Be Mine

Be Mine
Pengakuan Elang part 1



Elang akhirnya diajak makan malam bersama dengan mereka. Alexa mengatakan jika setelah makan malam ini, Elang harus segera pulang agar bisa mempersiapkan pernikahannya besok.


"Mama Alexa tenang saja, aku besok akan datang sangat cepat di hari yang sudah lama aku tunggu."


"Kamu kenapa sih, Lang, tidak mau satu hotel saja sama aku? Kenapa malah memilih dari rumah kamu datangnya? Kalau kamu ikut menginap di sini, kan besok kamu tidak susah-susah datang ke sini."


"Kalau aku menginap di sini juga, itu artinya tidak ada tradisi di pingit. Aku malah nanti mengajak kamu ketemu terus."


"Iya, Mega, kamu itu harus mendengarkan apa yang Kakak mama katakan," terang Alexa.


"Kakak mama itu sangat ribet sekali."


"Hei! Kamu jangan bilang begitu. Ini saja kalau dia tau Elang dan kamu bertemu seperti ini, dia pasti sudah marah dan bilang kalau gak boleh bertemu sebelum hari pernikahan nanti akan mendapat hal buruk."


"Kakak Mama itu harusnya tidak mengatakan hal yang buruk seperti itu." Wajah Mega ditekuk kesal.


"Tidak apa-apa, Mega, kamu nurut saja apa yang dikatakan oleh orang yang lebih tua dari kita."


"Kamu jangan membelanya ya, Kiara. Kamu itu sahabatku bukan sih?"


"Justru karena aku sahabat kamu, makannya aku mengingatkan tentang diri kita yang harus menghormati orang yang lebih tua."


"Kamu itu tidak kenal kakaknya mamaku. Dia selalu saja membuat aturan atau memerintah seenaknya saja."


"Benar apa yang dikatakan oleh Kiara, Sayang. Kita hormati saja perintah orang yang lebih tua dan berpengalaman dari kita."


"Iya, Elang, aku juga sebenarnya mau menurut saja, tapi ini itu zaman modern. Susah pokoknya kalau berurusan sama kakaknya mamaku."


"Tapi kakaknya mama itu sayang sekali loh sama kamu, Mega. Lihat saja kado pernikahan apa yang dia sudah siapkan untuk kamu."


"Oh ya, Ma?"


"Aku jadi penasaran sekarang."


"Mega, sebaiknya kamu simpan dulu kalung pemberian Elang di kamar. Mama tidak mau kalau nanti kalung itu sampai hilang. Mama antarkan kamu." Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya dan Mega izin pada Elang untuk ke kamarnya.


Keluarga Mega menginap di hotel yang baru saja di beli oleh ayahnya Arthur karena pemilik sebelumnya akan pindah ke luar negeri, jadi ayahnya Arthur ingin meneruskan hotel itu dan nanti di sana akan ada pernikahan besar dan mewah putri keluarga Lukas.


"Mas, aku ke kamar mandi dulu ya. Kebelet," bisik Kiara pada suaminya.


"Ya sudah, aku akan mengantar kamu."


"Tidak usah, Mas. Kamu di sini saja menemani ayah. Aku bisa ke kamar mandi sendiri."


"Hati-hati ya, Sayang." Kiara mengangguk sembari tersenyum.


Di dalam lift, Mega memperhatikan kalung pemberian Elang dengan wajah bahagia. "Sepertinya Elang sudah benar-benar jatuh cinta sama aku, Ma."


"Iya, Mama melihat Elang sangat mencintaimu. Mama bisa tenang sekarang karena wanita yang tidak tau diri itu benar-benar keluar dari hati Elang. Lihat saja tadi wajahnya sangat bahagia, mama saja tidak tahan makan satu meja dengan dia, tapi karena ayah kamu yang mengundangnya, mama terpaksa harus memasang wajah bahagia."


"Mama tenang saja, nanti kalau dia tinggal di rumah kita, kita akan membuat hidupnya menderita."


Mega dan Alexa belum tau jika Arthur tidak akan membiarkan Kiara tinggal di sana sekalipun dia nanti akan membuat Alexa marah.


Kiara yang keluar dari dalam kamar mandi berjalan melewati lorong dan dia tidak sengaja mendengar seseorang sedang bicara.


"Iya, Sayang, nanti aku akan menghubungi kamu."


Kiara mendekat dan dia terkejut melihat Elang ada di sana yang tadi berbicara mesra.


"Elang, kamu bicara dengan siapa?"