Be Mine

Be Mine
Bertemu Bibi Yaya



Kiara mendapat kecupan bertubi-tubi pada pipinya. Suaminya ini gemas sekali dengan sifat Kiara yang sekarang sangat sensitif sekali.


"Mas, kamu mencintaiku?"


"Oh God! Kamu itu kenapa?"


"Jawab dulu, kamu mencintaiku tidak?"


"Tentu saja aku sangat mencintaimu, apa lagi sekarang ada bayiku di dalam perut kamu. Kenapa kamu tanyakan hal itu?"


Kiara melepaskan tangan Arthur dari perutnya. Dia tiba-tiba menatap Arthur dengan wajah kesalnya. Arthur sekali lagi dibuat bingung dengan ekspresi istrinya itu.


"Kenapa wajahnya begitu?"


"Jadi, kalau tidak ada bayi dalam perutku, kamu tidak mencintaiku, Mas?"


Arthur sampai terkejut mendengar pertanyaan istrinya. Ini Kiara kenapa sebenarnya?


"Sayang, kamu cemburu dan sekarang tidak percaya padaku karena kedatangan Selena tadi?"


"Iya. Dia cinta pertama kamu, Mas, dan kamu pasti masih ada perasaan di sini." Kiara menunjuk pada dada suaminya.


"Apa kamu tidak percaya jika aku sudah benar-benar melupakan dia? Di sini hanya ada kamu." Arthur menunjuk pada dadanya.


Kiara terdiam sesaat. Kemudian dia mencari sesuatu dan ternyata Kiara sedang mencari ponsel suaminya. Arthur hanya diam membiarkan istrinya itu melakukan apa yang dia mau.


"Ini masih ada nama Selena di sini." Wajah Kiara kembali terlihat kesal.


"Tentu saja masih ada karena dia pernah menemuiku di kantor waktu itu."


"Hah! Kalian bertemu diam-diam di kantor?" Kiara memberikan dengan kasar ponsel milik Arthur pada pemiliknya. Dia kemudian duduk di atas ranjang sambil menangis.


"Huft! Dia kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?" ucap Arthur lirih. " Sayang." Arthur berjalan menghampiri istrinya dan dia duduk tepat di bawah kaki Kiara.


"Aku tidak mau bicara sama kamu, Mas."


"Dengarkan aku dulu, Sayang. Waktu itu aku pernah bercerita sama kamu."


"Kapan?" tanya Kiara ketus.


"Bekas lipstik dan bau parfum itu, dan kamu bilang kalau kamu tidak cemburu akan hal itu."


Kiara seketika terdiam dan wajahnya berubah. Dia baru ingat waktu itu dia yang masih belum merasakan apa itu cinta pada Arthur. "Kamu tidak bohong? Hanya saat itu saja kalian bertemu?"


"Tentu saja aku tidak bohong. Kiara, kamu dan bayi kita sekaranglah tujuan hidupku, dan aku tidak menyalahkan kamu jika sekarang sikap kamu seperti ini karena mungkin ini bawaan bayi kamu."


"Mas sok tau."


"Tentu saja aku tau karena bibi Yaya yang memberitahuku dan dia bilang aku harus bersabar menghadapi mood istriku yang sedang hamil."


"Bibi Yaya? Oh ... bibi yang pernah kamu ceritakan waktu itu, Mas?" Arthur mengangguk.


Arthur berdiri dari tempatnya dan dia menggendong Kiara. Arthur membawa Kiara turun menuju ke ruang makan.


"Aku ingin mengajak kamu makan malam karena dari tadi perut kamu tidak terisi makanan, nanti yang ada kamu dan bayi kita sakit."


"Makan? Tapi perutku sedang tidak ingin makan, Mas."


"Kalau begitu minum susu untuk ibu hamil saja."


"Susu? Memangnya ada susu untuk ibu hamil di sini?"


"Aku sudah membelikannya dan kamu harus mencobanya."


"Kamu membelikan aku susu untuk ibu hamil?"


"Tentu saja karena aku mau kamu dan bayi kita tumbuh sehat."


Kiara tersenyum senang dan dia dengan cepat mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Arthur. "Aku mencintaimu, Mas."


"Aku kan cemburu, Mas. Cemburu itu, kan tanda cinta."


"Iya, aku senang kamu cemburu padaku."


