
Gio wajahnya tampak kesal saat tau jika sahabtanya itu menyuruhnya datang menemuinya hanya karena ingin Gio membantu membelikan buah durian. Gio mengira ada hal yang penting saat mendengar ucapan Arthur.
"Gio, nanti kamu masukkan ke dalam mobilku, dan kamu yang membawa naik ke lantai apartemenku."
Gio berkacak pinggang mendengar perintah Arthur. "Sebenarnya Kiara itu istrinya siapa, sih? Kenapa jadi aku yang repot?"
"Kiara itu istriku dan dia sedang mengidam, tapi mengidamnya benar-benar membuatku pusing."
"Bukannya kamu yang menginginkan Kiara hamil? Sekarang dia hamil, tapi kamu malah seolah kesal saat dia mengidam."
"Kalau mengidam lainnya pasti aku akan menurutinya dengan senang hati, tapi ini dia ingin makan durian dan kamu tau sendiri aku sangat tidak suka dengan baunya."
"Bro!" Tangan Gio menepuk pundak Arthur. "Kamu itu sebagai suami dan calon ayah yang sangat baik, mau tidak mau harus berkorban. Ini hanya baunya! Kamu sudah takut." Gio menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hei! Sikap kamu jangan seperti itu, aku mau berkorban untuk istri dan anakku."
"Kalau begitu beli sendiri dan bawa pulang sendiri. Berikan pada istrimu, aku yakin dia pasti akan lebih bangga dan bahagia memiliki suami sepertimu."
"Jadi, kamu tidak mau membantu?"
"Tidak mau! Berkorbanlah sedikit untuk istrimu."
"Huft! Kenapa Kiara mengidamnya harus membuat pusing seperti ini?" Arthur tampak bingung.
Gio yang ada di sana tampak menahan tawanya. "Bayimu pasti tau cara agar diperhatikan oleh ayahnya. Makannya, dia minta hal yang ayahnya pasti bingung menurutinya. Dia masih di dalam perut saja sudah membuat pusing ayahnya. Dia memang anak kamu, Arthur." Gio dengan tangan bersidekap berjalan perlahan menuju pintu kekuar
"Gio, kamu mau ke mana?" panggil Arthur agak berteriak.
"Menunggumu di mobil."
"Kalau kamu tidak mau membantu, aku akan batalkan kerja sama kita."
"Aku juga bisa bilang pada Kiara, kalau kamu tidak mau berkorban membawa sendiri buah durian itu." Gio yang sudah sampai pintu toko berbalik dan memberikan smirk pada Arthur.
Wajah Arthur ditekuk kesal seketika. Dia lebih takut jika Gio berbicara hal yang pastinya bisa langsung membuat Kiara marah dan ngambek, apa lagi Kiara sekarang lagi sensitif-sensitifnya.
Gio berdiri di depan mobil Arthur menunggu sahabatnya itu keluar dari toko buah. Dia ingin melihat bagaiman Arthur dalam membawa buah durian itu.
Arthur berjalan keluar dengan santainya. Aura angkuh plus dingin itu tampak terlihat jelas dari wajah Arthur.
"Oh ****! Dia menggunakan uangnya."
Di samping Arthur ada seseorang yang sedang membawakan kotak besar berwarna hitam, dan Gio tau jika itu kotak isinya durian ukuran besar yang Arthur beli.
"Masukan ke dalam bagasi dan ini uang untuk kamu." Arthur memberikan uang pada pegawai toko buah itu setelah memasukkan kotak berisi buah durian itu ke dalam bagasi.
"Dasar!"
"Oh, ya! Apa kamu yakin jika baunya tidak akan tercium sampai keluar? Kamu sudah membungkusnya dengan baik, kan?"
"Baunya masih bisa tercium, tapi sedikit karena bagaimanapun juga durian yang Anda beli adalah yang kualitasnya sangat baik."
"Ya sudahlah! Terima kasih."
Arthur menutup pintu bagasi mobilnya dan dia pergi dari sana. "Arthur, kamu turunkan aku saja di seberang jalan dan aku akan naik motor online untuk pergi ke rumah sakit menemui Elena."
"Nanti saja kamu menemui Elenanya. Kamu temani aku dulu ke apartemenku karena kamu bisa membantuku membawakan kotak itu."
