
Kiara dan Arthur sudah sampai di apartemen mereka. Wajah Arthur masih terlihat marah, dan bahkan dia langsung naik ke lantai kamarnya.
Bibi Yaya yang melihat hal itu tau jika sepasang suami istri ini pasti sedang ada masalah lagi.
"Mas Arthur ini selalu cemburunya yang didahulukan, kenapa sudah dijelaskan semuanya, masih saja cemburu? Harusnya Mas Arthur itu melihat dari sisi positifnya, kalau tadi tidak ada Kiano, aku dan calon bayinya pasti sudah kenapa-napa," Kiara sampai berdialog sendiri.
"Kiara, kamu minum dulu. Kamu kenapa malah bicara sendiri?" tangan Bibi Yaya memberikan segelas air mineral pada Kiara. Wanita itu segera meneguk airnya sampai habis.
Kiara menceritakan semua yang terjadi pada Bibi Yaya. Bibi Yaya yang mendengar cerita Kiara tampak terkejut dan jadi curiga juga jika kejadian yang terjadi pada Kiara memang disengaja.
"Bibi juga menuduh Kiano? Bi, Kiano itu orang yang baik, lagi pula untuk apa Kiano ingin melukaiku? Bahkan tadi dia sangat marah pada orang yang tidak sengaja menjatuhkan pot bunga itu."
"Kamu itu selalu menganggap semua orang baik, sampai tidak bisa membedakan mana yang benaran baik dan mana yang tidak?"
"Tapi aku yakin jika Kiano tidak merencanakan hal itu. Kejadian di kampusku itu benar-benar kejadian yang terjadi apa adanya, bukan karena dibuat oleh seseorang."
"Ya sudah kalau kamu berpikiran seperti itu, tapi memang tidak ada suami yang senang jika istrinya dipeluk oleh seseorang." Bibi Yaya melirik pada Kiara sembari mengangkat kedua bahunya.
Kiara berjalan malas menuju lantai atas kamarnya, dia tau kalau hal ini bakal membuat dirinya dan Arthur kembali berdebat seperti biasanya.
Ssat membuka pintu, Kiara tidak sengaja mendengar suaminya berbicara dengan seseorang tentang menjadi bodyguard untuk istrinya mulai besok.
Kiara mengerutkan kedua alisnya mendengar hal tersebut. Dia perlahan berjalan mendekat ke arah suaminya yang membelakanginya dan masih berbicara di telepon dengan seseorang.
"Ya sudah, kalau begitu."
Arthur mematikan panggilannya. Sebelum dia menoleh, tubuhnya merasakan pelukan dari belakang. Pelukan yang sangat erat dan bahkan punggungnya merasakan ciuman yang sangat hangat.
"Jangan merayuku untuk membatalkan hal yang sudah aku putuskan. Pokoknya mulai sekarang kamu akan diawasi oleh orang suruhanku karena aku tidak mau kejadian pot bunga itu sampai terjadi lagi," ucap Arthur tegas.
Kiara tidak menyangka jika suaminya sudah tau apa yang akan dia katakan. "Memangnya aku orang penting harus diawasi oleh seorang bodyguard?" Kiara menghentak-hentakan kakinya seperti seorang anak kecil.
"Kamu orang yang sangat penting bagiku." Arthur melepaskan pelukan tangan Kiara dan membalikkan badan melihat serius pada istrinya.
"Tapi akan terasa aneh jika aku setiap hari, setiap waktu, setiap saat diawasi oleh seseorang."
"Tidak ada yang terasa aneh kalau kamu bersikap wajar saja."
"Ada, Mas!"
Arthur tidak menjawab, dia malah membuka satu persatu kancing kemeja istrinya dan tentu saja hal itu membuat Kiara yang tadinya kesal malah bingung.
"Mas mau apa?"
"Mandi."
"Kamu juga harus mandi karena tadi kamu dipeluk oleh Kiano. Aku akan menggosok tubuh kamu." Arthur menyematkan kecupan lembut pada bibi Kiara.
"Mas ini! Kenapa sekarang sangat ... sangat ... sangat ...." Kiara terdiam, tidak melanjutkan ucapannya.
