercerita hal pribadiku pada orang lain."


"Orang lain?" Arthur seketika wajahnya berubah.


"Maksudku, kamu tidak seharusnya tau hal itu." Kiara mencoba membuat agar sikap Arthur tidak sampai menunjukkan jika dirinya dan Kiara ada hubungan.


"Maaf, aku keceplosan. Arthur sih! Kamu itu jangan meminta hal aneh seperti itu. Kalau ingin Kiara menciummu, kamu jadikan dia kekasihmu dulu."


"Kalau Kiara mau menjadi kekasihku, aku tidak akan keberatan. Pasti menyenangkan memiliki kekasih yang usianya masih sangat muda."


"Arthur! Kamu jangan membuat Kiara GR ya karena hal itu tidak mempan bagi Kiara. Kamu hari ini kesambet sepertinya, sikap kamu aneh sekali."


Mega terkekeh pelan. Kiara dan Arthur saling melempar pandangan yang terlihat sama-sama datar.


"Hei! Wah ...! Asik sekali kalian bertiga berada di dalam air pada cuaca panas begini."


"Kak Gio? Kapan kamu datangnya? Aneh sekali tiba-tiba berada di sini." Mereka bertiga mendongak melihat pada Gio yang berada di atas kolam renang.


"Kalian yang sibuk arisan, sampai tidak sadar aku datang. Apa aku boleh ikut bergabung?"


"Mega!" seru Kiara kaget.


"Oh, ****!" Arthur baru sadar jika istrinya itu memakai bikini dan dia tidak rela jika ada pria lain yang melihatnya.


Arthur segera naik ke atas permukaan tanpa naik anak tangga yang ada di kolam. Dia langsung menghampiri Gio dan membalikkan tubuh sahabatnya itu.


"Arthur, ada apa? Aku mau ikut berenang."


"Jauhkan pandangan mata kamu dari istriku, dan jangan berpikiran ikut bergabung di dalam sana."


"Memangnya kenapa? istrimu cantik sekali memakai baju renang itu." Gio malah terkekeh pelan menggoda Arthur.


"Aku habisi kamu jika berani menatap Kiara dengan baju renang itu," ancam Arthur tegas.


Gio malah tertawa dengan kerasnya. "Kamu cemburu melihat hal itu, ya?"


"Gio! Aku tidak bercanda," Arthur menekankan ucapannya dengan nada lirih sembari mengajak Gio berjalan menjauh dari sana.


"Kalian mau ke mana? Kiara kita sudahi saja berenangnya. Kita makan siang dulu, pelayanku pasti sudah menyiapkan makan siang untuk kita."


Kiara mengangguk dan memang itu dari tadi yang dia inginkan. Mega berenang menuju tepi kolam, sedangkan Kiara menunggu sampai Arthur dan Gio agak jauh dari sana sehingga dia bisa naik ke atas permukaan tanpa khawatir malu dilihat oleh dua pria di sana.


Mega yang sudah memakai handuk kimononya berjalan menuju meja yang atasnya ada minuman dan camilan.


Kiara berenang perlahan menuju tepi, tapi tiba-tiba dia merasakan kram pada kakinya. Kiara yang panik lantas berusaha berteriak pada Mega karena kakinya benar-benar sakit.


Mega yang membelakangi Kiara tidak melihat temannya itu meminta tolong dengan kedua tangan mencoba menggapai ke atas.


Suara Kiara terdengar tidak jelas karena separuh wajahnya masuk ke dalam air.


"Kiara!" Arthur segera berlari menuju arah kolam dan dengan cepat dia menceburkan dirinya ke dalam air. Mega yang terkejut segera menoleh. Gio pun berlari menuju tempat Arthur.


"Kakak, Kiara kenapa?" Mega yang dia atas permukaan kolam tampak panik.


Arthur mengangkat tubuh Kiara dan dengan cepat membawanya ke atas tepi kolam.


"Kiara bangun! Oh Tuhan! Kiara ...!" Arthur tampak sangat panik saat melihat Kiara memejamkan kedua matanya.


"Napas buatan, Arthur!" seru Gio cemas.


Arthur yang memang pria multitalenta, dia juga yang memang hobi berenang tentu mempelajari cara memberikan napas buatan. Dia dengan cepat memberikan napas buatan pada Kiara.


"Kiara, bangun," Mega sudah mau menangis saja.


Arthur dua kali meniupkan udara pada mulut Kiara dan menekan beberapa kali dada Kiara agar gadis itu sadar.


Uhuk ... uhuk


Kiara terbangun dan dengan cepat Arthur mengusap wajah Kiara. "Oh Tuhan! Syukurlah." Arthur memeluk Kiara dengan erat seolah dia takut jika hal buruk terjadi pada istri diam-diamnya itu.


"A-ada apa?" Kiara tampak bingung.


Arthur menarik tubuh Kiara dan menatap wajah gadis yang tampak pucat itu. Mega dengan cepat memberikan handuk dan Arthur memakaikan handuk kimono pada Kiara.


"Kamu tadi tenggelam, Kiara."


"Tenggelam? Kamu yang menyelamatkan aku?" Kiara mencoba mengingat hal yang terjadi dengannya.


"Iya, Kiara, Arthur tadi yang langsung masuk ke dalam air dan menyelamatkan kamu, bahkan dia juga memberi kamu napas buatan," terang Mega.


"Kamu kenapa bisa sampai tenggelam seperti itu?" tanya Arthur.


"Aku tadi merasakan kedua kakiku tiba-tiba kram dan sakit sekali. Aku tidak bisa berdiri dengan baik, aku mencoba meminta tolong, tapi Mega tidak melihatku."