"Ayolah! Kamu hanya membawakan sampai di depan pintu apartemenku dan nanti sisanya aku yang meneruskan."
"Kamu saja yang membawa dan aku nanti akan menyemangatimu."
"Menyemangati? Aku tidak butuh semangat dari kamu."
"Huft! Kiara yang mengidam kenapa aku yang jadi ikutan susah?"
"Kamu tenang saja, nanti kalau Elena mengidam hal yang sulit, kamu bisa mengatakannya padaku dan aku akan dengan senang hati menolongnya."
"Aku tidak mungkin minta bantuan kamu karena Elena mengidam ingin bercinta terus denganku."
"Apa?" Arthur sangat terkejut mendengar hal itu.
"Iya, entah kenapa aoa sejak dia hamil, dia ingin terus bercinta denganku, dan tentu saja aku tidak keberatan. Mengidamnya aneh, tapi aku menyukainya." Sekali lagi Gio terseyum seolah dia pamer pada Arthur.
Arthur tampak terdiam sejenak. Dia agak bingung dengan masalah ibu hamil ini. "Gio, bukannya wanita hamil dikehamilan trimester pertama kalau bisa jangan sering bercinta?"
"Itu memang benar, tapi Elena seorang dokter dan dia pun sudah berkonsultasi dengan temannya yang menangani dia. Arthur, kondisi setiap orang itu berbeda, dan kalau dokternya Kiara memberi saran agar tidak dulu melakukan hubungan suami istri, kamu sebaiknya menurutinya saja karena dia yang lebih tau semuanya."
"Iya, aku tau itu. Apapun demi kebaikan Kiara dan bayiku pasti akan aku lakukan."
Mobil Arthur sampai di parkiran apartemennya. Arthur memberikan kotak itu pada Gio. Gio yang sebenarnya ingin agar Arthur yang membawanya sekaligus mengerjainnya mendadak tidak jadi karena melihat kasihan pada wajah temannya yang terlihat benar-benar tidak menyukai bau durian.
Sesampai di depan pintu apartemennya. Gio segera memberikan kotak itu pada Arthur. "Baunya tidak terlalu tercium."
"Lantas, kenapa tadi kamu berikan padaku? Apalagi kotaknya berat, membuat sakit pada tanganku saja," omel Gio.
"Nanti aku kirimkan tiket agar kamu dan Elena bisa berbulan madu ke tempat yang romantis. Semua biaya aku yang menanggungnya."
"Aku bisa membelinya sendiri," jawab Gio dengan nada kesal, tapi Arthur malah terlihat senang.
Pintu dibuka oleh Kiara karena istri Arthur itu tau jika yang datang adalah suaminya yang dari tadi ditunggu kedatangannya.
"Mas, ini apa? Aku mintanya buah durian, bukan kotak berisi gaun."
"Ini bukan kotak berisi gaun, Kiara. Ini buah durian yang kamu inginkan."
"Apa? Ini buah durian yang aku minta?" Kiara sangat terkejut melihat kotak yang berukuran besar itu. "Mas, kenapa membeli durian harus dimasukkan ke dalam kotak seperti ini? Apa lagi dikemasnya sangat cantik sampai aku kira ini gaun?"
"Tentu saja harus dikemas dengan cantik karena akan aku berikan pada istriku yang sangat cantik."
Gio yang mendengar rayuan Arthur ingin muntah saja karena sebenarnya durian itu dimasukkan dalam kotak agar tidak terlalu tercium baunya.
"Mas ini bisa saja merayunya. Terima kasih, ya Mas." Kiara memeluk suaminya dengan erat.
"Aku mencintaimu, Sayang. Sekarang kamu sudah senang, kan aku sudah menuruti keinginanmu?"
"Belum, Mas. Buah duriannya belum dibuka."
"Bi, bisa minta tolong dibuka buah duriannya supaya istriku bisa mencobanya sedikit. Kiara, hanya sedikit," Arthur menekankan ucapannya.
"Bukan Bibi yang harus membukanya, tapi kamu, Mas. Lalu, aku mau disuapi oleh jari tangan Mas Arthur." Kiara tersenyum manis. Sangat manis.