"Sangat apa? Protektif? Sensitif?"
"Pokoknya lebih sangat dari menyebalkan."
"Karena aku sangat mencintaimu, dan tidak suka milikku disentuh oleh orang lain tanpa seizinku." Arthur menggendong tubuh polos Kiara dan dia membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah hari Kejadian pot bunga itu. Kiara ke manapun selalu di awasi dengan baik oleh orang suruhannya Arthur, meskipun pada awalnya dia merasa risih, tapi lama-lama Kiara mulai bisa merasa hal itu sudah tidak mengganggunya.
Kiara juga mulai perlahan menjauh dari Kiano dan dia pun mengatakan alasannya kenapa tidak bisa seperti teman dengan Kiano. Kiano pun paham akan hal itu mengingat Kiara sudah memiliki suami.
"Kiara, kamu nyaman seperti ini?" tanya Momo dan mereka berdua sedang duduk di taman saat jam istirahat.
"Nyaman? Maksud kamu?"
"Ke mana-mana diawasi sekarang, dan kamu menghindar dari Kiano, padahal Kiano sudah beberapa kali menolong kamu, dia itu benar-benar baik, Kiara."
Momo seolah mengutarakan rasa sedikit kecewanya pada Kiara yang sekarang menjauh dari Kiano, padahal Kiano pria yang tidak sepantasnya Kiara jauhi hanya karena tidak mau suaminya cemburu terus.
"Kamu pasti kesal sama aku. Minta maaf, Mo, tapi aku memang tidak bisa terlalu dekat dengan Kiano walaupun hanya berteman. Ada perasaan orang yang aku sayangi yang harus aku jaga juga. Kasihan dia, di tempat kerja atau saat dia tidak bersamaku, dia merasa was-was terus takut aku dekat dengan pria lain. Sejak aku hamil dan masuk kuliah, Mas Arthur jadi sangat posesif, dan aku harus bisa menyeimbangi apa yang dia rasakan."
Momo berpangku tangan. "Hem! Benar-benar ribet dan rumit kalau punya suami. Aku jadi benar-benar malas menikah kalau begini."
"Dasar kamu memang tidak suka ribet. Jalan cerita pernikahan seseorang itu beda-beda. Ada yang manis, pahit, asin, gurih."
"Manis asin gurih? Memangnya makanan? Dasar bumil! Makanan terus yang dibahas." Momo memutar bola matanya jengah.
"Habisnya! Kamu itu selalu aneh kalau membahas masalah pernikahan dan rumah tangga, terus nanti pertanyaan yang sering muncul kamu tanyakan dan sampai saat ini belum dapat jawaban, yaitu antara cari pacar atau tidak? Kalau dapat, langsung diajak serius atau tidak? Haduh! Mending benar kamu tidak perlu nikah dulu, habiskan waktu kamu untuk bersenang-senang saja."
Momo malah tertawa. Dia malu sendiri sebenarnya karena memang dia sering bertanya sendiri tentang hal itu dan Kiara hanya menjawab dengan deheman.
"Sudahlah jangan dibahas. Kiara, nanti, kan tidak ada kelas, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall dekat kampus dan nonton film. Ada film horor yang seram sekali."
"Nonton?" Kiara tampak berpikir sejenak.
"Iya. Ayolah, Kiara! Kita hanya nonton berdua dan aku juga tidak akan mengajak Kiano, lagi pula Kiano hari ini ada tugas untuk acara bazzar seharian di kampus, jadi suami kamu tidak perlu khawatir."
"Ya sudah, nanti aku akan bicara sama Mas Arthur, tapi kalau aku diizinin, aku tidak mau nonton film horor. Kamu lupa kalau aku sedang hamil? Kalau aku kaget dan sampai sakit lagi, bagaimana?"
"Ya Ampun! Kenapa aku sampai lupa? Minta maaf kalau begitu. Ya sudah! Sekarang saja kamu hubungi suamimu, aku akan mengambilkan tas kamu di kelas. Setelah dapat izin, kita bisa langsung pergi." Kiara mengangguk.