"Aku kan memang cinta sama kamu." Kiara kembali mencium bibir suaminya tanpa dia lepaskan.


"Selamat malam, Nyonya Arthur," sapa seseorang yang dari tadi ada di ruang makan.


Kiara yang tidak tau jika di sana ada orang lain seketika melepaskan ciumannya.


"Mas, dia siapa? Kenapa tidak bilang ada orang lain di sini?" Kiara wajahnya tampak malu.


Wanita paruh baya yang tak lain adalah bibi Yaya itu tersenyum kecil pada Kiara. "Tidak perlu malu, Nyonya Muda Kiara."


"Kenapa harus malu? Kamu itu mencium suamimu sendiri."


"Meskipun suamiku sendiri, tapi tidak di depan orang seperti ini, Mas." Kiara perlahan turun dari gendongan Arthur.


"Dia bukan orang lain, Kiara. Dia sudah seperti ibuku sendiri. Bi, ini Kiara istriku yang pernah aku ceritakan waktu itu sama Bibi."


"Jadi, ini Bibi Yaya itu, Mas?" Wajah Kiara tampak senang.


"Iya, Nyonya Muda Kiara, saya bibi Yaya yang dulu ikut bekerja di rumah mendiang ibunya Tuan Muda Arthur."


Kiara berjalan mendekat dan langsung memberi pelukan pada wanita paruh baya itu. "Kiara senang bisa bertemu dengan Bibi Yaya."


Bibi Yaya melihat pada Arthur dan dia tersenyum sembari membalas pelukan Kiara. "Bibi juga senang akhirnya bisa bertemu denganmu Nyonya Muda Kiara."


Kiara melepaskan pelukannya dan menatap wanita itu dengan lekat. "Aku senang bertemu dengan Bibi, tapi aku tidak senang saat Bibi memanggilku dengan sebutan Nyonya Muda." Kiara mengerucutkan bibirnya.


"Bibi memanggilmu seperti itu karena kamu istri dari Tuan Muda Arthur."


"Mas suka ya dipanggil Tuan Muda ... Tuan Muda begitu sama orang yang sudah Mas anggap ibu Mas Sendiri?"


"Tidak suka, tapi kadang Bibi Yaya suka memanggilku begitu."


"Mulai sekarang jangan panggil aku Nyonya Muda lagi, ya Bi! Panggil saja aku Kiara, dan jangan memakai kata-kata saya karena terlalu formal kedengarannya."


Bibi Yaya melihat pada Arthur dan Arthur mengangguk pelan sebagai tanda agar mengikuti saja apa yang istrinya inginkan.


"Baiklah, Nyonya Kiara."


"Bibi!"


"Iya, Kiara." Bibi Yaya dan Kiara saling melempar senyuman.


"Sayang, Bibi Yaya akan bekerja di sini untuk mengurus segala keperluan kamu nantinya. Jadi, kamu tidak akan kesepian saat aku berada di kantor."


"Apa? Bibi bekerja di sini? Apa kamu tidak salah, Mas?"


"Maksud kamu?"


"Mas, apartemen kamu ini luasnya hampir sama dengan lapangan sepak bola. Aku saja capek yang membersihkan ruangan di sini, makannya aku cicil pelan-pelan membersihkannya. Sekarang malah kamu menyuruh Bibi Yaya bekerja. Mas, Bibi Yaya usianya sudah tidak muda lagi, apa tidak kasihan?"


Arthur dan Bibi Yaya malah terkekeh mendengar ucapan polos Kiara.


"Kiara, kamu tidak perlu khawatir tentang bibi. Ini sudah tugas bibi dari dulu dan bibi tidak pernah mengeluh karena sudah terbiasa," terang Bibi Yaya.


"Ara, aku juga tidak akan sekejam majikan yang seperti kamu pikirkan, dan Bibi Yaya sudah tau akan hal itu."


"Sekarang, kamu makan dulu karena kata Arthur kamu dari tadi tidak kemasukan apapun perutnya. Kasihan nanti bayi kamu."


"Tapi aku sedang tidak ingin makan, Bi. Kalau kemasukan makanan sedikit saja aku sudah mau memuntahkannya."


"Mau coba sup buatan bibi? Ini waktu mendiang ibunya Arthur mengandung suami kamu, dia sangat suka makan sup buatan bibi."


"Cobalah sedikit, siapa tau bayi kita menyukainya."